Ketika Humanisme Merekam Sejarah Pesisir

Ketika Humanisme Merekam Sejarah Pesisir

Judul                           : Gadis Pantai

Penulis                         : Pramoedya Ananta Toer

Penerbit                       : Lentera Dipantara

Tebal Buku                  : 272 halaman

Waktu Terbit               : September, 2011

Peresensi                     : Sekar Banjaran Aji

 

Roman milik Pram adalah barang yang tak perlu dipertanyakan lagi kualitasnya. Jika sebelumnya anda pernah membaca tetralogi Buru maka jelas tergambar cara Pram bicara masalah Gadis Pantai ini. Pram bercerita ibarat dia merekam sejarah, begitu mengalir dan sangat penuh pergulatan perasaan. Tidak ada yang dia paksakan di sini, segala dialog bahkan narasi begitu jujur dan apa adanya. Ini mungkin yang Pram sebut dengan membangun dari berita orang lain, dari yang dapat disaksikan, dikhayalkan, dituangkan.

Dalam roman ini dikisahkan bagaimana dalam usia yang sangat muda belia, Gadis Pantai yang lahir dan dibesarkan di sebauh kampung nelayan di Kabupaten Rembang, Jawa Tengah. Dia diambil istri oleh pembesar santri setempat yang notabene orang Jawa yang bekerja untuk administrasi Belanda. Gadis Pantai hanyalah perempuan yang melayani “kebutuhan” seks semata hingga kemudian melahirkan anak perempuan. Meski pada awalnya perkawinan tersebut membawa Gadis Pantai pada prestise tertentu tapi akhirnya dia bene-benar kehilangan segalanya. Tidak punya suami, tidak ada rumah, tidak ada anak (anaknya, dirampas untuk tetap tinggal bersama suaminya), tidak punya pekerjaan.

Ketika biasanya banyak karya memuji kearifan bangsa dan budayanya maka Pram sejatinya sedang menusuk feodalisme jawa tepat langsung di jantungnya yang paling dalam. Sejarah bahwa begitu miskinnya masyarakat pesisir hingga menganggap mulia segalanya yang penuh dengan harta. Inilah penyebab feodalisme Jawa hidup dengan subur di tanah yang begitu subur.

Roman ini merupakan sekuel pertama dari trilogi roman keluarga yang begitu humanis dan manis. Namun akhirnya roman ini tidak selesai akibat vandalisme Angkatan Darat, dan dua buku berikutnya raib ditelan keganasan kuasa pada masanya. Mungkin mereka takut roman ini nantinya membuat pembacanya berpikir tentang kontadiksi negatif feodalisme Jawa yang tidak memiliki sedikitpun rasa kemanusiaan. Mungkin juga mereka takut, tradisi aksara merekam sejarah ini nantinya akan menguak sejarah buruk yang mereka torehkan kala itu.

Namun meski karya ini tak utuh lagi, anda tidak akan menyesal membacanya sebab Gadis Pantai akan mengajari kita bagaimana sebenarnya kampung nelayan dan betapa kesenjangan sosial itu menyakitkan. Kita bisa belajar bagaimana sebenarnya budaya Jawa harus lebih manusiawi.

Penutupnya saya hanya ingin bicara bahwa Pram tidak sekedar menulis, sebab dia sebenarnya sedang menanam. Pram menanamkan sifat-sifat manusiawi pada pembacanya. Pram mengajari bagaimana seorang manusia harusnya bisa memanusiakan orang lain.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Loading...