Beast of No Nation : Tentara dan Dilema Anak di Negeri Konflik

74 0

Bertubuh kecil, mimpi basah pun belum, harus mengambil peran dalam sejarah. Anak menjadi salah satu bagian penting di negara-negara yang sedang konflik untuk menjadi tentara. Sebab sejarah dan tentara menjadi hal yang akrab. Kata Goenawan Muhammad, sejarah mempertahankan tentara, sebab ia dibangun dari bayangan kemungkinan yang terburuk. Karena itu tentara menjadi sosok membosankan yang selalu berwujud tinggi, otot besar, berjalan tegap, gagah dan berani. Imaji itu tak berlaku sepenuhnya. Karena di beberapa bagian bumi ini anak-anak harus memegang senjata dan siap sedia seperti Agu : Yes sir!

Beast of No Nation mencoba menjembatani kekosongan imajinasi kita soal apa yang benar-benar terjadi saat ini. Agu adalah seorang tokoh protagonis yang mewakili ribuan cerita anak-anak Afrika dalam menghadapi konflik bersenjata. Ia menggambarkan dirinya sebagai “a good boy from a good family”. Namun pada suatu hari yang memuakkan, sekelompok milisi sipil menyerang kotanya. Perempuan dan bayi dibawa mengungsi, sedangkan Agu berserta ayah, kakak, dan kakeknya tinggal di kota. Peperangan terjadi antara milisi sipil dan tentara pemerintah. Sial bagi Agu dan keluarganya karena disangka bagian dari perusuh. Mereka ditembak mati oleh pemerintah, sedangkan Agu melarikan diri ke hutan.

Dalam keadaan lapar dan kebingungan, Agu bertemu sekelompok milisi sipil. Antara tertangkap sekaligus diselamatkan. Hidup barunya dimulai, dengan peluru dan arit. Organisasi Child Soldier Internasional (CSI) menemukan bahwa perekrutan menargetkan anak-anak dari masyarakat yang kurang beruntung dan latar belakang keluarga yang bermasalah. Anak-anak yang tumbuh di negara konflik, melihat kekerasan sebagai cara hidup satu-satunya.  Sendirian, yatim piatu, ketakutan, bosan dan frustrasi, akhirnya mereka memilih untuk melawan. Di Filipina yang beberapa dekade mengalami pemberontakan, banyak anak-anak yang segera menjadi tentara  setelah mereka memasuki usia remaja. Ketika sekolah ditutup dan keluarga terfragmentasi, ada beberapa pengaruh yang dapat mengarahkan mereka pada jalan tersebut.

Dalam keadaan ini, sebuah kelompok militer dapat menjadi semacam tempat perlindungan yang menggantikan keluarga. Di Uganda pada tahun 1986, Tentara Perlawanan Nasional mempunyai 3,000 prajurit anak yang 500 diantaranya adalah perempuan. Kebanyakan mereka berada di bawah 16 tahun. Sebagian besar telah menjadi yatim piatu.

Pada tingkat yang lebih mendasar, bergabung dengan tentara juga mungkin satu-satunya cara untuk bertahan hidup. Sama seperti halnya Agu. Pada 1980-an banyak anak-anak bergabung dengan kelompok bersenjata di Kamboja sebagai cara terbaik untuk mengamankan makanan dan perlindungan. Demikian pula di Liberia pada tahun 1990, anak-anak umur tujuh tahun terlihat dalam pertempuran . Menurut Direktur Palang Merah Liberia, “orang-orang dengan senjata bisa bertahan.” Di Myanmar, orang tua merelakan anak mereka untuk pemberontak. Sebab, tentara gerilyawan menyediakan pakaian dan dua kali makan sehari. Pada tahun 1990, diperkirakan 900 dari 5000 tentaranya berada di bawah usia 15 tahun.

Salah satu alasan untuk ini adalah perkembangan senjata ringan. Di masa lalu, anak-anak tidak terlalu efektif sebagai pejuang garis depan karena sebagian besar perangkat yang mematikan itu terlalu berat dan rumit. Seorang anak mungkin telah mampu untuk memegang pedang atau golok, tapi tidak untuk senjata api.

