Menyigi Kemanusiaan dalam Keterbatasan

Judul : Of Mice and Men

Penulis : John Steinback

Penerbit : Selasar Publishing

Tebal Buku : 150 halaman

Waktu Terbit : 2011

Peresensi : Umar Mubdi

Mereka bukan kerabat dekat, apalagi bersaudara. Namun George Milton dan Lennie Small senantiasa menjalani hidup bersama-sama. Atau lebih tepatnya, George harus memperhatikan dan mengurusi Lennie hampir sepanjang hari. Meskipun bertubuh besar dan memiliki kekuatan yang luar biasa, Lennie tak mampu berpikir layaknya orang dewasa. Ia tidak mampu menahan diri ketika emosi dan bertindak kekanak-kanakan. Ia selalu melupakan sesuatu, kecuali mimpinya bersama George untuk memiliki rumah tinggal sendiri dan peternakan yang penuh dengan kelinci-kelinci. Keterbelakangan mental yang terjadi pada Lennie kerapkali menimbulkan kondisi yang tak menguntungkan bagi keduanya, terlebih lagi pada masa depresi yang saat itu menimpa Amerika.

Pada suatu ketika, George kembali harus menyelamatkan Lennie yang nyaris diburu dan dibunuh akibat kecerobohannya. Lennie dituduh memperkosa seorang gadis setelah menyentuh gaunnya yang halus. Akhirnya, mereka melarikan diri dari kota Weed, California, menuju kota Soledad. George sangat marah apabila Lennie tak mampu mengingat dan memahami nasehat-nasehat serta perintahnya. Seringkali masalah yang dibuat Lennie, memaksanya untuk berpindah-pindah lokasi kerja dan tempat tinggal. “Aku bisa saja pergi dengan mudah dan menyenangkan seandainya kau tak membuntutiku,” demikian ucapan George yang sebenarnya tak tega meninggal Lennie sebatang kara.

Setibanya di Soledad, mereka mendapat pekerjaan di sebuah peternakan. Selang beberapa lama ketika mereka mulai bekerja, timbul sedikit ketegangan karena putra pemilik peternakan, Curley, tak senang dengan kehadiran Lennie yang bertubuh besar. Curley suka bertanding tinju demi mengatasi rasa inferior karena ia bertubuh kecil. Permasalahan lain muncul dari istri Curley, wanita muda yang memperoleh cap “nakal” dari pekerja peternakan karena kegemaraannya berkeliaran menggoda para pekerja. George yang mampu melihat berbagai macam sumber masalah, dengan keras memperingatkan Lennie agar tidak mendekati Curley maupun istrinya.

Of Mice and Men karya John Steinback merupakan novel berlatar belakang kondisi Amerika yang tengah dilanda depresi pada dekade 1930-an. Akibat depresi yang berkepanjangan, angka kemiskinan dan kejahatan di Amerika semakin meningkat. Kondisi yang demikian itu, sempat memaksa Steinback untuk melakoni pekerjaan kasar yang membuatnya bergaul akrab dengan kelas pekerja dan kelompok marjinal.

Melalui pengalamannya itulah, Steinback dengan jeli mampu mengungkapkan bagaimana seluk-beluk perjuangan orang kecil. Dia paham benar impian orang-orang yang pernah menjadi rekan-rekan sekerjanya itu. Impian memang milik setiap orang dan tak ada yang bisa memberangusnya. Semua perjuangan menyimpan pesonanya sendiri. Demikian pula impian yang dibangun oleh George dan Lennie, yang memikat orang-orang terdekatnya untuk turut serta membagi mimpinya masing-masing.

Kesepian manusia tak luput dari penjelajahan karya ini. Persahabatan George dan Lennie pun lahir dari rasa kesepian. Crooks, seorang yang diasingkan karena berkulit hitam, yang biasa mengejek Lennie, berkata, “Siapa pun bisa sinting kalau tak punya orang dekat. Tak peduli separah apa pun orangnya, asalkan ia selalu ada untukmu.”Steinback menekankan bahwa betapa kesepian itu secara alami tetap terpelihara dalam wujud dinding tinggi yang terbentuk dari sikap tidak manusiawi satu sama lain.

Di dalam novel Of Mice and Men ini, Steinback menggambarkan bagaimana pandangan masyarakat Amerika pada waktu itu. Penuh dengan pandangan rasialis. Bukan hanya karena perbedaan antara kaum berkulit hitam dan putih, tetapi juga perbedaan antara kaum yang berada dan miskin.

Lewat tokoh Lennie yang mengalami keterbelakangan mental, kita terhenyak melihat bagaimana ia temarjinalkan dan tak diperhitungkan dalam pergaulan masyarakat. Ia mendapat perlakuan yang tak manusiawi, karena masyarakat pada waktu itu menilai seseorang hanya dari aspek materi saja. Maka kehadiran George dalam novel ini, seakan-akan menjadi pembeda dan kritik atas kondisi tersebut. George merasa iba melihat kondisi Lennie dan bersedia menolongnya. Tentunya hal tersebut dilakukannya bukan berdasarkan pertimbangan materi, tetapi dengan pertimbangan nurani.

Apabila sempat membaca edisi aslinya (red: Inggris), maka kita akan menemukan ungkapan serta dialog yang ‘kasar’ syarat dengan penghinaan. Cerminan bagaimana kondisi Amerika pada saat itu. Maka, Of Mice and Men disebut-sebut sebagai novel yang kontroversial. Apalagi semenjak novel ini direkomendasikan menjadi bacaan wajib bagi pelajar.

Namun begitu, novel ini kiranya mampu membuka pikiran kita akan perbedaaan status dan derajat, membuka pandangan kita tentang seberapa besar “harga” seorang manusia dan mahluk hidup lain. Kita juga akan bertanya-tanya, “Apakah dibenarkan menghilangkan nyawa seseorang atas dasar kemanusiaan?” Pertanyaa itu pun muncul ketika di akhir cerita, George menembak sahabatnya sendiri yaitu Lennie.

Of Mice and Men merupakan novel dengan kisah yang terlihat sederhana. Namun di balik itu semua, konflik yang ada ternyata jauh lebih besar dan dapat terjadi dimana pun, sampai kapan pun.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Loading...