Bumi Pertiwi, Tanggung Jawab Siapa?

Opini Awal

http://mapinstitute.net/2016/08/04/map-institute-mengawal-paradigma-desa-membangun/

Oleh: Fitri Isni Ridha, Mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Gadjah Mada, Pemimpin Umum BPPM Mahkamah 2017

Liburan ini tak terasa menyenangkan lagi. Semakin berada di dekat masyarakat, semakin banyak dilema yang muncul. Kemiskinan, kemerosotan moral, ketidakpedulian, kebodohan, ketidakstabilan ekonomi, serta perpecahan. Semua itu salah siapa?

Dulu, saya ikut terbakar oleh kritik yang menyalahkan pemerintah. Bahkan, mendengar kata pemerintah saja saya enggan. Sekarang, saya mulai berpikir,  menjadi pemimpin bangsa itu tidak segampang menaburkan bibit ajaib lalu boom! Makmurlah seluruh rakyat.

Ia bukan manusia setengah peri. Saat memimpin, kewarasan mental yang terjaga patut diapresiasi. Bayangkan saja, dengan kemampuan yang tak sesempurna Tuhan, ia mengemban tanggung jawab yang begitu besar. Ia harus memikirkan dan merealisasikan seluruh program kerja, menjaga hubungan dengan banyak negara, menarik para investor, dan meningkatkan devisa negara. Ia pun wajib menghadapai sesama manusia dengan keanekaragaman sifat dan budaya.

Selain itu, Ia juga harus menjaga keselamatan nyawa seluruh warganya. Memang, tiap-tiap bidang sudah ada yang mengatur. Tapi, bukankah dampak dari yang satu akan berakibat pada yang lain? Lalu, siapa yang ujung-ujungnya disalahkan? Pastilah pemerintah.

Opni Banjir

http://goldoriole.blogspot.co.id/2013/01/sebelum-sesudah-banjir-di-sungai.html

Saya tak menghimbau masyarakat untuk berhenti mengkritik, tetapi coba pikirkan lagi. Apakah peran-peran di atas hanya tanggung jawab pemerintah? Bukankah kesejahteraan bangsa adalah tujuan kita bersama?

Ayolah! Jangan bebankan semuanya hanya pada pemerintah. Mari sertakan peran kita di sana. Mulailah dari hal-hal yang ada di sekitar kita. Jika kamu seorang ibu atau ayah, maka bimbinglah anakmu agar berakhlak mulia. Tunjukkan padanya betapa ruginya memelihara benci dan dendam. Ajarkanlah ia untuk tidak melakukan apa yang tidak ingin ia rasakan.

Jika kamu seorang petani, ceritakanlah pada orang-orang sekitarmu betapa kuatnya sebuah negara bila menguasai pangan dunia. Bangunlah kepercayaan diri para pemuda untuk berkreasi dalam dunia pertanian. Bimbinglah mereka untuk mencintai dunia tersebut. Jika cinta itu sudah tumbuh, kelak mereka akan mencarikan solusinya tanpa disuruh dan permasalahan pangan akan menurun.

Jika kamu seorang pengajar, ajarkanlah muridmu tentang kelamnya kebodohan. Tunjukan pula pada mereka bahwa kecerdasan tanpa moral itu hanyalah sampah. Tak ada gunanya ilmu bila digunakan untuk menindas. Buanglah ilmu itu bila dipakai untuk membunuh.

Opini buruh

https://foto.tempo.co/read/beritafoto/17381/Potret-Buruh-Pekerja-Ibu-Kota/1

Jika kamu pemuka agama, himbaulah umatmu untuk menebarkan kasih sayang kepada siapa saja. Sadarkanlah mereka bahwa keyakinan tak dapat dipaksakan. Ajaklah mereka untuk memahami bahwa negeri ini penuh perbedaan.

Jika kamu seorang mahasiswa, maka latihlah idealismemu agar dapat bertahan pada realita kehidupan. Idealisme yang dapat kau baurkan pada jabatanmu kelak. Kemudian, jika kamu seorang pemuda maka pedulilah.

Tulisan ini tidak bertujuan untuk membisukan kritik terhadap pemerintah. Segala kebijakan yang tak rasional harus selalu kita kawal. Itulah salah satu peran rakyat, pengawasan terhadap aparatur negara.

One Comment;

Leave a Reply to syarif Cancel reply

*

*

Top
Twitter Auto Publish Powered By : XYZScripts.com