Melihat IUP dari Belokan Lantai Dua[1]

2448 0
Disclaimer :
  1. Rubrik Dagelan adalah rubrikasi Mahkamah yang terbuka untuk umum, sehingga hak cipta setiap karya yang dimuat di Mahkamah pada rubrikasi umum dimiliki oleh penulis. Mahkamahnews.org hanya memiliki hak untuk menayangkannya melalui proses proof read dan editing.
  2. Setiap materi yang disampaikan penulis pada rubrik tersebut bukan merupakan pandangan Mahkamah sebagai lembaga. Tanggung jawab mengenai materi sepenuhnya berada di tangan penulis
  3. Terdapat catatan redaksi pada akhir laman ini.

 

Mudah membedakan mana IUP dan mana reguler di FH UGM. Bagi orang-orang yang matanya seliweran, akan dengan jeli menilik merk sepatu atau tas kita untuk menyimpulkan dari selokan mana kamu berasal. Yang cantik, ganteng, badan kekar, wajah bersih berseri, jalan percaya diri, dan berangkat kuliah bawa gelas starbucks, ya jelas jangan ditanya. Oleh karena itu orang-orang seperti Muhawwin yang nongkrong mewahnya di samiasih cuma jadi desas-desus di kampus ini, dianggap eksis pun ragu. “Aku hanya seonggok lemak jahat” katanya, “Makan minumku satu semester cuma seharga satu bulan kosan mereka.” Ibarat kata tempat nongkrong, Win dan serumpunnya adalah samiasih, sedangkan anak-anak IUP adalah Kopi TM yang harga air mineral nya seharga satu setengah porsi mewah orak-arik kesukaan Muhammad Muhawwin Nur untuk makan malam.

Rasanya ini semua terlalu menggeneralisir dan sangat sepihak bahkan menyudutkan. Namun mari kita simpan nalar-nalar ilmiah yang saklek ala mahasiswa fakultas hukum yang kalau becanda bisa berujung aduan pencemaran nama baik.

Mahasiswa IUP punya ciri khas mencolok dari segi fashion. Barang tentu mereka berasal dari perumahan-perumahan elit kota-kota besar di Indonesia dan menjamin gizi layak untuk kekenyalan kulitnya. Bangun tidur disuguhi susu putih dengan  roti panggang berisi irisan daging tuna dan telur setengah matang.[2]Sehabis itu mungkin ada waktu khusus bagi teman-teman untuk menata alis, rambut, sampai milih sepatu dan tas. Saya sering membayangkan bagaimana mahasiswa IUP punya jam tersendiri untuk itu, mungkin satu atau dua sks sekali pertemuan dengan cermin. Sesampainya di kampus menebar wewangian sampai pori-pori tanah.

Saya selalu salut.  IUP adalah wujud nyata imaji pria dan perempuan soal sosok ideal nya digambarkan jelas dalam iklan-iklan televisi dan sinetron Anak Jalanan. Bayangkan saja, pria dengan tubuh atletis, pakaian estetis, mobil necis, dan tampang artis. Harum wanginya hinggap mengendap barang lima hingga sepuluh detik sesaat setelah momen-momen mendebarkan itu. Sedangkan di belahan dunia lain Muhawwin baru bangun tidur lalu melalaikan mandinya dan berangkat ke kampus dengan penuh bangga tanpa tuntutan visual apapun.

Menjadi mahasiswa IUP mungkin gampang-gampang susah. Saya selalu menduga ada persaingan fashion antar perempuan di kelas. Apabila yang satu pakai baju baru maka yang lain akan serentak menandingi. Persaingan dimulai dengan jalan dari gerbang agak geser ke kiri atau ke kanan agar sejajar dengan jendela pintu masuk gedung empat, memastikan diri sebaik mungkin di hadap cermin alternatif itu. Sehingga jadi wajar mengapa gedung empat adalah tempat terbaik untuk melihat fashion show dengan tangga sebagai catwalk. Sementara Win sebagai representasi paling representatif mahasiswa reguler akan melongo sambil malu-malu memandang kehadiran mereka seraya melihat dirinya yang dandan apa adanya. “Aku cukup jadi sintal dan menggemaskan, itu sudah anugrah,” ucapnya menghibur diri.

Sehabis kelas, mahasiswa IUP sering duduk di depan gedung empat. Anda akan menemui pemandangan calon-calon corporate lawyer yang bergaya necismengutip Edward seperti Christian Grey, memakai kacamata berbentuk kotak sambil menenteng buku-buku tebal. Sementara para mahasiswinya, entah kebetulan atau tidak, cenderung berdandan layaknya Anastasia Steele, lawan tanding Grey di Fifty Shade of Grey.[3] Sementara di sudut lain, tepatnya selasar gedung tujuh, Anda akan menemukan sejenis Danilla Riyadi, -cantik, cerdas, cuek[4].- sambil menyeruput rokoknya perlahan-lahan.

