Balon Hitam: “Turut Berduka atas Kematian Demokrasi”

Gedung Pusat UGM, dikenal juga sebagai Gedung Rektorat, kedatangan ‘tamu’ lagi. Sebelumnya, Senin (2/5), ribuan mahasiswa Universitas Gadjah Mada (UGM) berunjuk rasa dengan tiga poin tuntutan utama yaitu mengenai UKT (Uang Kuliah Tunggal), Kantin Sosio Humaniora yang dikenal juga sebagai Bonbin, dan mengenai tunjangan kinerja karyawan. Kali ini, Kamis (15/9), mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Gadjah Mada (FH UGM) kembali menyambangi Gedung Rektorat.

Pukul 13.48 WIB dengan mengenakan baju putih, mahasiswa berkumpul di lapangan basket FH UGM. Koordinator lapangan, Abdul Adhim Azzhuri, menyamakan tujuan sebenarnya dari aksi hari itu. Spanduk putih bertuliskan “Duka Cita FH” mengarak mahasiswa menuju Gedung Rektorat. Boneka pocong yang berada disamping barisan melambangkan “kematian demokrasi di UGM”.

Sesampai di depan Gedung Rektorat, mahasiswa meneriakkan aspirasinya. “Kita ingin meneriakkan bahwa demokrasi di UGM tidak akan mati. Karena masih ada kita yang peduli,” teriak orator. Tidak berapa lama, terdengar teriakkan dari dalam barisan, “Gak usah begitu! Langsung masuk aja!” Serentak rombongan bergerak memenuhi pelataran Gedung Rektorat.

Karangan bunga kiriman Civitas Akademika FH UGM bertuliskan “TURUT BERDUKA CITA ATAS KEMATIAN DEMOKRASI DI UGM” ikut menyuarakan aspirasi mahasiswa. Ada tiga permintaan mahasiswa kepada Rektor UGM Prof. Ir. Dwikorita Karnawati, M.Sc., Ph.D. Pertama, transparansi dari panitia seleksi dan tim seleksi mengenai penetapan dekan di FH UGM. Kedua, tidak lengkapnya proses tata cara sanggah dalam Peraturan Rektor Nomor 12 Tahun 2016. Ketiga, menjaga kondusifitas di FH UGM serta menerima tuntutan dan menindaklanjuti tuntutan. Hal tersebut sesuai dengan yang tertulis dalam Rilis Tuntutan Aksi Aliansi Mahasiswa Independen Peduli Hukum.

Pukul 14.20 WIB massa yang tertahan di tangga lantai satu mendapat kabar, bahwa Rektor UGM ternyata tidak berada di kantor. “Mana, mana, mana rektornya sekarang juga!” nyanyian memenuhi Gedung Rektorat. Tersiar kabar bahwa Rektor UGM sedang berada di hotel, tepatnya UC Hotel. “Sebenarnya ruang kerjanya di sini atau di hotel yang nyaman dan dingin? Apa bedanya menemui kita di sini? Toh ruang kerjanya di sini,” orator bersuara.

Sementara mahasiswa menunggu kedatangan Rektor UGM, dosen-dosen FH UGM berkumpul di depan Gedung I FH UGM. Tepat pukul 14.32 WIB mereka menuju Gedung Rektorat. Mereka terlihat kompak mengenakan kaos hitam bertuliskan Fight For Justice 65% di bagian depan. Bagian belakang kaos tersebut bertuliskan kalimat kutipan Mohammad Hatta, “Demokrasi bisa ditindas sementara karena keselahannya sendiri tetapi setelah ia mengalami cobaan yang pahit ia akan muncul kembali dengan keinsafan.” Tidak hanya kaos hitam, balon hitam pun ikut mendapingi perjalanan mereka menuju Gedung Rektorat. Hasrul Halili, S.H., M.A. dan Totok Dwi Diantoro, S.H., M.A., LL.M. membentangkan spanduk dengan kalimat, “Demokrasi pildek 2016 dukungan kepada Prof. Sigit Riyanto, S.H., LL.M. sebagai dekan FH UGM”.

Pukul 15.30 WIB rombongan dosen disambut hangat mahasiswa dengan yel-yel “UGM bersatu, tak bisa dikalahkan!” Jumlah massa semakin bertambah, tetapi Rektor UGM belum juga menemui mereka. Orasi berpindah ke tangan dosen. Hasrul saat itu mewakili para dosen mengatakan, “Kami dosen mendukung Prof. Sigit, tetapi ini bukan soal menang atau kalah. Ini soal hidup matinya demokrasi. Penginjak-injakan serius terhadap demokrasi.” Hasrul juga menjelaskan alasan mereka mendukung Sigit. Di FH UGM terdapat sebelas departemen, delapan departemen mendukung Sigit, dua departemen abstain, dan satu departemen mendukung calon yang lain. Satu departemen yang mendukung calon lain pun terbagi dua dengan Sigit. Total nilai yang diperoleh Sigit mencapai dengan nilai 3.389 sedangkan calon 3.120. Dilihat dari tiga aspek dukungan (individu, departemen, dan tim) Sigit mendapat suara terbanyak. Ia juga menambahkan yang dibutuhkan untuk menduduki kursi dekan adalah kualitas dan dukungan yang legitimate dari basis dimana mereka akan dipimpin. Tidak lupa ia menegaskan bahwa penetapan dekan belum final dan masih ada waktu sanggah.

Bukan hanya Hasrul, Dr. Harry Supriyono, S.H., M.Si. dan Prof. Dr. Ari Hernawan, S.H., M.Hum. juga turut menyampaikan alasan keterlibatan mereka. Prof. dr. Iwan Dwiprahasto, M.Med.Sc., Ph.D selaku Wakil Rektor Bidang Akademik dan Kemahasiswaan (Warek Akademik) menemui dosen dan mahasiswa. Saat itu Warek Akademik dan perwakilan dosen duduk di anak tangga sambil berdialog pelan. Untuk memberikan ruang bagi mahasiswa, dosen berpindah tempat ke depan Gedung Rektorat. Di hadapan pers, Dr. Zainal Arifin Muchtar, S.H., LL.M. selaku kuasa hukum Sigit, menjelaskan posisi para dosen. Balon hitam dilepaskan sebagai lambang “duka atas matinya demokrasi di UGM”.

Di lantai satu mahasiswa masih menunggu kedatangan Rektor UGM. Ketika Warek Akademik ingin angkat bicara, mahasiswa menolak. “Wah, rektor baru nih!” teriak beberapa mahasiswa. Terlihat juga beberapa mahasiswa menutup telinga dan berbalik badan. Penolakan dari mahasiswa menyebabkan Warek Akademik kembali ke ruangannya. Dikejar beberapa wartawan, Warek Akademik menjelaskan bahwa keputusan penetapan dekan FH UGM belum final.

Hingga pukul 15.50 WIB, massa menunggu kedatangan Rektor UGM. Akhirnya, barisan bubar meski sarat akan kekecewaan atas ketidakhadiran Rektor UGM. (Evasolina Lubis, Fatih Alrosid, Aurelia Regina Nawawi)

Related posts

*

*

Top
Twitter Auto Publish Powered By : XYZScripts.com