Mempertanyakan Angkatan Balai Pustaka sebagai Pusaka Sastra

Oleh : Moses Ompusunggu

Dalam era nirkabel yang katastrofik seperti sekarang ini, tak banyak yang tahu mengenai kiprah mereka. Rekam jejak mereka seperti hilang dimakan zaman yang cepat beralih. Siapa yang kenal Merari Siregar? Siapa pula yang pernah membaca ataupun setidaknya pernah melihat sampul muka “Salah Asuhan”? Adakah juga yang pernah mendengar nama seorang Tulis Sutan Sati?

Dalam medio 1920-1930 terdapat 13 pengarang asli Indonesia yang menelurkan karya-karya sastra melalui sebuah lembaga bernama Balai Pustaka. Nama-nama tersebut, yakni Merari Siregar, Marah Rusli, Abdul Muis, Nur Sutan Iskandar, Muhammad Kasim, Suman Hs, Adinegoro, Tulis Sutan Sati, Abas Sutan Pamuncak, Aman Datuk Majoindo, Muhamad Yamin, Rustam Effendi, dan Rivai Ali , kemudian dikenal sebagai Angkatan Balai Pustaka, dimana jenis karya sastra yang dimunculkan semuanya berbentuk novel. Bahasa yang mereka gunakan disebut dengan bahasa Melayu Tinggi, sebagai dikotomi dari bahasa Melayu Rendah/Melayu Pasar yang sebelumnya digunakan sebagai bahasa pengantar di koran-koran.
Angkatan Balai Pustaka juga menyemat sebutan sebagai pelopor sastra modern Indonesia. Ada dua ciri penting mengapa disebut demikian: karya-karya Angkatan Balai Pustaka tidak lagi mengungkapkan dunia istana, tetapi dunia orang biasa, dan; menampilkan unsur-unsur kritik sosial yang tidak pernah ditampilkan penulis hikayat. Penilaian tersebut mengemuka setelah kemunculan dua novel pertama yang diterbitkan Balai Pustaka, yaitu Azab dan Sengsara karya Merari Siregar dan Siti Nurbaya besutan Marah Rusli.
Terkait hal tersebut, Mahkamah mewawancarai Aprinus Salam, Kepala Pusat Studi Kebudayaan Universitas Gadjah Mada (PSK UGM) yang juga merupakan pengajar Sastra Indonesia di Fakultas Ilmu Budaya UGM. Ditemui di Jalan Trengguli E-9, Bulaksumur, kantor dari PSK UGM, Senin (12/5) siang, Aprinus membagikan pendapatnya kepada Mahkamah tentang kiprah Angkatan Balai Pustaka.

Apa hal penting dari kiprah Angkatan Balai Pustaka dalam sejarah sastra modern Indonesia?
Sastrawan kita (Angkatan Balai Pustaka-red) belajar menulis setelah mereka membaca novel-novel Eropa periode 1880an, sehingga memberikan teknik baru dalam hal penceritaan, pada waktu itu loh… Pada saat itu tradisi lisan masih kuat, tradisi menulis masih sedikit dan terbatas.
Perlu diketahui, bahwa buku-buku yang dibaca sastrawan Balai Pustaka itu kebanyakan berbahasa Belanda. Waktu itu mereka mungkin mereka masih remaja dan ketika dewasa kemudian menuliskannya dalam karya sastra yang secara teknis memberikan kebaruan pada masanya. Kemudian ada pula legitimasi dari lembaga Balai Pustaka itu sendiri. Waktu itu Balai Pustaka sepenuhnya dikoordinasi oleh pemerintah Hindia Belanda.
Dalam konteks tertentu mau tidak mau karya-karya Angkatan Balai Pustaka dapat dikatakan sebagai pusaka. Walaupun bukan khas Indonesia, ya. Karena orang Indonesia secara teknis waktu itu belum memiliki teknik menulis yang baik. Di masa itu mereka masih berpantun-pantun, bermantra-mantra, sehingga peralihan tradisi lisan ke tulis dianggap terobosan pada masanya. Ingat, pada masanya.
Saya tidak menggunakan istilah pusaka sebenarnya. Tetaapi menurut saya oke-oke saja kalau karya-karya Angkatan Balai Pustaka dibilang pusaka.

Menurut Bapak apa sebenarnya makna pusaka itu sendiri?
Di balik itu (pusaka-red) yang paling penting sebenarnya bagaimana sesuatu itu diceritakan. Proses mitologisasi juga penting, dimana hal-hal itu diceritakan dan dimitoskan sekaligus sehingga mengkonstruksi kepercayaan tertentu yang membuat benda itu menjadi sakral. Penceritaan itu kemudian mengarah kepada mitologisasi.
Pemusakaan bagi saya penting untuk keseimbangan manusia dalam hidupnya, supaya dalam hidup manusia tidak melulu hal-hal yang profan, sehari-hari. Ada sesuatu yang disucikan yang kemudian mewakili nilai-nilai kesucian untuk menyeimbangkan hidup.

Sekarang ini hanya sedikit referensi yang dapat dibaca khalayak umum tentang Angkatan Balai Pustaka, apakah kemudian penting di masa kini untuk mendiskusikan kembali tentang kiprah Angkatan Balai Pustaka?
Dalam konteks historisasi perkembangan karya sastra, menurut saya penting. Supaya tidak perlu lagi orang menulis ulang hal yang sama. Jadi bisa memperbarui atau memodifikasi. Penting disini yaitu dalam hal pengalaman kesejarahan dan kesastraan seseorang. Karya-karya di masa sebelumnya kan mengkonstruksi selera dan teknis penulisan seseorang.
Pemusakaan terhadap karya Angkatan Balai Pustaka dapat dimanfaatkan untuk memperbarui hal-hal atau nilai-nilai baru. Walaupun saya tidak setuju sebenarnya kalau di dalamnya ada hal yang disebut pemujaan dan sebagainya. Kalau dianggap sebagai hal yang berharga saya setuju. Karya-karya sastra sekarang juga bagus-bagus, kok. Tetapi ya memang konteksnya untuk hari ini. Karya sastra zaman sekarang di masa depan bisa saja dianggap biasa-biasa saja.

Mengapa Angkatan Balai Pustaka bisa dan paham menggunakan bahasa Melayu Tinggi di dalam karya-karyanya?
Mereka relatif lebih terpelajar. Ya mereka memang lebih terdidik dari masyarakat saat itu. Ditambah mereka sebagian besar memang berlatar belakang sebagai wartawan. Secara teknis mereka jadi terlatih untuk menulis.

Sumber Bacaan :
Eneste dalam Atmazaki, dkk., Obsesi Pengarang Periode Balai Pustaka (Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa, Jakarta: 1998), hlm. 1.
Junus dalam Ibid., hlm. 2.

Related posts

2 Comments

  1. M Ridwan Adi P said:

    Saya tertarik dengan tulisan anda mengenai sastra, menurut saya studi mengenai sastra merupakan ilmu yang
    menarik juga banyak hal yang bisa dipelajari di dalam pembelajaran bahasa.
    Saya juga mempunyai tulisan yang sejenis mengenai beberapa sastra
    yang bisa anda kunjungi di Dunia Sastra

*

*

Top
Twitter Auto Publish Powered By : XYZScripts.com