Marsinah: The Light That Will Never Goes Out

Bme6SNaCMAEKrJh

Obor Marsinah! Nyalakan!!!

Suara rakyat! Nyaringkan!!!

Capres pelanggar HAM! Lawan!!!

Kerja aman, upah layak, bebas kekerasan seksual! Perjuangkan!!!

 

Pelataran depan Taman Ismail Marzuki (TIM), Rabu (30/4) malam, begitu pekat dengan aura perjuangan. Ratusan orang, kebanyakan perempuan, menyemut di pelataran yang sekelilingnya telah dipasangi bambu tebal sepanjang satu meter yang diberi nyala api itu. Poster maupun spanduk bernada provokatif dan berhuruf besar-besar turut “memanaskan” suasana Cikini yang masih saja terkukung dalam rutinitas Jakarta malam hari: kendaraan-kendaraan pribadi yang memadati jalan raya, kendaraan-kendaraan umum yang berbaris rapi di pinggir jalan raya, pedagang nasi goreng yang sabar menantikan munculnya pelanggan kelaparan, juga tukang ojek dengan kawan-kawannya yang menunggu pekerja kantoran berpakaian rapi dan masih wangi KRL.

Tetapi malam itu di Cikini Raya adalah malamnya buruh perempuan. Khususnya mereka yang tergabung maupun menyaksikan Pembukaan Konvoi Obor Marsinah (Koalisi Bersama Politik Kerakyatan untuk Marsinah), yang malam itu menghadirkan nyala baru bagi Cikini Raya,yang terlihat lesu dengan laju kehidupan homogen Jakarta dari malam ke malam.

 

*****

 

Obor Marsinah! Nyalakan!!!

Suara rakyat! Nyaringkan!!!

Capres pelanggar HAM! Lawan!!!

Kerja aman, upah layak, bebas kekerasan seksual! Perjuangkan!!!

 

Semangat mereka begitu mengemuka seiring dengan teriakan slogan perjuangan yang dikomandoi Zeli, sang pembawa acara. Mereka buruh perempuan, wajahnya menunjukkan keletihan karena kerja seharian tetapi gelora 1 Mei sudah menggelayuti jiwa dari setiap mereka. Tanpa kendali apapun, tanpa suruhan siapapun. Perbaikan nasib melalui pemberian upah yang layak dan jaminan kesejahteraan sosial sesuai hukum mengisi segenap pikiran mereka.

Melalui Obor Marsinah, yang konvoinya didaulat akan berlangsung selama 10 hari sampai tanggal 10 Mei 2014, mereka mengharapkan adanya kenyataan yang timbul, dengan alas harapan-harapan yang biasa mereka dengungkan pada setiap kesempatan melakukan aksi.Orasi Dian Septi Trisnanti (penggagas radio komunitas Marsinah FM) serta kata-kata Marsini (kakak kandung Marsinah) menunjukkan hal yang sama.

Juga pidato Sumiarsih, orangtua salah seorang mahasiswa korban tewas Peristiwa Semanggi I yang juga rutin “menggelar” aksi menuntut penuntasan kasus-kasus pelanggaran HAM di masa lalu setiap Kamis di depan Istana Negara maupun Kejaksaan Agung, turut menguatkan hati setiap buruh perempuan untuk tetap berani dan tegar menunjukkan hal itu.

******

 

Malam itu mereka turut memproklamasikan Marsinah sebagai simbol yang menguatkan keberlangsungan konvoi Obor Marsinah selama 10 hari dari Jakarta sampai Surabaya itu. Marsinah adalah sumber semangat mereka. Soko perjuangan yang tidak henti-henti dikobarkan para buruh perempuan di Indonesia, yang semakin melek dengan kebutuhan berorganisasi untuk melapangkan jalan menuju keadaan sejahtera yang sampai sekarang masih dalam batas cita-cita.

Jumisih, Ketua Forum Buruh Lintas Pabrik (FBLP), dalam film pendek yang diputar sebagai pembuka acara, menyampaikan bahwa konvoi Obor Marsinah setidaknya memiliki tiga tujuan. Pertama, untuk mengangkat kembali kasus Marsinah yang sudah berumur 21 tahun di tahun ini. Kedua, untuk segala hal terkait politik kerakyatan, terutama tentang isu-isu perburuhan yang dewasa ini masih dicap sensitif untuk dibicarakan. Serta ketiga, untuk mengangkat ke permukaan dan mengusut kasus-kasus kekerasan seksual yang menimpa buruh perempuan di Indonesia, termasuk Marsinah sendiri.

Sepuluh hari ke depan obor Marsinah akan terus menyala-nyala. Di hari yang kesebelas tidak ada yang tahu dan mengerti akan dibawa kemana obor Marsinah nantinya. Namun bagi buruh perempuan, tidak ada dalam benak mereka yang namanya hari kesebelas. Di hari-hari selanjutnya setelah selesainya konvoi di Surabaya kelak, obor Marsinah tetap menebarkan benderang meski harus tunduk pada kekuasaan (baca: borjuasi pemilik modal). Marsinah adalah the light that will never goes out, seperti kata The Smiths.

Related posts

*

*

Top
Twitter Auto Publish Powered By : XYZScripts.com