Namun siapa kira Agu dan anak-anak lainnya bermain dengan senjata api. Beast of No Nation menggambarkan anak-anak dengan senapan serbu AK-47 buatan Uni Soviet atau  M-16 buatan Amerika Serikat. Senjata-senjata ini sangat mudah digunakan. AK-47 dapat ditelanjangi dan dipasang kembali oleh seorang anak usia 10 tahun. Senjata ini pun menjadi jauh lebih murah dan lebih banyak tersedia. AK-47 model standar bisa ditebus dengan harga satuan USD 160 setara Rp 1,4 juta. Sejak diperkenalkan pada tahun 1947, sekitar 55 juta AK-47 telah terjual. Kondisi ini mendukung tentara anak untuk ambil bagian dalam konflik bersenjata.

Menurut  Child Soldier Internasional, dalam beberapa kasus anak-anak yang direkrut biasanya tidak digunakan dalam konflik bersenjata sampai mereka berusia 18. Hal ini dilakukan di  43 negara di seluruh dunia dan dalam beberapa kelompok bersenjata non-negara. Tetapi bahkan ketika anak-anak tidak digunakan dalam perang, merekrut mereka adalah berbahaya.

Seperti halnya Agu, pelatihan militer dirancang untuk memecah psikologis anak sampai mereka mematuhi perintah tanpa pertanyaan, yang dapat mengubah kepribadian mereka dalam jangka panjang. PBB menaksir jumlah tentara anak-anak 250.000 orang di 23 negara yang dilanda perang. Lembaga Save The Child melaporkan terdapat 10,000 tentara anak di Central Afrika Republic (CAR) yang tergabung dalam kelompok bersenjata setelah perang sipil berdarah pada 2012. Mereka dilatih untuk membunuh tanpa belas kasihan.

Menyaksikan pembunuhan atau bahkan mengambil bagian di dalamnya, berbahaya bagi anak yang masih berkembang secara psikologis dan emosional. Kesehatan dan kesejahteraan akan terganggu ketika mereka ditarik ke dalam organisasi militer. Mereka menjalankan risiko tinggi untuk terbunuh atau cacat, termasuk menderita masalah psikologis yang serius setelahnya. Tentara anak pun beresiko mengalami pelecehan seksual oleh orang dewasa atau anak-anak lain dalam kelompok militer mereka. Termasuk menjamah narkoba untuk kepercayaan diri di medan perang. Peristiwa traumatis tersebut dapat mengganggu perkembangan anak, apalagi tinggal bersama mereka selama sisa hidunya.  Beast of no Nation menggambarkan Agu yang meronta di kasur karena peristiwa traumatik dan narkoba dalam tubuhnya. “Aku tahu suara orang berteriak dan aroma dari mayat. Dan aku tahu rasanya brown-brown dan djamba  dalam darahku”

Fukunaga menawarkan penyelidikan kompleks mengenai kekuasaan dan logika emosional dalam perang total. Ia berusaha menjembatani imaji mengerikan tentang mengapa dan bagaimana anak-anak menjadi serdadu di medan perang. Narasi film oleh Agu kadang digambarkan begitu bijaksana. Ia mengisyaratkan bahwa pengalaman itu diterima oleh anak-anak pada waktu yang tidak tepat. Sayangnya Beast of No Nation hanya menggambarkan tentara anak dari satu sudut gender, yakni laki-laki. Padahal menurut PBB, 4 dari 10 tentara anak adalah perempuan. Walau pada akhirnya Fukunaga tidak membuat dikotomi gender dalam pesan yang disampaikan. Sebab film ini secara paripurna mengingatkan bahwa penggunaan anak dalam perang harus segera dihentikan. Tidak ada lagi ruang bagi anak untuk buntu dalam suatu dilema : dibunuh atau terbunuh. [Senandika]

 

Total 0 Votes
0

Tell us how can we improve this post?

+ = Verify Human or Spambot ?

About The Author

No Comments on "Beast of No Nation : Tentara dan Dilema Anak di Negeri Konflik"

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *