‘3’ yang Sakit-sakitan [2/4]

645 2

Tahun Kedua: Para Pengajar Harus Diawasi

Kita butuh guru-guru yang berpikiran muda, cerdas dan terbuka, bukan yang berpikiran kuno, kaku, dan kolot!” Kata saya di dalam sebuah catatan lama.

                Titik balik telah terjadi, dari yang tadinya masih ‘penakut’ kini saya lebih berani dan kritis. Masa-masa terang telah datang. Seiring meningkatnya daya pikir kritis, praktik-praktik tak terpuji yang terjadi di sekolah dapat saya analisis dengan semakin tajam. Dengan segenap hormat dan kerendahan hati, apa yang saya lakukan saat ini adalah suatu bentuk kepedulian terhadap sistem pendidikan di almamater lama dan Indonesia secara umum.

Melihat Wajah ‘Asing’

Di awal kelas XI, saya takjub melihat wajah-wajah baru di kelas. Lebih takjub lagi wajah baru hadir tak hanya di kelas saya, tetapi hampir di seluruh kelas. Wajah baru itu merupakan rupa siswa pindahan dari sekolah swasta, sekolah negeri ‘tetangga’, bahkan dari luar kota seperti Semarang dan Yogyakarta. Sempat kawan saya berkelakar bahwa Ia masuk dengan memberi sejumlah ’pelicin’, semoga saja ia hanya sedang berguyon.

Saya selalu bertanya-tanya, apakah ada tes tertentu untuk anak pindahan? Sebab menurut keterangan dari kawan saya yang juga merupakan anak pindahan, tidak ada tes tertentu untuk pindah ke sekolah saya. Kawan saya ini menjadi anak pindahan dan dapat memilih kelas sesuka hatinya. Di sisi lain, saya juga melihat fenomena menarik ketika anak Kepala Sekolah yang sebelumnya berasal dari sekolah ‘tetangga’ bergabung dengan sekolah kami. Dalam hati saya, “Apakah ada relasi antara kekuasaan dengan rekrutmen siswa baru?” Namun semoga saja hal tersebut tidak benar.

Penyelidikan mengenai hal di atas cukup sulit dilakukan, sebab tak ada kawan yang mau terus terang dan berani mengungkap secara ‘blak-blakan’. Besar harapan saya agar siswa-siswi yang jujur dan kritis muncul ke permukaan. Bukan yang hanya diam lalu tak mempertanyakan ‘apa yang sebenarnya terjadi’.

Melihat Ke Ruang Kelas

Saya tertarik dengan cara mengajar seorang guru Olahraga saya. Bagaimana tidak? Di Sekolah, Guru ini hanya memiliki satu materi saja: Lari! Selama hampir satu semester siswa-siswi hanya berlari mengitari lapangan di jam olahraga. Uniknya, di luar jam pelajaran, guru ini mengambil sebagian nilai dari renang dan bulu tangkis. Diadakan beberapa kali dalam satu semester dan berlangsung di luar jam sekolah. Kami-pun tidak mengetahui transparansi rincian uang sekitar 15 sampai dengan 20 ribu Rupiah yang telah dibayarkan murid-murid tiap ingin mengikuti kegiatan tersebut.

Seorang Guru Fisika (yang telah dibicarakan pada tulisan sebelumnya) tak kalah unik. Selain dari perkara uang dan diktat, Ia sering kali tidak memaksimalkan jam mengajarnya. Datang ke kelas mengajar, lalu ke pos satpam dan minum kopi. Di kelas, Ia terlalu banyak bicara soal agama dan moral daripada pelajaran Fisika. Saya penasaran apakah mungkin dia lebih ahli dalam bidang agama dibandingkan Fisika?

Seorang guru Prakarya tak luput dari tanggapan. Ia pernah memberikan tugas kepada kami untuk membuat bros dan juga merajut. Namun, hasil dari karya-karya muridnya entah kini dimana. Lebih mantap lagi ketika ada kawan-kawan yang kena hukuman karena tidak menyelesaikan tugas membuat 2 poster. Mereka diminta untuk membuat 10 rangkuman dalam jangka waktu satu hari (tanpa mempertimbangkan kesibukan mereka yang lain). Ah, tapi ini tak sebanding dengan Bandung Bondowoso yang diminta membuat 1000 candi dalam semalam.

Ada satu kejadian maha magic yang saya alami di kelas XI. Tepatnya di pelajaran Bahasa Inggris, seorang guru saya jarang masuk kelas, tapi nilai akhir saya tiba-tiba muncul cukup baik. Ketika di kelas, hanya sibuk berdiskusi dengan beberapa anak saja. Suatu ketika saya datang ke kantor guru untuk menemui dan mengambil tugas darinya. Sungguh nikmat justru ia sedang makan dan ‘berdiskusi’ dengan guru lain, kemudian tak datang hingga jam kelas berakhir. Maha magic melihat guru yang langsung ‘membaguskan’ nilai murid-muridnya sedang dia sendiri masih jarang mengajar. Namun tak mengapa, toh sebagian besar murid menikmati cara mengajarnya yang unik.

