Ber-LSO Ala Komunitas

Landing

Dalam berproses sebagai mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Gadjah Mada (FH UGM) Yogyakarta sekedar menuntut ilmu saja dirasa tidak cukup. Berbagai minat, hobi dan keahlian para mahasiswa memerlukan suatu wadah penyaluran dan pengembangan. Wadah tersebut di lingkungan FH UGM mewujud dalam Lembaga Otonom (LO), Lembaga Semi Otonom (LSO) dan Komunitas. Terdapat  satu LO yaitu Dema Justicia, tujuh LSO yaitu Asian Law Asian Law Student Community (ALSA), Sanggar APAKAH, Majestic 55, Badan Penerbitan Pers Mahasiswa (BPPM) Mahkamah, Keluarga Muslim Fakultas Hukum (KMFH), Keluarga Mahasiswa Katolik (KMK), dan Persatuan Mahasiswa Kristen (PMK). Kemudian terdapat juga sepuluh komunitas di lingkungan FH UGM yaitu Satria Paramartha (SPARTA), Justicia Basketball Club (JBC), Justicia Football Club (JFC), Justicia Ranger Community (JRC), CIMC, komunitas fotografi Fokus, Komunitas film Kacamata, Komunitas HTN, dan Bussiness Law Club (BLC). Untuk mengenal lebih dalam sepak terjang komunitas di Fakultas Hukum UGM,  Mahkamah mewawancarai Akbar Putra, angkatan 2011, ketua dari Justicia Basketball Club (JBC) dan Pandu Yudha Pratama ,angkatan 2010, Ex-Director Satria Paramartha (Sparta) 2012-2013. Kemudian Maharanny P Hadrianto, angkatan 2010, mantan ketua Asian Law Community (ALSA), dimana ALSA sebagai LSO termuda di FH yang terbentuk dari sebuah komunitas.

Komunitas, seperti halnya LSO, menjalankan fungsinya sebagai wadah penyaluran dan pengembangan minat dan bakat itu dengan membuat acara atau melalui aktivitas rutin sesuai karakter masing-masing komunitas.  Misalnya saja Sparta yang merupakan komunitas di bidang peradilan semu atau lebih sering dikenal Moot Court Competition (MCC) mempunyai aktivitas rutin yaitu baksos (sebelum dan setelah MCC), kegiatan keilmuan hukum contohnya membahas kasus posisi MCC, dan aktivitas utamanya sendiri yaitu mengikuti atau membuat MCC, sebanyak 2 sampai 3 kali setahun. Sementara Justicia Basketball Club (JBC) yang merupakan sebuah komunitas olahraga basket, aktivitas utamanya adalah berlatih basket dan mengharumkan nama Fakultas Hukum UGM melalui pertandingan-pertandingan basket.

Untuk berjalannya aktivitas-aktivitas sebagai suatu organisasi, di beberapa komunitas maupun LSO memiliki anggota yang terstruktur dalam organisasi tersebut dan AD/ART. Saat ini JBC memiliki anggota sebanyak 48 anggota putra dan 32 anggota putri. Dalam struktur JBC, terdapat ketua, manajer untuk putra dan manajer untuk putri. JBC memiliki AD/ART tertanggal 23 Maret 2012  Sementara Sparta saat ini memiliki anggota sebanyak 58 orang dengan struktur organisasi direktor, sekretaris, bendahara, divisi kompetisi (peradilan semu dan litbang) , divisi internal (PSDM, Legal Event, dan Dana Usaha) serta divisi eksternal (Humas-Alumni dan Multimedia). Sparta baru saja mengadakan pergantian pengurus dan pembaruan AD/ART tertanggal 15 Desember 2013.

Tak kalah dari sejumlah LSO yang ada di Fakultas Hukum UGM, komunitas-komunitas juga banyak menyumbangkan prestasi yang membanggakan bagi fakultas. Seperti contohnya Sparta yang menyabet peringkat pertama dan sapu bersih peran terbaik di lomba peradilan semu Prof Soedarto. Kemudian JBC yang menyumbangkan prestasi berupa peringkat ketiga tim basket putri pada Porsenigama, peringkat pertama tim basket putra dan putri dalam Justisia Festifal 2013, dan perempat final dalam kompetisi basket yang diadakan oleh Universitas Pancasila.

