APAKAH: Ratap Bumi Aksi Kami

Rabu (13/4) malam, Selasar Gedung VII Fakultas Hukum Universitas Gadjah Mada (FH UGM) dipenuhi oleh para mahasiswa pecinta seni yang tergabung dalam Sanggar Kesenian APAKAH. Mereka akan segera mementaskan suatu karya berjudul “Ratap Bumi”. Latihan dipimpin oleh Febriansyah Sunarya sebagai director bersama Nicolaus Oscar sebagai music director.

Keterangan foto: Latihan artistik di Selasar Geung VII lantai 2 FH UGM (dok: Instagram @ratapbumi, diaskes 16 April 2016)

Keterangan foto: Latihan artistik di Selasar Geung VII lantai 2 FH UGM (dok: Instagram @ratapbumi, diaskes 16 April 2016)

Menurut Fiaruska Raynaldo Vikorefial, penulis naskah “Ratap Bumi”, judul tersebut ditarik dari kondisi masyarakat dengan kearifan lokal tertentu ketika datang suatu pembangunan. Hal yang seharusnya ditujukan demi kepentingan masyarakat, malah menumbalkan masyarakat itu sendiri. “Kita mengambil sampel di Pati mengenai kasus pabrik semen dan masyarakat di sana,” ujar pria yang akrab disapa Aldo ini.

Ketua APAKAH, Robby Muhamad Fajar, menjelaskan bahwa lima bulan persiapan acara dimulai sejak Juli 2015, yaitu dengan penelitian di Desa Sukolilo, Pati, Jawa Tengah. Berdasarkan fakta yang ada di lapangan, panitia melakukan perancangan dan penulisan naskah. Kemudian, anggota APAKAH mengaplikasikan rancangan tersebut berdasarkan passion-nya masing-masing. “Panggung itu tempat yang paling bebas, karena kita memosisikan diri bukan sebagai orang yang berkepentingan di sana, tetapi sebagai seniman,” ucap Robby.

“Ratap Bumi” berbeda dengan pertunjukkan sebelumnya. Tahun lalu, Divisi Teater APAKAH mengadakan pentas seni berjudul “Ayahku Stroke Bukan Mati” yang diselenggarakan di Universitas Negeri Yogyakarta (UNY). Sedangkan, Divisi Musik APAKAH, Justicia Music Community (Justimun), memiliki acara tersendiri, yaitu JumatAkustik (Jukustik). Begitu pula dengan divisi-divisi lain yang memiliki proyek khusus.

“Ratap Bumi” yang akan diselenggarakan pada Minggu (24/2) ini merupakan realisasi dari perpaduan lima unsur seni, mulai dari seni musik, teater, rupa, sastra, hingga tari. Pameran seni rupa dibuka pukul lima sore, menampilkan karya-karya dari baik para anggota maupun seniman dari luar APAKAH. Sedangkan, pementasan dari perpaduan lima unsur seni itu akan dibuka pukul 18:00 di Taman Budaya Yogyakarta (TBY). Ini merupakan kali kedua APAKAH mengadakan pementasan di tempat tersebut. Sebelumnya, lembaga semi otonom (LSO) ini pernah mementaskan karya seni berjudul “Kakao” di tempat yang sama.

Dalam pementasan “Ratap Bumi”, APAKAH mengundang beberapa perwakilan dekan, dosen, dan beberapa perwakilan dari berbagai lembaga kesenian di UGM serta lembaga-lembaga yang ada di FH UGM.

Kesulitan dialami oleh APAKAH karena kurangnya dukungan dari fakultas, baik dalam bentuk finansial maupun moril. Fakultas juga tidak memberi kemudahan bagi mereka untuk menggunakan ruang kuliah. Padahal, pentas seni ini juga merupakan aksi dalam mengahadapi isu terkini. “Jika Dema (Dewan Mahasiswa Justicia –red.) melakukan aksi dalam bentuk turun ke jalan, KMFH (Keluarga Mahasiswa Muslim Fakultas Hukum –red.) melakukan aksi dengan diskusi, MAHKAMAH melakukan aksi dengan menulis, maka aksi kami melalui ‘Ratap Bumi’,” tegas Aldo.

“Banyak pihak luar yang berpandangan bahwa Sanggar ini hanya merupakan tempat penyaluran hobi. Padahal, basis dari lembaga ini sama dengan lembaga lain di FH UGM, yaitu pencerdasan,” keluh Aldo. Ia berharap pentas seni ini akan memberi fungsi sosial dan mengubah pandangan pihak luar terhadap APAKAH.

(Fitri Isni Ridha)

 

 

Related posts

*

*

Top
Twitter Auto Publish Powered By : XYZScripts.com