                Saya cukup khawatir dengan nasib adik-adik kelas apabila masih memiliki model-model guru seperti yang di atas. Saran saya, sebaiknya guru-guru yang demikian lebih diperhatikan demi keberlangsungan iklim belajar yang lebih sehat.

Perkara Olimpiade

Saat kelas X saya menjadi peserta Olimpiade Sains Nasional (OSN) tingkat kota dan memegang bidang Matematika.  Begitu pun kelas XI, bedanya saya memegang bidang Fisika. Saya melihat semakin menurun kualitas sistem rekrutmen peserta OSN yang mewakili sekolah saya. Kami (peserta OSN di masa saya) tidak diberikan pengajaran secara intensif ataupun pelatihan ketat demi memenangkan OSN. Saat saya kelas X, peserta dipilih melalui rekomendasi kakak kelas. Begitupun kelas XI, peserta baru dipilih seminggu sebelum olimpiade. Saya melihat kurangnya kepedulian sekolah terhadap OSN ini. Saat itu, saya dan kawan-kawan belajar sendiri apa adanya. Kekurangan buku, literatur, dan pendampingan. Mungkin memang benar kalau kami dipasang hanya untuk sekadar menjadi pelengkap olimpiade? Atau untuk sekadar mengirim delegasi saja. Semoga perkara ini ke depannya lebih baik lagi.

Perihal Transparansi?

Di semester genap kelas XI, sekolah mengadakan acara study tour ke Kota Malang dan Kota Batu. Dalam agenda perjalanan tercatat beberapa tempat yang akan disinggahi, dua di antaranya adalah Universitas Brawijaya (UB) dan Universitas Negeri Malang (UM), kemudian sisanya adalah kunjungan ke beberapa tempat wisata, seperti Cuban Rondo, Museum Angkut, Batu Night Spectacular, The Bagong Adventure, dan lain-lain. Acara sejenis ini tak hanya diadakan oleh sekolah saya saja, tetapi juga menjamur di sekolah negeri lain yang masih satu kota.

Sekolah tak mewajibkan acara ini, tetapi sebagian besar guru justru ‘mengimbau’ agar siswa-siswanya ikut. Siswa yang tidak ikut diancam akan diberi tugas kunjungan kampus secara mandiri yang cukup rumit dan akan ‘disesuaikan’ nilainya padahal katanya tour tidak wajib! Dan akhirnya tugas kunjungan kampus yang diberikan kepada mereka yang tidak ikut, tidak ditagih oleh pihak sekolah. Ternyata hanya untuk menakut-nakuti saja!

Guru-guru yang menginisiasi study tour ini sangat bersemangat membujuk siswanya untuk ikut study tour. Biaya yang dipungut untuk study tour ini bisa dibilang cukup banyak tetapi tidak ada transparansinya. Mungkinkah saya yang tidak tahu?

Catatan Akhir Kelas XI

Saya harap para pembaca yang budiman dapat melihat tulisan ini secara luas, bukan hanya dalam ruang lingkup yang kecil. Saya akui, kita memang jarang diajarkan untuk berpikir kritis sejak awal. Kita terbiasa untuk menerima keadaan seperti ‘apa yang ada’ tanpa mempertanyakan ‘ada apa’ sebenarnya.

Mulailah mengkritisi sesuatu dengan membaca, baik dengan membaca buku maupun keadaan. Sangat menyedihkan ketika saya melihat kaum yang ‘katanya’ intelektual hanya diam membisu atau justru melegitimasi keadaan sekitarnya yang sedang tidak baik-baik saja. Marilah kita mulai untuk mendobrak mitos kemapanan di sekitar kita.

Penulis: Savero

Ilustrasi: Selma

Editor: Faiz Al-Haq

Total 19 Votes
1

Tell us how can we improve this post?

+ = Verify Human or Spambot ?

About The Author

Kami adalah bagian dari mereka yang menyebut dirinya mahasiswa. Kami masih mencari makna kata “maha”, dan mungkin ini salah satu jalan untuk menemukannya.

Satu untuk meniti dan berbagi informasi. Satu untuk belajar mengawasi, sisanya menyemangati diri untuk berkreasi, selebihnya mencoba bersosialisasi dengan kawan-kawan satu visi.

2 Comments on "‘3’ yang Sakit-sakitan [2/4]"

  1. The Man Who Can't Be Move

    Nice, dobrak terus itu status quo para guru, BONGKAR!!
    Semoga pihak yang dituju bisa menerima kritik dan merubah sikap-sikapnya

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *