Semarak Sarasehan Budaya bersama Sujiwo Tejo

FH UGM, MAHKAMAHNEWS – Sabtu (31/10) sejak pukul 18:30, halaman Sekretariat LO/LSO dipadati para pengunjung kegiatan Sarasehan Budaya: Paradoks Birokrasi di Indonesia. Sarasehan budaya merupakan salah satu rangkaian acara Musyawarah Nasional V Lembaga Eksekutif Mahasiswa Hukum Indonesia (Munas V LEMHI). Munas V LEMHI ini dilaksanakan di Universitas Gadjah Mada (UGM) dari 29 Oktober hingga 1 November 2015. Menurut Ketua Pelaksana Sarasehan Budaya, Alfonsus Bergas, acara ini bertujuan untuk mensosialisasikan budaya dan kaitannya dengan kehidupan bernegara.

“Kita ingin bisa membuat acara yang bisa melepaskan penat dan ada manfaatnya untuk anggota LEMHI, delegasi LEMHI, dan begitu juga masyarakat umum,” ujar mahasiswa FH UGM yang akrab disapa Alfons ini.

Acara sarasehan budaya dibuka dengan pementasan teater “Jika Aku Menjadi Pejabat” oleh Teater Suluh. Puisi “Surat Kami untuk Keadilan” yang mempertanyakan tentang keberadaan keadilan di Indonesia juga dibacakan. Puisi tersebut membawa pesan bahwa mungkin seseorang tak dapat menemukan keadilan di pengadilan. Namun sejatinya, keadilan itu tersimpan di dalam diri masing-masing individu.

“Keadilan ada di dalam sikap yang melawan kezaliman. Keadilan itu tersimpan dalam dirimu.”

Teater yang baru berdiri selama setahun ini memang bergerak di bidang sosial kemasyarakatan. Pendiri Teater Suluh, Eko Prasetyo, semasa mudanya dulu aktif mengawal pergerakan mahasiswa.

“Mereka benar-benar ingin menyadarkan masyarakat melalui seni. Mereka menyampaikan isu-isu, mengkritisi pemerintah dengan cara yang masih relevan, yaitu teater. Jadi, bisa masuk ke hati dan menanamkan bahwa gini, lho, kondisi bangsa kita,” jelas Alfons.

Alfons yang juga merupakan moderator pada malam itu membuka acara inti dengan memperkenalkan bintang tamu pembicara, Sujiwo Tejo. Selanjutnya, lagu Sujiwo Tejo yang berjudul “Ingsun” dari albumnya Mirah Ingsun dilantunkan bersama dengan choir. Penonton diajak mengenal lebih lanjut sosok Sujiwo Tejo melalui pemikiran-pemikirannya sambil mendalami tema sarasehan budaya itu sendiri.

Sejak masa mudanya, Sujiwo Tejo telah akrab dengan banyak aktivis serta berkawan dengan orang-orang dengan pemikiran kritis. Sujiwo Tejo sempat menyebutkan beberapa nama public figure Indonesia seperti Pramono Anung, Rizal Ramli, dan Fadjroel. Dari merekalah pria pengarang buku Lupa Endonesa ini merasa terkena imbasnya; ia terus mengkritisi pemerintah Indonesia siapa pun presidennya.

Moderator kemudian mengaitkan hubungan seni dengan budaya. Apakah seni itu identik dengan budaya?

Enggak. Seni itu bagian paling kecil dari budaya,” ujar Sujiwo Tejo tanpa ragu.

Menurut Sujiwo Tejo, kebudayaan merupakan setiap kegiatan why yang berlanjut ke how, lalu berulang kembali. Sederhananya, kebudayaan adalah proses pengulangan kegiatan why-how-action oleh manusia. Setiap kali manusia bertanya why atau how, manusia sudah melakukan praktik kebudayaan. Lalu, bagaimana dengan korupsi? Pemilik akun twitter @sudjiwotedjo ini mengemukakan bahwa korupsi lebih mengarah pada kebudayaan daripada seni.

Video yang menayangkan budaya para pejabat yang tetap tersenyum walau sudah mengenakan rompi oranye khas tahanan KPK kemudian diputar. Mereka dibandingkan dengan para pejabat di Jepang yang tampak sedih dan merasa malu karena telah melakukan tindak pidana korupsi. Mengapa budaya seperti itu bisa berkembang? Pembicara menjelaskan pandangannya bahwa budaya tersenyum itu tidak bisa disalahkan. Memang itu sudah menjadi kebudayaan kita.

“Yang tidak tersenyum hanya orang-orang nusantara yang lagi stress,” kelakarnya.

Malam itu semakin menarik ketika ia mulai memaparkan pandangannya tentang paradoks terhadap korupsi. Pada satu sisi, masyarakat mengutuk korupsi. Sementara pada sisi lain, masyarakat Indonesia cenderung menilai pejabat pemerintahan dari penampilannya yang necis, bukannya menghargai dedikasi mereka.

“Yuk kita mulai menghargai kerja orang, tidak menghargai pejabat dari penampilan istri atau anaknya. Pelan-pelan kita ke sana, menghargai dedikasi, ngulik terus, ojok ngeliat dadine tok,” pesannya.

Pria berumur 53 tahun ini berpendapat bahwa tidak apa-apa jika terdapat paradoks birokrasi di Indonesia. Pada dasarnya, semua yang ada di dunia merupakan sebuah paradoks. Untuk menghadapinya, manusia harus menentukan sebuah pilihan dan tetap Ihdinassiratal mustaqim setiap hari atau terus berharap kepada Tuhan untuk ditunjukkan jalan yang lurus. Ia juga tak lupa mengemukakan bahwa sah-sah saja bagi seseorang untuk berubah haluan jika pada suatu saat ia mendapatkan petunjuk baru.

Acara inti sarasehan budaya tersebut kemudian berlanjut ke sesi tanya jawab dari dua orang audiens terpilih dengan pembicara. Lagu “Jancuk” yang khas Sujiwo Tejo dan para jancukers pun dinyanyikan bersama-sama. Penonton menyambut meriah dan ikut bernyanyi bersama Sujiwo Tejo dengan bersemangat. Penampilan Rancak dari Sanggar Apakah dan pesta kembang api menambah kemeriahan malam itu. Acara ditutup dengan penampilan Band Justimun dari Sanggar Apakah.

Erma Nuzula Syifa, mahasiswi Fakultas Hukum Universitas Gadjah Mada yang pada malam itu hadir sebagai salah satu penonton berpendapat bahwa acara tersebut secara keseluruhan menarik. Menurut Erma, malam itu kita diajak  melihat suatu pandangan hidup dari perspektif Sujiwo Tejo sendiri.

“Dari semua acara talkshow yang pernah aku tonton, paling seru ini! Soalnya pembicaranya nggak ngebosenin juga kan,” ujarnya. (Kirana Anjani)

Related posts

*

*

Top
Twitter Auto Publish Powered By : XYZScripts.com