Menerawang Kemanusiaan Orde Baru

Menerawang Kemanusiaan Orde Baru

Judul Buku            : Pulang

Penulis                   : Leila S Chudori

Penerbit                 : PT Gramedia

Cetakan                 : III, Februari 2013

Tebal                     : viii + 461 Halaman

Peresensi               : Fardi Prabowo Jati

 

Ketika rezim orde baru berkuasa, kebebasan terlihat semu. Kebebasan didikte oleh seorang diktator. Sejarah dikeramatkan dan dijadikan strategi politik. Pancasila dituhankan. Komunis dan yang diduga berbau komunis dimusnahkan. Masyarakat ketakutan. Sekelumit aktivis dibuang oleh negara.  Sekelompok warga negara diburu oleh negaranya sendiri. Kerusuhan dimana-dimana. Media pers disorot, sementara sebagian yang lain dibredel. Mereka yang mendelik terhadap pemerintah diintai dan diasingkan.

Kesengsaraan tidak hanya dirasakan oleh korban peristiwa 30 September 1965 yang katanya dilakukan oleh Partai Komunis Indonesia. Luka sengsara yang mendalam setelah peristiwa itu juga dirasakan oleh keluarga yang anggota keluarganya terlibat atau tidak sengaja terlibat dengan komunis. Setelah upaya bersih diri dan bersih lingkungan digalakan oleh orde baru, orang yang memiliki hubungan dengan komunis di interogasi atau lebih tepatnya diteror. Upaya pemerintah untuk memusnahkan komunis bukan gertakan biasa. Sisi kemanusiaan dikesampingkan. Komunis musnah. Keluarga beserta anak cucunya haram berada duduk dalam posisi pemerintahan. Pergaulan sosial didiskriminasi.

Dimas Suryo, orang yang luntang-lantung diburu pemeritah akibat pilihannya untuk tidak memilih. Ia paham betul tentang berbagai paham politik dan segala konsekuensinya. Pada saat itu hanya ada dua paham yang berkembang : pancasilais dan komunis. Namun tetap saja Ia belum memilih untuk menjadi pengikut salah satu paham itu. Atau lebih tepatnya memilh untuk berjuang dibawah panji suatu paham. Namun kedekatannya dengan orang-orang yang dianggap komunis membuat ia dicap sebagai komunis. Logis. Begitulah pemerintah menciduk apapun yang berbau komunis dan yang diduga berbau komunis.

Perjalanan Dimas Suryo bermula saat ia harus menggantikan Hananto untuk menghadiri konferensi pers internasional di Santiago dan Peking. Kerinduannya untuk pulang dimulai saat visa Dimas dicabut. Mulai saat itulah, pulang di negeri sendiri terilihat begitu utopis. Tanpa sadar, pulang merasuki pikiran Dimas hingga ia tak peduli meski hanya jasadnya yang bisa pulang. Dimas dan ketiga sahabatnya berhasil berlabuh di Kota Cahaya, Paris. Dimas bersama Nugroho, Tjai, dan Risjaf sukses membangun koperasi berbentuk restoran Indonesia di Paris. Disana mereka membangun kehidupan baru sebagai penduduk gelap, penduduk tanpa identitas. Dimas menikahi perempuan Paris bernama Vivienne Deveraux. Tjai menikah dengan Theresa Li. Risjaf menikah dengan Amira. Sedangkan Nugroho digugat cerai istrinya.

Keinginan Dimas untuk pulang tidak pernah surut. Indonesia meski telah menjelma menjadi neraka tidak menciutkan harapannya untuk pulang. Bau tanah, rasa bumbu masakan, keluarga, sahabat, dan kenangan asmara selalu berhasil memupuk kerinduannya pada Indonesia. Waktu terus berjalan. Lintang Utara, anak Dimas berhasil menginjakan kaki di negeri yang selalu ada dalam harapan ayahnya. Lalu ayahnya menyusul. Tanpa gerutu dan tanpa siasat. Jasad Dimas sudah ada di karet. Tanah yang ia inginkan untuk membalut jasadnya.

Novel Pulang karya Leila S. Chudori begitu tak tertebak. Membacanya dapat membuat berdebar. Larik puisi karya sastrawan kondang dalam dan luar negeri menghiasi alur cerita. Kisah historis orde baru yang dibalut dengan percintaan, persahabatan, pencarian jati diri dan idealisme. Permainan sudut pandang yang luar biasa membuat pembaca dapat merasakan konflik diberbagai segi. Deskripsi latar tempat dan suasana begitu nyata. Novel ini wajib dibaca bagi yang ingin merasakan indahnya romansa percintaan, perjuangan mempertahankan idealisme, kerinduan seorang pelarian, dan berbagai taktik politik orde baru.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Loading...