Di Balik Pohon Berduri

Oleh : Umar Mubdi

Pada suatu hari saya cukup terkejut mendapati pohon berduri tumbuh subur di halaman belakang rumah saya. Kata “cukup” perlu ditandai sebab belum pernah sbelumnya saya melihat pohon itu secara sadar. Barangkali karena pohon berduri itu adalah sesuatu yang tak penting sehingga secara tidak sadar ia kerap luput dari pandangan dan perhatian saya.

Pohon berduri itu liar. Ia tumbuh di tanah bebatuan, tak pernah ditanam, tak pernah disiram, apalagi pupuk tak pernah diberikan. Dan kini sudah bertunas-tunas menjalar kesana kemari.

Ini kali saya sadar akan keberadaannya. Bentuknya yang tak beraturan adalah komposisi disharmoni dengan sekitarnya. Saya pun niat membeli geregaji guna merabasnya sampai tuntas. Pohon berduri itu seakan melayangkan tantangan batin. Saya menerima tantangan itu. Agak kesal. Jadi, akan saya tebang pangkalnya agar otomatis tumbanglah yang di atasnya, begitu rencana saya.

Berjalan mendekatinya menunjukan penglihatan baru. Ternyata ada lebih dari enam pangkal pohon di situ. Kadang-kadang benar juga sitiran si Plato bahwa tingkat realitas yang paling tinggi ada pada apa yang dipikirkan dengan akal bukan pada apa yang dilihat dengan indra. Padahal dari kejauhan hanya nampak dua tiga pohon saja.

Karena tekad saya sudah bulat, maka dimulailah menggeregaji dari pangkal pohon yang terdekat. Keringat bercucuran, nafas tersengal-sengal hampir megap-megap. Sudah lama rasanya tapi masih saja banyak pangkal yang tersisa. Saya semakin kesal. Malu rasanya untuk berhenti atau mengalah pada tantangan pohon berduri itu. Sejadi-jadinya saya berusaha menggeragaji semuanya.

Namun, ketika fokus dan kesal saya hanya beratensi pada pangkal yang sedang digeregaji, tiba-tiba saya menginjak duri-duri yang berceceran bekas geregajian. Ia langsung membuat saya duduk kesakitan. Bukan cuma kesakitan tetapi juga mendapat perenungan berharga. Saya menyadari bahwa ada hal-hal yg seharusnya diwaspadai menjadi terabaikan oleh pikiran yang tidak jernih. Pikiran yang tidak jernih itu akan menganulir kesadaran, penglihatan, kecermatan dan penghayatan. Padahal tipikalnya, segala sesuatu itu memiliki resiko otonomnya masing-masing apabila tidak dipikirkan secara cermat. Pikiran yang dipenuhi kekesalan untuk memotong pohon itulah yang membuat saya abai terhadap duri-duri kecil. Meskipun duri itu kecil namun ia membikin kesakitan yang sungguh besar.

Menghadapi berbagai macam persoalan harus dihadapi dengan jiwa dan pikiran yang tenang. Jangan mudah tersulut amarah. Bayangkan saja, betapa susah payahnya pohon berduri itu tumbuh. Akar-akarnya harus menyelinap di sela-sela kecil bebatuan untuk menjangkau tanah. Ia harus pintar-pintar mencari sumber air. Ia tidak mendapat perhatian. Dan toh ia berhasil melewati krisisnya dan kemudian menjadi pohon berduri yang sehat, subur, dan lebat. Saya yakin ia tumbuh dengan sabar. Kejernihan pikirannya adalah ketika akarnya mentok pada sebuah batu, namun pelan-pelan ia menyusuri sisi batu dan menemukan sela-sela sebagai jalan keluarnya.

Akhirnya saya memandangi pohon itu dengan rasa persahabatan. Berkat itu pula saya tuntas memangkasnya dengan selamat wal afiat.

 

*

*

Top
Twitter Auto Publish Powered By : XYZScripts.com