IRONI MEREBUT SIMPATI RAKYAT

IRONI MEREBUT SIMPATI RAKYAT

Dalam pejalanan pulang dari kampus menuju ke rumah, penulis berpapasan dengan rombongan kampanye dari salah satu partai yang akhir-akhir ini tengah naik daun setelah pencapresannya. Kampanye ini nampaknya dimanfaatkan semaksimal mungkin untuk mencoba menarik massa sebanyak-banyaknya dengan berkonvoi di sekitaran area Jogja dengan kendaraan roda dua.

Namun sayangnya, kampanye ini diwarnai dengan berbagai pelanggaran lalu lintas. Seperti banyaknya pengendara yang tidak memakai helm dan banyaknya anak-anak yang ikut serta dalam kampanye tersebut. Padahal pada saat kampanye tidak dapat dipungkiri juga bahwa kendaraan yang digunakan mengeluarkan suara sangat keras.

Polisi yang ada juga hanya seakan hanya menonton dari pinggir jalan, tak mungkin juga berkutik sebab banyaknya massa yang ikut kampanye dan mungkin juga mereka berada di sana sekedar mengatur lalu lintas.

Tidak dapat dipungkiri pula bahwa sebagian besar partai yang melakukan kampanye di jalan tidak pernah ada yang bersih. Hal ini dapat terlihat dari partai-partai yang melakukan kampanye setelahnya. Pelanggaran yang hampir serupa juga dapat ditemukan dengan mudah, mulai dari anak-anak yang mengikuti kampanye sampai minimnya standar keselamatan berkendara.

Semacam ironi menyaksikan kampanye ini jika kampanye bertujuan untuk menarik simpati rakyat agar memilihnya saat Pemilu Legislatif 9 April 2014. Partai yang seharusnya memberikan pendidikan demokrasi kepada rakyat justru tidak mampu untuk mengasuh kader-kadernya. Apalagi untuk anak-anak yang “mengikuti” kampanye tersebut. Anak-anak menjadi tidak terdidik secara benar akan demokrasi yang sesungguhnya, sebab imajinasi tentang kampanye yang tertanam di kepala mereka adalah kampanye sebuah ajang untuk unjuk gigi dan diperbolehkan untuk melanggar peraturan lalu lintas.

Kampanye yang seperti ini juga malah menimbulkan opini yang negatif dari masyarakat umumnya dan pengendara khusunya, sebab para pengandara merasa terganggu mulai dari kebisingan yang ditimbulkan sampai yang menimbulkan kemacetan. Partai-partai seakan kehilangan jati dirinya ketika berada di jalan dengan tidak mengindahkan esensi dari pesta demokrasi, melainkan semata hanya untuk merebut simpati masyarakat. Pertanyaannya adalah apakah masyarakat akan bersimpati terhadap partai yang mengganggu kenyamanan dan ketertiban umum?

Selamat menyampaikan aspirasi dengan hati nurani.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Loading...