MENILIK NASIONALISME DI TERAS PERBATASAN

149 0

Screening Movie BPPM Mahkmah: Tanah Surga..Katanya
“Apapun yang terjadi, jangan kau kehilangan cinta akan negeri ini”
-Hasyim, Tanah Surga..Katanya-

Mempertanyakan nasionalisme tak melulu dengan diskusi serius, seminar atau sesuatu yang berbau pemikiran yang berat. Mahkamah mencoba menilik konsep nasionalisme di perbatasan dengan menonton film “Tanah Surga..Katanya” pada Selasa, 2 September 2014 lalu di Gedung IV Ruang 4.3.6 Fakultas Hukum Universitas Gadjah Mada (FH UGM). Film yang disutradarai oleh Herwin Novianto ini dibintangi oleh Osa Aji Santosa, Ringgo Agus Rahman, Norman Akyuwen, Ence Bagus, Deddy Mizwar, dan masih banyak yang lain. Tanah Surga..Katanya pernah menyabet penghargaan sebagai film terbaik dalam Festival Film Indonesia di tahun 2012 dengan lima nominasi yaitu pemeran pendukung terbaik, artistik terbaik, penata musik terbaik, penulis ceritaasli terbaik, dan sutradara terbaik.
Tanah Surga..Katanya bercerita tentang sebuah keluarga yang dihimpit masalah ekonomi. Keluarga yang terdiri dari dua orang anak, seorang ayah, dan seorang kakek ini berjuang untuk hidup di perbatasan Malaysia dengan Kalimantan. Haris, sang ayah yang diperankan oleh Ence Bagus memilih untuk meninggalkan Indonesia dan menjadi warga negara Malaysia untuk memperoleh penghidupan yang lebih layak. Sang ayah bahkan telah menikahi seorang warga Malaysia dan berencana untuk memboyong keluarganya ke Malaysia. Namun Hasyim sang kakek, seorang mantan pejuang sukarelawan Konfrontasi Malaysia 1965 yang diperankan oleh Fuad Idris, aktor kawakan di dunia perfilman Indonesia, menolak mentah-mentah permintaan putranya tersebut. Baginya, dia berjuang bukan untuk pemerintah seperti anggapan anaknya selama ini, melainkan dia berjuang untuk bangsanya sendiri.
Banyak kisah mengaharukan yang seakan membangunkan kita untuk kembali mempertanyakan nasionalisme kita terhadap bangsa sendiri. Seperti salah satu adegan menebus bendera merah putih yang dipakai untuk berjualan. Atau pada bagian ketika sang Kakek meninggalkan pesan yang begitu mendalam untuk senantiasa mencintai bangsanya.
Dalam diskusi yang diadakan setelah mentonton film tersebut, semua mengamini bahwa film tersebut mencoba mempertanyakan kembali rasa nasionalisme kita. Salah seorang peserta screening movie, Agung Nugroho (FH UGM 2013), mengutarakan bahwasanya rasa cinta terhadap tanah air sering kali tertutupi oleh permasalahan yang menghimpit kehidupan seperti masalah ekonomi terutama di daerah perbatasan. Dalam film tersebut digambarkan bahwa kehidupan orang-orang Indonesia “lebih dekat” dengan negara tetangga. Seperti penggunaan mata uang ringgit, dan murid-murid yang tidak mengenal lagu serta bendera kebangsaan Indonesia.
Ketika para peserta screening movie ditanya mengenai solusi atas masalah klasik daerah perbatasan, muncul beberapa alternatif yang diusulkan oleh para peserta, antara lain pendidikan, alutsista dan dan ekonomi. Jatmiko Wirawan (FH UGM 2013), mengutarakan pendapatnya bahwa yang harus diutamakan di wilayah perbatasan adalah dari segi alutsistanya. Menurutnya, militer harus menjadi agent of change dan menjaga pola pikir masyarakat dengan menanamkan nasionalisme. Alutsista menurutnya dapat menjadi langkah awal penanaman nilai nasionalisme sehingga masyarakat daerah perbatasan tidak begitusaja melenggang ke negeri seberang.
Berbeda dengan Miko, menurut Dita (FH UGM 2014) sebaiknya perbaikan lebih dititik beratkan pada pembangunan ekonomi. Sebab akar permasalahan dari semuanya adalah himpitan ekonomi yang memaksa mereka untuk menanggalkan identitas sebagai bangsa Indonesia, seperti yang terdapat dalam film tersebut. Andaikata pembangunan ekonomi di daerah perbatasan tidak lambat dan merata di seluruh daerah, tidak akan ada yang berpindah kewarganegaraan untuk memperoleh sesuap nasi. (Agnes)

TANAH SURGA
bukan lautan hanya kolam susu
katanya tapi kata kakekku hanya orang-orang kaya yang bisa minum susu
kail dan jala cukup menghidupimu
katanya tapi kata kakekku ikan-ikan kita dicuri oleh banyak negara
tiada badai tiada topan kau temui
katanya tapi kenapa ayahku tertiup angin ke malaysia
ikan dan udang menghampiri dirimu
katanya tapi kata kakek awas ada udang di balik batu
orang bilang tanah kita tanah surga
tongkat kayu dan batu jadi tanaman
katanya tapi kata dokter intel belum semua rakyatnya sejahtera
banyak pejabat yang menjual kayu dan batu
untuk membangun surganya sendiri.
Puisi di atas dibacakan oleh Salman (Osa Aji Santosa) dalam film Tanah Surga..Katanya

Total 0 Votes
0

Tell us how can we improve this post?

+ = Verify Human or Spambot ?

About The Author

No Comments on "MENILIK NASIONALISME DI TERAS PERBATASAN"

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *