Resensi To Kill A Mockingbird

to kill a mockingbird

http://images.gr-assets.com/books/1361975680l/2657.jpg

  1.  Judul Buku                                        : To Kill A Mockingbird
  2.  Penulis                                                : Harper Lee
  3. Peresensi                                            : Chenny Wongkar
  4. Penerbit                                              : Harper Perennial Modern Classics
  5. Tempat dan tahun terbit                 : New York, 2006
  6. Tebal                                                    : 323 halaman

 

Shoot  all the bluejays you want, If you can hit ‘em,
But remember it’s a sin to kill a mockingbird”

 

 To Kill A Mockingbird merupakan sebuah novel klasik garapan Harper Lee. Fokus cerita novel tersebut ialah perjuangan seorang pengacara kulit putih dalam membela kliennya yang merupakan kaum kulit hitam. Mengambil latar di sebuah kota fiktif bagian selatan Amerika Serikat sekitar tahun 1930, Harper berhasil menggambarkan dengan sangat jelas ketimpangan sosial yang terjadi akibat rasisme di Amerika.

 

Novel ini dibawakan dalam perspektif seorang anak berumur enam tahun bernama Jean Louis Finch. Jean merupakan anak bungsu dari Atticus Finch, sosok pengacara yang membela seorang kulit hitam atas tuduhan pemerkosaan dan penganiayaan terhadap seorang gadis kulit putih. Jean memiliki seorang kakak bernama Jem Finch yang hanya terpaut tiga tahun lebih tua darinya dan seorang pembantu Afro-Amerika bernama Calpurnia.

 

Pada awal cerita hingga pertengahan bab, pengarang hanya memberikan penguatan terhadap setiap karakter tokoh, tidak ada konflik yang dipaparkan. Hal inilah yang agaknya menjadi kekurangan dari novel ini. Alur yang lambat dan tidak adanya konflik berarti membuat pembaca sedikit merasa bosan akan alur cerita monoton. Cerita mulai mengalami perkembangan pada saat Atticus dikabarkan menerima Tom Robbinson yang merupakan warga kulit hitam sebagai kliennya. Konflik sosial yang dialami Jem dan Jean serta pertentangan dari masyarakat terhadap Atticus mulai mengantarkan cerita pada titik klimaks.

 

Klimaks dari cerita ini sendiri terletak pada saat persidangan berlangsung. Kepiawaian Atticus dalam menyingkap fakta yang sebenarnya terjadidikontradiksikan dengan situasi masyarakat yang tidak dapat menerima kemenangan dari pihak kulit hitam. Hal ini semakin menyeret pembaca untuk memahami kondisi akibat politik Apartheid yang terjadi pada kurun waktu tersebut.

 

Secara general, buku ini memanglah layak memperoleh penghargaan pulitzer, penghargaan tertinggi dalam bidang jurnalisme cetak di Amerika Serikat. Dengan penggambaran karakter yang kuat dari setiap tokohnya, dipadukan oleh nilai moral yang sangat berbeda dengan karya klasik sejenisnya, menjadikan buku ini sebagai salah satu bahan bacaan wajib bagi para penggemar karya sastra di seluruh dunia.

 

Adapun kelemahan lain yang saya tangkap dalam buku ini adalah banyaknya south american slang tanpa penjabaran arti atau makna. Arti tersebut sekiranya dapat ditambahkan dalam catatan kaki atau glosarium. Sehingga, pembaca dapat lebih mudah memahami makna kalimat percakapan yang terkandung.

 

Kutipan yang saya cantumkan pada bagian atas resensi ini merupakan kutipan yang sangat dikenal dan telah menjadi karakteristik novel tersebut. Kutipan ini sendiri merupakan salah satu pesan atau moral tersirat yang saya yakini ingin disampaikan oleh Harper kepada setiap pembaca. Kutipan yang kemudian diformulasikan menjadi judul buku ini tentunya hanya dapat dipahami oleh orang yang telah menyelesaikan buku ini secara keseluruhan menurut interpretasinya sendiri. Jadi, apa interpretasimu terhadap kutipan tersebut?

 

 

 

Chenny Wongkar (2016)

*

*

Top
Twitter Auto Publish Powered By : XYZScripts.com