ALSA yang merupakan sebuah LSO juga memiliki karakter yang hamper senada dengan komunitas. ALSA memiliki struktur organisasi yaitu ALSA juga  rutin memperbaharui AD/ART setiap tahunnya. Kemudian menyumbangkan prestasi-prestasi seperti menduduki peringkat pertama peradilan semu di Universitas Brawijaya Malang, peringkat kedua ALSA International Moot Competition, dan berbagai prestasi lain. Yang membedakan dari sebuah komunitas adalah, ALSA dan LSO lain yang ada di FH UGM memiliki sekretariat sebagai tempat menjalankan aktivitas organisasi dan tempat berkumpul para anggotanya. Sebuah LSO juga mendapat pendanaan tetap setiap tahunnya untuk melaksanakan kegiatan-kegiatannya sementara komunitas hanya mendapat dana dari dekanat untuk event atau perlombaan besar. Kegiatan-kegiatan LSO biasanya sudah terjadwal tetap atau rutin, sementara tidak semua komunitas sudah memiliki

Hal ini yang membuat Sparta menjadi salah satu komunitas yang berjuang supaya dapat menjadi sebuah LSO. Ketiadaan sekretariat diakui menjadi sebuah kendala di beberapa komunitas termasuk Sparta. Sparta tidak memiliki satu tempat khusus untuk menyimpan berkas-berkas MCC dari perlombaan-perlombaan yang sedang maupun sudah dilaksanakan sehingga menjadi salah satu alasan mengapa tidak pernah memenangkan berkas terbaik. Berkas-berkas ini biasanya hanya dititipkan di salah satu anggota dan hilang setelah kompetisi selesai dilaksanakan. Pandu Yudha Pratama memaparkan komunitas peradilan semu  di universitas lain di Yogyakarta seperti UMY, UIN, UAD dan UII sudah menjadi sebuah LSO sementara UGM justru masih berbentuk komunitas.

Berbeda dengan Sparta, JBC belum memiliki rencana untuk menjadi sebuah LSO karena usia komunitas tersebut yang masih relatif muda. Berdiri pada tahun 2009 dan resmi menjadi sebuah komunitas pada tahun 2011. Untuk mengatasi ketiadaan sekretariat, menurut Divina Ardani, salah satu pemain dalam tim basket putri JBC, anggota JBC biasanya berkumpul dulu di pohon beringin besar depan sekretariat Dema Justicia baru kemudian menuju tempat latihan yang disepakati. JBC pernah mendapatkan dana dari dekanat ketika mengikuti kompetisi basket yang diadakan Universitas Pancasila. Untuk mengikuti kompetisi-kompetisi lain yang tidak mendapat dana dari dekanat, biasanya JBC mencari sponsor dari pihak swasta.

ALSA adalah LSO termuda yang sebelumnya merupakan bagian dari divisi Hubungan Luar (Hublu) Dema Justicia kemudian melepaskan diri menjadi sebuah komunitas. ALSA menjadi sebuah LSO pada 20 Desember 2008 lalu. Pada saat ini, struktur kepengurusan ALSA terdiri dari lima divisi, yaitu: Public Relation (PR), Law Development (Law Dev), Human Resource Development (HRD), English Division (ED), dan Funding. Untuk menjadi sebuah LSO, menurut Maharanny, adalah dengan memperjelas AD/ART dan struktur organisasi ALSA, mengaktifkan acara-acara ALSA, dan mencari dukungan dari LO dan LSO lain. Penentuan dibentuknya sebuah LSO dilakukan dalam sidang umum LO/LSO. Apabila mendapat persetujuan dari LO dan LSO yang ada di FH UGM maka LO/LSO tersebut akan membantu komunitas menghadap dekanat dalam rangka meminta keistimewaan-keistimewaan yang dimiliki sebuah LSO seperti sekretariat dan pendanaan yang tetap.

Sparta sebagai sebuah komunitas yang ingin mengubah bentuknya menjadi sebuah LSO pun melakukan kiat-kiat yang serupa dengan ALSA. Sparta pada mulanya bernama Gamaswares, merupakan bagian dari divisi Riset dan Keilmuan Hukum Dema Justisia yang sempat tidak aktif. Kemudian pada 3 Juli 2011 menjadi komunitas bernama Sparta. Sparta melakukan penguatan kedalam tubuh komunitas, mengadakan MCC Internal, juga berhasil mengadakan MCC Bulaksumur dengan pendanaan sendiri. Harapannya eksistensi Sparta dipandang sudah cukup kuat dan layak dijadikan sebuah LSO karena dapat melaksanakan Sparta juga melakukan pendekatan ke LO dan LSO terkait supaya mendapatkan dukungan yang akan membantu Sparta agar dapat dijadikan sebuah LSO.

Terakhir, Maharanny mengungkapkan apresiasinya kepada komunitas-komunitas yang ada di lingkungan Fakultas Hukum UGM karena perkembangannya yang begitu pesat dan juga sudah mampu mengadakan acara yang besar dan menarik. Oleh karena itu, sebagai warga FH UGM, kita perlu meningkatkan perhatian dan apresiasi terhadap komunitas-komunitas tersebut sebab komunitas-komunitas tersebut telah mampu membuktikan eksistensinya dengan berbagai prestasi yang membanggakan, tidak kalah dengan LO maupun LSO yang ada di FH UGM.

*

*

Top
Twitter Auto Publish Powered By : XYZScripts.com