Senyum Esok Hari

Oleh: Ayu Tika Pravindias

Mak Jinah telah selesai menanami setengah sawah dengan benih jagung ketika suaminya menyandang pacul hendak pulang. Segera dipungutnya caping reyot dan dijinjingnya tas rotan berisi bekal makanan tadi siang. Hari sudah beranjak petang, Iman dan Imah pasti sudah menunggu di rumah.

“Mak, Mbak Imah belum pulang lagi,” kata Iman yang menunggu sendirian di depan rumah.

Iman masih kelas lima SD, mbaknya sudah kelas dua SMK, kakak Iman yang paling tua, Rahman namanya, merantau ke Jakarta. Biasanya Imah pulang sekitar jam 2 siang, selalu bertepatan dengan Iman pulang main bola. Namun belakangan Imah sibuk tutor dan belajar kelompok, setidaknya memang begitu alasannya pada Mak Jinah setiap pulang malam. Mak Jinah mengiyakan saja, sebab Mak Jinah tak tahu soal sekolah dan tak pernah sekolah. Bapaknya maklum saja, mungkin begitu sistem sekolah zaman sekarang. Apalagi Imah cukup pintar, pasti dia pulang malam karena mengajari kawan-kawannya hitung-hitungan matematika.

 

 

***

“Loh? Bukannya Imah masih sekolah?” Pak RW menegakkan duduknya, koran pagi yang dibacanya tadi dicampakkan begitu saja.

“Iya Bu, mau tidak mau,” Mak Jinah duduk rapat di samping suaminya, jelas asing dengan sofa empuk yang didudukinya. “Imah hamil tiga bulan.”

Sepasang mata penuh sesal dan malu tertunduk lesu, seakan tak mau menerima fakta pada kalimat yang diucapkannya. Mak Jinah meremas ujung sofa, tak mampu lagi mengatakan apa-apa.

Pak RW dan istrinya terkaget beberapa detik, lalu detik selanjutnya mulai menyadari situasi.

“Akan saya bantu, Pak Karim,” kata Pak RW segera. “Pernikahannya kapan dan dimana, Pak? Akan saya uruskan ke KUA.”

Mak Jinah duduk saja di situ, tak mendengarkan, masih meremas ujung sofa. Hilang sudah harapan terakhir Mak Jinah sekeluarga. Seharusnya satu tahun lagi Imah lulus, lalu membantu keluarga menyekolahkan si Iman, karena Rahman saja sebagai anak tertua hidup luntang-lantung di Jakarta. Tak punya uang untuk pulang. Tapi apa daya, belum lulus, perutnya sudah melendung. Mak Jinah tak tahu harus meminjam uang pada siapa untuk biaya pernikahan anaknya.

“Mak, maafkan Imah,” ujar Imah lirih saat ibunya duduk menghadap tungku tanah liat. Mak Jinah diam saja.

“Mbak Imah bikin malu, Iman malu sama teman-teman,” seru adiknya dari balik tirai kain penyekat dapur dengan ruang tamu. “Mak juga harus hutang sana sini, gara-gara Mbak Imah.”

Mak Jinah diam saja.

“Mak?” panggil Imah lagi, susah payah ia berjongkok.

Mak Jinah diam sejenak, meratakan bara api dalam tungku. Imah mulai menangis.

“Sudah terlanjur, mau diapakan. Tindakanmu salah, Mah,” ujar Mak Jinah, membelai rambut anaknya. “Tapi Mak selalu memaafkanmu.”

“Imah menyesal, Mak.” Imah menangis sejadinya.

“Memang seharusnya kamu menyesal, Mah. Mintalah ampun pada yang Maha Kuasa, yang telah kau lakukan bukan sembarang dosa,” Mak Jinah meninggalkan Imah, menggandeng Iman menuju beranda depan.

Langit fajar mulai kemerahan, Mak Jinah mendudukkan Iman di bangku bambu. Mak Jinah berjongkok di depannya.

“Iman, kamu sekolah yang rajin. Sebentar lagi kamu mulai masuk SMP, jangan kecewakan Mak, ya?”

“Iya, Mak. Iman mau sekolah sampai jadi sarjana,” kata Iman menunduk memandang ibunya.

“Baguslah kalau begitu. Jangan kamu susahkan bapakmu, Man.”

“Iman sering menyusahkan Mak, bukan bapak.”

Mak Jinah tersenyum.

“Sekarang Iman mandi dan sarapan. Bantu bapak di sawah. Mak mau cari kangkung dulu buat makan siang bapakmu.”

“Iya, Mak.” Iman berjalan masuk, namun berhenti dan menengok lagi di ambang pintu. Senyum Mak Jinah lekat diawasi oleh Iman, seakan tak akan lagi dilihatnya senyum setulus itu esok hari.

Sudah hampir dua jam Mak Jinah mencari kangkung, tapi tak kunjung kembali. Iman dan bapaknya berangkat menuju sawah sambil meyakinkan diri, mungkin Mak Jinah mampir sebentar di rumah saudaranya di bantaran sungai untuk memberi kabar tentang pernikahan Imah. Sampai tengah hari, Mak Jinah tak kunjung menyusul ke sawah. Mak Jinah tak pernah memasak selama ini, apalagi cuma menumis kangkung.

Dari kejauhan nampak seseorang berlari menuju gubuk tempat Iman dan bapaknya beristirahat. Ternyata itu Sarmin, tangan kanan Pak RW. Sarmin ngos-ngosan, namun memaksakan untuk bicara.

“Pak, pulanglah sekarang!”

Sarmin tak mau mengatakan kenapa, namun mendesak Iman dan bapaknya untuk segera pulang. Sarmin tak mau berjalan pelan, dia menyusruk-nyusruk perdu liar di pematang sawah, berlari sekuat tenaga.

Iman mendengar mbaknya berteriak-teriak. Kerumunan orang meluber ingin melihat ke dalam. Bapak Iman menyibakkan kerumunan itu dan Iman mengikuti dari belakang. Nafasnya tercekat, hatinya mencelos. Mak Jinah tadi pagi melompat dari atas jembatan, tak kuat menanggun malu akan perbuatan anak gadisnya. Mulai hari ini, Iman tak akan lagi melihat senyum setulus itu esok hari.

Related posts

*

*

Top
Twitter Auto Publish Powered By : XYZScripts.com