Kosong

Yang Tersayang,
Gayatri, semestaku, satu-satunya milikku yang paling berharga. Hari itu kau datang padaku dengan air mata, masih ingatkah? Kutanya, apa yang menyebabkan kau menangis duhai cinta? Katamu manusia. Manusia yang tega, tanpa belas kasih, membunuh ulat yang lemah tak berdaya. Begitu juga aku. Aku dengan tega dan tanpa belas kasih membunuh koloni semut yang lemah tak berdaya. Di mana sebagian dari mereka adalah barangkali ayah, ibu, dan anak. Maafkan aku.
Gayatri, semestaku, satu-satunya milikku yang paling berharga. Aku bukan pembunuh. Aku hanya manusia yang mengabdi kepada Ibu Pertiwi demi membela Bangsa dan Negara. Maka jangan benci aku.
Gayatri, semestaku, satu-satunya milikku yang paling berharga. Aku sungguh cinta kau lebih dari apapun. Tidakkah kau pun begitu? Maka, ampuni aku. Manusia yang hina dina ini.
Tertanda,
Aku.

 

Kisahnya sederhana. Badiran dan Gayatri dipertemukan secara tidak sengaja dalam salju di Wina, Austria. Cakrawalanya saling bertemu, indah, seperti Firdaus. Klaviernya ditekan menghasilkan bunyian yang indah, Preludium Titik Hujan namanya. Metronom yang awalnya bergerak allegro, kini melamban menuju largo. Rupanya semudah itu untuk menjadi suka.
Tapi tampaknya Semesta tak ingin segalanya semudah itu. Seorang persona grata diplomat tak boleh menomorduakan negara hanya untuk seorang Adam. Begitupun bagi seorang prajurit. Ia tak boleh mengangkat senjatanya hanya untuk seorang Hawa. Siapapun tahu. Tapi bagaimana jika rasa suka datang menghampiri, memaksa untuk tenggelam bersamanya? Ia datang memperbudak manusia, kemudian pergi. Dalam perang, melukai manusia dengan kekerasan yang dapat menimbulkan luka berlebihan itu dilarang. Bukankah itu sama halnya dengan memelihara rasa? International Criminal Court berhak untuk mengadili kejahatan perang, tapi pengadilan mana yang berhak mengadili kejahatan rasa?
Badiran dan Gayatri tak ingin melunak pada semesta. Mereka sama-sama mencari dan menemukan. Kisah mereka berlayar semakin jauh dari dermaga, mengarungi samudera menuju ketakterhinggaan. Mereka tak lagi hanya sekedar saling menyukai. Entah apa itu namanya. Sejak saat itu, Gayatri menjadi wanita yang tampak seperti bukan apa-apa. Begitupun Badiran. Di hadapan Gayatri, pria itu menjadi prajurit tanpa senjata.
**
Hari yang sungguh tak diduga itu datang. Tak ada musim dingin apa lagi salju, namun tak ada alasan untuk mengabaikan rasa dingin yang sesekali menjilat dan membekukan raga. Saat itu segalanya terlihat kelabu. Ibu memerintahkan seluruh putera dan puterinya kembali pulang. Alasan yang tak pernah diungkapkannya untuk menjadikan seseorang in persona non grata. Ia mengumumkan keadaannya yang sedang sekarat, membuatnya mengingkari sumpah untuk menghindari perang dan menolak untuk diperbudak oleh perdamaian. Para wanita menangis menghadapi kenyataan yang sebetulnya tidak baik-baik saja, di mana mereka menyaksikan ayahnya, kekasihnya, kakak juga adik lelakinya, meninggalkan mereka menancapkan panah. Tak seperti yang dulu-dulu, ini jauh lebih mengerikan untuk sekedar dilihat oleh mata.
Waktu itu berlangsung singkat. Tak ada yang menyangka, manusia yang biasanya membunuh, kini terbunuh. Mereka hilang, mati. Badiran mati.
“Aku tak yakin itu betul-betul kau,” Gayatri meyakinkan dirinya sendiri. Tak ingin percaya meskipun dipaksa. Tubuhnya serasa lumpuh. Perasaannya terombang-ambing tak tentu arah.
“Sudah jelas namamu berarti keabadian. Seharusnya siapapun tahu. Tuhan tahu, kau tak akan hilang,” wanita itu menangis. Ia sedang terperangkap dalam mimpi buruk yang amat mengerikan. Tak ada sesuatupun dari pengalamannya yang mampu membuatnya menghadapi hal itu.
“Sebab kau adalah Badiran. Satu-satunya milikku yang paling berharga,” suaranya kini hanya berupa bisikan. Jiwanya memang di situ, tapi raganya entah di mana. Pikirannya telah melebur bersama dengan tanah yang basah oleh Poseidon. Ia tak ingin berdiri meskipun ia mampu.

 

Oleh: Effrida Ayni Fikri

Related posts

*

*

Top
Twitter Auto Publish Powered By : XYZScripts.com