Tentu tidak. Sebab semua dugaan-dugaan di atas adalah bentuk cacat logika, kopong, dan tidak dapat dibenarkan. Mereka merupakan kesimpulan yang pada hakikatnya dibuat berdasar asumsi dan klaim sepihak. Sebab hanya satu yang benar-benar saya yakini soal IUP : Mbak Talitha Amanda adalah UGM Cantik paling memadai. Terpujilah wahai pacarnya. Kami hanya bisa melihat beliau dari belokan lantai dua menuju lantai tiga gedung empat. (Senandika)

 

[1] Tulisan ini merupakan lanjutan kajian dari Eddward S. Kenedy dengan kebaruan tempat dan objek penelitian. Metode yang digunakan adalah oberservasi langsung di lantai dua gedung 4.

[2] Mengutip dari kajian Eddward S. Kennedy mengenai tinjauan fashion Ekspresi vs Balairung

[3] Ibid

[4] Menurut Eddward yang seperti itu Ine Febriyanti, namun menurut saya lebih representatif Danilla Riyadi. Mungkin karena dulu Danilla belum seterkenal sekarang.

 

 

Catatan Redaksi :

Artikel ini telah ditambahkan dengan disclaimer seperti tertera di bawah judul, pada tanggal 6 Juni 2018. Mohon maaf atas ketidaknyamanan pembaca terhadap tulisan tersebut. Berdasarkan kesepakatan penulis dan lembaga, serta dikonfirmasi oleh Christo sebagai wakil LSO (Lembaga Semi Otonom) yang berkaitan, maka terdapat paragraf yang dihapus. Bagi pihak-pihak yang merasa dirugikan, bisa langsung menghubungi penulis untuk membahas isi lebih lanjut.

Berkaitan dengan munculnya banyak respon pembaca, redaksi melalui catatan ini menyampaikan beberapa penjelasan dari penulis, yakni :

Tentang tulisan Mahkamah berjudul “Melihat IUP dari Belokan Lantai Dua”

Tulisan tersebut dibuat dalam rubrikasi Dagelan. Tanggung jawab tulisan tersebut berada penuh di tangan saya sebagai pemegang hak cipta. Mahkamah saya tegaskan tidak bertanggung jawab atas isi tulisan yang disampaikan. Berkaitan dengan banyaknya ketidaksepahaman beberapa pihak terkait konten tersebut, maka berikut ini adalah penjelasan penulis :

Tulisan tersebut berangkat dari sebuah ide tentang logicall fallacy dalam memahami IUP. Penulis berpendapat bahwa anggapan tentang segala hal yang bombastis secara materil tentang IUP itu adalah sebuah generalisir. Kesalahan dalam penalaran kerap kali terjadi dalam hal tersebut. Secara teori terdapat beberapa model logical fallacy yang berusaha penulis angkat. Appeal To Emotion – Menggunakan manipulasi perasaan (emosi) seseorang dalam berargumen daripada membuat argumen yang logis. Dalam beberapa artikel mencontohkan seperti ini :

A:“Pejabat partai A menjadi tersangka korupsi!”

B :“Tidak mungkin, dia orang baik. Lihat saja dia sering menyumbang ke orang-orang miskin.”

 

Penulis menganggap hal ini terjadi di masyarakat FH. IUP sering digambarkan begitu bombastis padahal hal tersebut merupakan semacam appeal to emotion. Sehingga dengan dasar argumen yang salah, munculah The Fallacy Fallacy – Karena seseorang melakukan logical fallacy dalam memperkuat argumennya, maka argumen itu pasti salah. Ad Hominem – Menyerang personality traits atau karakter seseorang dalam berargumen daripada membalas argumen tersebut.

Maka untuk membuat argumen tersebut, penulis menuliskannya dalam penutup : Tentu tidak. Sebab semua dugaan-dugaan di atas adalah bentuk cacat logika, kopong, dan tidak dapat dibenarkan. Mereka merupakan kesimpulan yang pada hakikatnya dibuat berdasar asumsi dan klaim sepihak. Namun penulis menyangkan karena banyak memunculkan polemik, terlebih  karena keterbatasan penulis dalam menyampaikan pun memahami. Walau begitu saya menghargai tafsir pembaca terhadap rubrikasi Dagelan tersebut sedalam-dalamnya. Pada akhirnya penulis merasa senang karena anggapan tersebut dipahami sebagai sebuah dugaan yang salah penalaran. Sebab anggapan-anggapan mengenai IUP yang datang ke telinga penulis adalah sebuah cacat logika dan tidak bisa dibenarkan.

Saya sebagai penulis memohon maaf sedalam-dalamnya pada para pihak yang merasa dirugikan atas tulisan tersebut. Tidak ada maksud untuk mengungkapkan lain selain apa yang saya jelaskan di atas. Bahwa kesalahan logika tersebut perlu diluruskan dan fakultas hukum saya harapkan dapat bersatu dengan pengingat yang saya maksudkan dalam tulisan tersebut.

Total 189 Votes
143

Tell us how can we improve this post?

+ = Verify Human or Spambot ?

About The Author

No Comments on "Melihat IUP dari Belokan Lantai Dua[1]"

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *