‘3’ yang Sakit-sakitan [4/4]

379 0

Dalam setiap gerak pikiran, kemajuan pendidikan Indonesia selalu menjadi salah satu topik yang dibahas.  Dalam sela-sela perbincangan dan diskusi, arah pendidikan Indonesia tak pernah absen melengkapi. Demikianlah seberapa pentingnya pendidikan Indonesia yang seharusnya dimiliki oleh kalangan intelektual yang senantiasa berjuang memajukan pendidikan. Dalam hal ini, untuk mencapai era pendidikan yang lebih baik, kuncinya hanya satu. Jangan pernah berhenti melakukan perbaikan!

 

Epilog: Memulihkan Sekolah yang Sakit

Pemuda-pemudi Indonesia berperan sangat besar untuk kemajuan bangsa dan negara di hari depan. Mereka kelak akan menjadi golongan yang akan memberikan pembaharuan di tanah air tercinta. Generasi yang terlahir dari sekolah-sekolah yang tersebar di seluruh penjuru nusantara ini memiliki tanggung jawab besar pada masa depan Indonesia kelak.

Penentuan jati diri dari seorang terpelajar tak serta merta langsung ditemukan di bangku perguruan tinggi. Arah perjuangan seorang pelajar tanpa disadari mulai dipupuk dari masa pendidikannya, sejak sekolah dasar kemudian sekolah menengah. Proses belajar inilah yang nantinya mengubah watak dan cara pandang seorang pelajar dalam mengambil peran di dunia akademik-keilmuan maupun sosial kemasyarakatan.

Pada dasarnya tiap pelajar memiliki potensi untuk menganalisis dan mengkritisi apa yang terjadi di sekitarnya. Mereka memiliki kemampuan untuk bersuara atas sesuatu yang menurut mereka tak lagi sesuai. Namun sayangnya, kesempatan siswa untuk memberikan pandangan baru terhadap kemajuan pendidikan perlahan dibatasi oleh nasihat guru yang kaku ataupun peraturan sekolah yang represif. Sebagai contoh, masih banyak siswa yang dilarang mendebat gurunya dan dituduh provokatif saat mengkritik sistem pendidikan sekolahnya, bahkan tindakan represif  ini biasanya diiringi dengan ancaman tidak naik kelas, skorsing, bahkan drop out.

Kemajuan iklim pendidikan yang seharusnya berakar dari pemikiran kritis masih memiliki tantangan yang besar. Siswa-siswi tanpa sadar sering dituntut untuk menjadi pelajar yang realistis dan kaku, dalam arti mereka hanya diajarkan untuk menyesuaikan diri terhadap keadaan. Resikonya adalah banyak pelajar yang kehilangan idealismenya, sehingga hanya akan muncul sedikit pelajar yang berani mengubah keadaan.

Sebagai contoh, ketika ada penyimpangan yang terjadi di sekolah seperti pungutan liar, siswa yang telah kehilangan pemikiran kritis dan idealisme biasanya memilih untuk pasrah pada keadaan tersebut dengan dalih bahwa hal demikian sudahlah biasa dan hanya butuh adaptasi untuk menerimanya. Golongan seperti inilah yang melegitimasi sistem dan keadaan yang sudah bobrok.

Di sisi lain, kita harus bersyukur bahwa masih ada golongan pelajar yang kritis dan merawat idealismenya. Ketika golongan pelajar ini menemukan penyimpangan seperti praktik pungutan liar, mereka akan selalu mempertanyakan dan mengkritisi kemana dan untuk apakah pungutan tersebut.  Golongan pelajar yang demikian inilah yang berperan penting membawa pendidikan Indonesia maju di hari depan, serta merubah wajah pendidikan menjadi lebih baik.

 

Membuka Mata Pelajar Indonesia

Dalam menapak era baru pendidikan Indonesia yang lebih baik, kita harus memperhatikan dua sisi: para pelajar dan tenaga pendidik. Pelajar sebagai tunas bangsa yang kelak akan mengemban tanggung jawab pada negara di hari depan haruslah memiliki watak yang sesuai gerak perubahan. Sebaliknya, guru sebagai tenaga pendidik pun memiliki tanggung jawab membimbing murid-muridnya menjadi pelajar yang bermanfaat di hari depan.

Dari sisi pelajar, saya memandang bahwa ada dua kunci utama yang harus dipegang. Kunci itu yakni sikap jujur dan berpikir kritis. Yang pertama kejujuran. Nilai ini amatlah penting untuk membangun pribadi yang berintegritas. Sebagai contoh, perkara contek-mencontek. Di masa SMA, saya sudah terbiasa melihat praktek ini. Praktek beberapa siswa dalam ujian ini semakin subur akibat sikap abai beberapa oknum pengawas. Oknum pengawas ujian seolah-olah memaklumkan perbuatan ini, seperti pura-pura tidak melihat ke arah murid saat ujian, keluar ruang ujian, atau bahkan tidur saat mengawas ujian.

Saya rasa perkara contek-mencontek ini disebabkan karena tekanan kepada siswa untuk mendapatkan nilai baik di semua mata pelajaran, baik dari orang tua maupun guru. Saran saya, jangan terlalu menekan siswa untuk menjadi ‘pintar’ di semua mata pelajaran. Saya menantang, apakah ada guru Kimia yang juga menjadi ahli Sejarah? Atau, adakah guru Biologi yang ahli dalam bidang Geografi? Ketika para pelajar dipaksakan mencapai nilai bagus di semua bidang, niat untuk ‘nakal’ saat ujian kemungkinan akan timbul sebagai naluri yang –biasanya- tak tertahan. Pembinaan moral pun sangat penting untuk memperbaiki kebiasaan ini. Selain itu, perbaikan sistem pengawasan saat ujian pun tak boleh terlewat. Hal yang menjadi kekhawatiran saya adalah apabila kecurangan ini sudah ‘dibiasakan’ di masa pendidikan, lantas bagaimana ketika sudah menjalani dunia kerja? Cobalah kita kritisi, apakah kita sedang didesain menjadi murid mekanik yang harus ‘terlihat’ pintar di segala bidang dengan melalui berbagai macam cara? Sedangkan kita hanya berminat pada beberapa bidang saja. Mari kita renungkan!

Kedua, berpikir kritis menjadi senjata terbaik dalam memajukan iklim belajar di sekolah. Namun, berpikir kritis hanya untuk diri sendiri bukanlah jalan yang tepat. Pelajar-pelajar yang telah berpikir kritis hendaklah pula mengajak pelajar lainnya yang belum ‘tercerahkan’ untuk sama-sama berjuang. Mulailah dengan diskusi untuk mengkritik keadaan sekitar, apabila ada kejanggalan cobalah susun rencana untuk perbaikan, kemudian yang terpenting adalah merealisasikan apa yang sudah direncanakan.

Di masa SMA, saya sering menemukan pelajar-pelajar yang hanya hobi mengkritik sistem pendidikan dan ’sok berpikir kritis’, namun tidak berani mengambil tindakan nyata sama sekali. Banyak pula di antara mereka yang sering menghafal dan mengutip kutipan filsuf maupun politisi terkenal hanya untuk menarik simpati guru dan pelajar lain. Golongan ini sering membawa kata-kata ‘revolusi’ dalam orasinya, namun mereka ini hanya berkutat pada buku-buku dan wacana diskusi tanpa melakukan tindakan nyata.

Sikap tidak berani melakukan tindakan nyata hanya menjadikan mereka orang yang setengah-setengah dalam berjuang. Kecerdasan dan kemampuan menalar kritis tidaklah membawa manfaat yang maksimal apabila hanya dipendam untuk menggerutu di tempat diskusi dan tidak diimplementasikan di kehidupan nyata.

 

Harapan untuk Para Pengajar

Guru-guru di sekolah sebagai jembatan ilmu pengetahuan memiliki peran yang cukup besar bagi perkembangan karakter dan intelektualitas siswa-siswinya. Hal yang paling fundamental yang harus dilakukan para pengajar adalah mendidik agar murid-muridnya memiliki watak yang terpuji, seperti jujur, peduli, berpikir kritis, dan santun. Dalam mendidik inipun seorang pengajar haruslah memberikan contoh nyata atas apa yang diajarkan olehnya. Seorang pengajar yang suka berbohong, tidak peduli, dan berpikiran kolot, tanpa disadari akan menularkan sifatnya kepada murid-muridnya. Sebagai contoh, seorang guru yang tidak suka dikritik akan melahirkan murid-murid yang berpikiran kolot dan kaku serta tak dapat memahami pendapat orang lain.

Guru-guru harus berpikir terbuka menghadapi kritik bahkan ketika kritik itu ditujukan kepada guru lain yang merupakan rekannya. Hal ini semata-mata untuk mengoreksi mutu pengajaran agar lebih baik lagi. Sebagai contoh, apabila ada seorang oknum guru yang diduga melakukan pungutan liar, rekan oknum tadi seharusnya ikut mengungkap kebenaran dugaan tersebut, bukan justru menutup-nutupi kesalahannya dengan alasan ‘menjaga nama baik sesama guru’. Apabila praktik menjaga nama baik ini terus berlanjut dan dimaklumi sebagai kebiasaan, maka tanpa sadar perbuatan itu hanyalah sebuah jalan mélanggengkan kemunafikan.

Kepala sekolah pun sebagai pimpinan penyelenggara pendidikan memiliki peran yang penting dalam kebijakan di sekolah. Dalam mengambil keputusan, kepala sekolah pun harus mendengar pendapat guru, komite sekolah, wali murid, dan yang terpenting adalah siswa-siswinya sendiri. Kepala sekolah haruslah mendengar permasalahan langsung dari siswa-siswinya, baik melalu dialog langsung, kotak saran, maupun melakukan konfrensi bersama siswa-siswi aktivis sekolah, bukan hanya duduk menunggu laporan di ruangannya yang sejuk dan rapat bersama jajarannya saja. Kepala sekolah pun harus mengambil tindakan tegas apabila ada oknum guru yang melakukan penyimpangan di sekolah, bukan menutup-nutupinya dengan alasan ‘menjaga nama baik sekolah’.

 

Gagasan dari Diskusi Lama

Kemajuan pendidikan Indonesia semata-mata tak akan terjadi tanpa adanya dukungan dari pemerintah. Pengawasan terhadap proses belajar mengajar perlu secara rutin dilakukan. Pemeliharaan kualitas pengajar pun hendaknya tidak sebatas pada sertifikasi saja, namun juga harus dipantau secara langsung dan berkala. Pemeriksaan praktik penyelenggaraan pendidikan pun harus dapat dinilai dari dua pihak, baik dari pihak sekolah maupun para siswa. Kontribusi siswa dalam mengawasi penyelenggaraan pendidikan ini perlu karena merekalah pihak yang sangat terdampak dari sistem pendidikan.

Layanan pengaduan bagi siswa yang ingin melapor harus lebih disosialisasikan oleh pihak yang berwenang. Pengarahan agar siswa berani mengungkapkan penyimpangan juga sangat penting untuk meningkatkan kepercayaan diri mereka mengkritisi keadaan di sekolah. Perlindungan terhadap siswa yang berani melapor dari tindakan sewenang-wenang oknum yang menyimpang juga sangat dibutuhkan. Hal ini untuk mengantisipasi tindakan intimidasi dari oknum yang terlapor.

 

Kembali Menengok Sekolah

Dari masa SMA saya belajar bahwa masih banyak sekolah yang ibarat durian bermasalah. Dari luar sedap aromanya, sulit ditembusnya, dan gagah rupanya. Namun, saat dibelah, di dalamnya ada ulat-ulat yang sedang menggerogoti daging buah yang lezat itu. Ulatnya adalah oknum guru yang menghisap dan menindas. Buah-buahnya adalah murid-murid yang memiliki cita-cita dan idealisme yang tinggi. Perumpamaan demikianlah yang memotivasi saya untuk memberangus ‘ulat-ulat’ini, sebab karena mereka lah nama baik sekolah terancam tercemar dan pelajar menjadi tertekan.

Di masa SMA, saya sempat memilih menunggu dan hanya menanti-nanti kedatangan alumni pemberani yang akan memberangus oknum-oknum bermasalah dan memperbaiki mutu pendidikan. Namun, sampai saya menjelang lulus pun oknum-oknum ‘bermasalah’ ini semakin kuat dan bertambah ‘lihai’, serta keadaannya begitu-begitu saja. Saya pun pada akhirnya memutuskan untuk berhenti menunggu, dan beranjak untuk bergerak.

Saya melihat bahwa sebagian siswa setelah menjadi alumni sudah tak lagi memikirkan sekolah lamanya. Alasan mereka sederhana, ”masa kami di sekolah sudah berakhir, untuk apalagi kami ikut campur?” Saya menghargai alasan itu mengingat bahwa kita sama-sama memiliki kesempatan untuk peduli atau tidak. Saya memilih untuk peduli dan mengajak pembaca untuk ikut peduli, mengingat bahwa mimpi-mimpi dan harapan pelajar Indonesia tumbuh dan berkembang di dalam tubuh pendidikan sekolah.

Saya memandang bahwa salah satu tugas alumni adalah untuk kembali menata sekolah lamanya, kemudian berkontribusi untuk memajukan sekolahnya. Tak lupa pula mereka hendaknya memotivasi dan membatu adik-adik kelas. Subjektif saya, sebagian senior dan kawan yang kembali berkunjung ke sekolah hanya ingin memamerkan almamater kampus mereka masing-masing yang beraneka warna. Namun saya bersyukur, sebagian lain di antara rekan alumni dengan tulus memberikan motivasi, gagasan pembaharuan, kritik, serta pelajaran hidup untuk adik-adik di sekolah. Saya mengapresiasi kawan-kawan, senior, dan para pembaca yang telah peduli dengan kemajuan sekolah dan adik-adik kelas masing-masing.

Menapak Era Baru Pendidikan Indonesia

Segala pengalaman di bangku sekolah membuat saya memilih melanjutkan studi ke fakultas hukum, dan akhirnya membawa saya sampai ada di sini (Fakultas Hukum UGM lalu menulis di BPPM MAHKAMAH). Saya mengambil banyak hikmah dari segala kejadian bersejarah yang saya alami. Harapan saya, semoga kelak pendidikan di Indonesia akan semakin baik sehingga tidak akan terulang lagi sejarah yang telah saya sampaikan sebelumnya.

Saya berharap bahwa kelak hubungan yang tercipta antara para pelajar dan pengajar dapat lebih erat. Saya pun menaruh harapan agar segala bentuk kemunafikan yang ada di lingkungan pendidikan tidak lagi berlanjut di masa anak cucu kita. Tanggung jawab mengenai nasib pendidikan bangsa Indonesia di masa depan adalah milik kita bersama. Jatuh-bangunnya negeri ini ditentukan oleh peradaban, jatuh-bangunnya suatu peradaban ditentukan oleh pendidikan, dan jatuh-bangunnya pendidikan ditentukan oleh kita, rakyat Indonesia!

 

Kebiasaan yang harus dilakukan siswa setelah menjadi alumni adalah memajukan sekolahnya kembali.”

Penulis             : Savero
Illustrator        : Selma
Editor              : Faiz Al-Haq

 

 

Total 14 Votes
1

Tell us how can we improve this post?

+ = Verify Human or Spambot ?

About The Author

Kami adalah bagian dari mereka yang menyebut dirinya mahasiswa. Kami masih mencari makna kata “maha”, dan mungkin ini salah satu jalan untuk menemukannya.

Satu untuk meniti dan berbagi informasi. Satu untuk belajar mengawasi, sisanya menyemangati diri untuk berkreasi, selebihnya mencoba bersosialisasi dengan kawan-kawan satu visi.

No Comments on "‘3’ yang Sakit-sakitan [4/4]"

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *