Kegilaan Seorang Jurnalis Kuyu di Negeri Antah Berantah

89 0

Judul               : Salvador.

Sutradara         : Oliver Stone.

Pemain                        :

–          James Woods (Richard Boyle).

–          James Belushi (Doctor Rock).

–          John Savage (John Cassady).

–          Cynthia Gibb (Cathy Moore).

–          Elpidia Carrillo (Maria).

–          Tony Plana (Major Max).

Tahun              : 1986.

Produksi          : Oliver Stone dan John Green

Peresensi         : Moses Ompusunggu

 

Ini adalah sebuah kisah pseudo-realistic; di awal film sudah ditegaskan bahwa karakter-karakter di dalamnya digubah berdasarkan fantasi namun didasarkan pada suatu peristiwa nyata.  Dikemas bak buku panduan sejarah yang secara akurasi menghadirkan banyak pertanyaan dan perdebatan, di sisi lain Salvador secara gamblang cukup berhasil menggambarkan situasi perang saudara yang berkembang di El Salvador pada medio 1980-1981. Beberapa tulisan yang mengulas film ini pun terbagi dalam dua cara pandang berbeda: melihat Salvador sebagai karya kontroversial yang tidak menawarkan kejelasan historis peristiwa yang sebenarnya dan Salvador sebagai buah karya yang menarik dan memperoleh kekuatan lewat alur penceritaan dramatis. The Guardian menyimpulkannya sebagai film dengan entertainment grade C dan history grade D[1]. Lain lagi dengan almarhum Roger Ebert: “Salvador is long and disjointed and tries to tell too many stories. But the heart of the movie is fascinating.”[2]

Richard Boyle, seorang jurnalis merangkap pecundang kelas kakap, ditinggal pergi sang istri dan anaknya akibat tidak tahan hidup bersama Boyle si pemabuk dan nirpenghasilan. Bersama sobat eksentriknya, Dr. Rock alias Doc, ia kemudian berkelana ke El Salvador, negara yang dulu pernah ia kunjungi untuk tugas peliputan, untuk sekedar mencari peluang kerja. Namun yang kemudian mereka temukan di sana bukan jenis kehidupan yang mengasyikkan, tetapi darah, mayat-mayat di jalan raya, penembakan membabi-buta terhadap rakyat sipil, dan kemelaratan disana-sini. Boyle menyadari bahwa negeri tersebut bukan lagi seperti El Salvador yang ada dalam ingatannya. Doc pun merongrong Boyle akan janjinya di El Salvador bahwa ia akan menemukan hidup yang santai dan tanpa perlu berpikir berat tentang uang (pada akhirnya Doc tetap “setia” bersama Boyle selama di El Salvador). Sang pewarta kuyu kemudian menemui John Cassady, juga seorang wartawan, bermaksud mencari penghidupan bagi hidupnya yang sudah kepalang rusak itu. Bersama Cassady, Boyle masuk ke dalam pusaran kenyataan di El Salvador, penuh rentetan tembakan dan kekerasan yang masif. Di tengah kebiadaban-kebiadaban itu, Boyle kembali bersua dengan Maria, semacam “cinta satu malam”-nya dari kunjungan pertamanya ke El Salvador, lalu saling jatuh cinta. Selanjutnya, cerita yang berkembang dalam Salvador berkaitan dengan dua hal tersebut; Boyle yang terjebak ke dalam intrik kekuasaan pemerintah El Salvador yang begitu menghinakan kemanusiaan dan kisah cintanya dengan Maria, beserta dua anak dan satu keponakannya yang gemar mengisap mariyuana.

Tidak salah jika kemudian menyebut film yang memperoleh nominasi Academy Award tahun 1987 untuk kategori Pemeran Utama Pria Terbaik (James Woods) dan Skenario Asli Terbaik (Oliver Stone dan Richard Boyle) ini mengandung noda besar terkait kadar keaslian unsur cerita. Richard Boyle dan Doctor Rock memang benar-benar tokoh nyata (Meski diakui sang sutradara bahwa Doc pada kehidupan aslinya tidak pernah mengunjungi El Salvador sekalipun[3]). Namun beberapa tokoh sentral dalam film namanya tidak akan pernah ditemukan di teks sejarah manapun terkait El Salvador, karena murni rekaan Oliver Stone dan Richard Boyle sebagai penulis skenario. John Cassady dan Mayor Max adalah tokoh fiktif; keabsahan kisah tentang Maria yang ikut “dibawa pulang” Boyle ke Amerika Serikat pada penghujung film juga diragukan. Namun ada sedikit pembelaan dari mereka yang terlibat di dalam pembuatan Salvador. John Savage, pemeran John Cassady, mengakui bahwa tokoh yang diperankannya diilhami oleh seorang jurnalis foto riil bernama John (lagi-lagi) Hoagland. Oliver Stone melihat Roberto D’Aubuisson (tokoh nyata dalam sejarah El Salvador sebagai pemimpin dead squads yang gemar meneror penduduk sipil El Salvador) sebagai inspirasinya dalam membikin tokoh Mayor Max. Juga pada Duta Besar Amerika Serikat untuk El Salvador, yang di dalam film bernama Tom Kelly, sedangkan di jagad aslinya adalah Robert E White.

Terlepas dari itu, Salvador jelas bukan film sampahan; ada nama Oliver Stone dan James Woods di dalamnya. Ada dialog antara Boyle dengan Kolonel Hyde, pemimpin militer AS di El Salvador, yang secara kasat mata menjadi bentuk proklamasi ketidaksukaan Oliver Stone (seorang pesakitan Perang Vietnam) terhadap kebijakan luar negeri AS yang sangat memerangi komunisme:

Boyle: I’m not a f*****g spy for you guys. Left wing, colonel? Well, maybe. But I’m not a communist; and you guys are never seen to be able to tell the difference!

Hyde: Is that a fact?

Boyle: Yeah. You know? I love my country as much as you do, that may surprise You!…You like them because they’re anti-Moscow!

Hyde: oh, that’s b******t!

Akhirnya, setidaknya pembayangan dalam film tentang El Salvador, negeri antah berantah bagi kebanyakan orang Indonesia, dalam situasi perang saudara pada dekade delapanpuluhan akan mengundang siapapun yang menontonnya untuk segera mengakses informasi sejarahnya yang paling akurat melalui stasiun terdekat alias mesin pencari di dunia maya. Juga jangan lupakah Cynthia Gibb yang wajahnya menggemaskan, sang pemeran Cathy Moore, perawat muda yang nasibnya sangat mengenaskan setelah dianiaya lalu dibunuh oleh dead squads.



[1]http://www.theguardian.com/film/2009/apr/08/salvador-oliver-stone, diakses pada 26 April 2014.

[2]http://www.rottentomatoes.com/m/salvador/, diakses pada 26 April 2014.

[3]http://sabotagetimes.com/reportage/living-el-the-making-of-salvador/, diakses pada 26 April 2014.

Total 0 Votes
0

Tell us how can we improve this post?

+ = Verify Human or Spambot ?

About The Author

No Comments on "Kegilaan Seorang Jurnalis Kuyu di Negeri Antah Berantah"

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *