Menjelma Kematian

Menjelma Kematian

Aku sudah mengintai perempuan itu selama beberapa saat sekarang. Memang, apabila diperhatikan tidak dengan seksama, ia tampak baik-baik saja. Rambut cokelatnya jatuh hanya sedikit di bawah bahunya. Matanya kecil dan bersinar seperti lampu jalan yang redup. Kulitnya halus, meski tak semulus dulu, dengan sedikit ornamen-ornamen yang diberikan usia kepadanya.

Ia tinggal hanya berdua dengan suaminya. Mereka sudah menikah selama 15 tahun dan belum dikaruniai anak. Usut punya usut, mereka memang tidak mau punya anak. Hanya saja untuk menjaga citra mereka di hadapan keluarga dan tetangga yang banyak menuntut, mereka berkata bahwa si perempuan tak bisa punya anak.

Orang-orang sering kali melihat si perempuan dengan wajah iba, namun barangkali lebih iba kala melihat suaminya. Tak jarang mereka suruhnya si suami untuk mencari perempuan lain yang lebih baik, yang mampu beri anak, tapi si suami tak pernah menggubris. Mereka memang tidak ingin punya anak.

Pikirku sepasang suami istri itu tak saling cinta. Si suami sibuk dengan pekerjaannya—ia memang laki-laki yang gemar bekerja. Ia akan pulang larut malam saat si perempuan sudah jatuh terlelap, dan sering kali berangkat sebelum si perempuan bangun. Pernah aku pergi mengintainya sekali, tapi tak ada kutemukan ia main api dengan perempuan lain. Memang hanya lelaki yang gemar bekerja.

Aku menghabiskan sebagian besar waktuku bersama si perempuan, karena memang dialah tujuanku. Sekarang aku sudah mulai hapal rutinitasnya. Membuat sarapan untuknya dan suaminya—walau kadang suaminya bahkan tak tahu lauk apa yang ada di atas meja karena ia keburu berangkat kerja—menyiram bunga matahari kesukaannya di kebun belakang rumah, memberi makan anjing piaraannya, beberes.

Si perempuan juga suka membaca. Suaminya memberikannya sebuah ruangan penuh buku dan majalah kesukaannya sebagai insentif atas kesukarelaannya melepas pekerjaannya demi mengurus si suami. Perempuan itu dulu bekerja di sebuah perusahaan besar sebagai konsultan bisnis. Sekarang satu-satunya pekerjaannya adalah mengurus rumah tangga.

Ada saat di mana aku ingin merangkul perempuan itu dan cepat-cepat membawanya bersamaku. Bahkan orang-orang yang tak mengenalnya sebaik aku pun tahu bahwa ia tidak bahagia. Ia terkungkung dalam istana yang dibangun suaminya untuknya, dengan segala kemewahan dan fasilitas yang disediakan. Namun ia tak bahagia. Ia hanya ingin kesibukannya kembali.

Pikirku itu bukan soal uang. Perempuan itu tak kekurangan satu sen pun uang dalam hidupnya. Ia, persis seperti suaminya, hanya suka bekerja. Dan sepasang suami istri tak saling cinta yang sama-sama suka bekerja akan semakin menambah keburukan dalam rumah tangga mereka. Si perempuan, sebab itulah kuanggap ia istri yang baik, memutuskan untuk mengalah.

Pagi itu si suami tidak pergi bekerja sebelum perempuan itu bangun. Justru sebaliknya, si perempuan bangun terlebih dahulu. Seperti biasa, ia menyediakan sarapan untuknya dan untuk suaminya. Pagi itu, seperti kebanyakan pagi, menunya roti panggang dengan selai bluberi dan secangkir kopi hitam tanpa gula. Suaminya bergabung di meja makan beberapa menit setelah sarapan siap.

Kata si perempuan kepada suaminya, “Ada baiknya kau mulai belajar bikin sup.”

“Untuk apa?” Si suami bertanya, heran.

“Untuk dirimu sendiri. Sup mudah dibuat. Atau setidak-tidaknya, belajarlah memanggang roti dan membuat kopi.”

Suaminya menggeleng. “Kau bisa buat sup, bisa memanggang roti, bisa membuat kopi. Kenapa aku harus belajar?”

Ia kemudian meletakkan cangkir kopinya dan pergi ke ruang tamu untuk membaca koran.

***

Sudah beberapa minggu ini si perempuan tidak ada di rumah. Si suami pun demikian. Lepas kantor tak langsung ia kembali ke rumah, tetapi menunggui istrinya yang sedang menginap di rumah sakit tak jauh dari rumah mereka. Aku tak tahu persis apa yang dokter katakan perihal penyakit si perempuan, namun aku dapat merasakan perempuan itu kian lama kian tertarik kepadaku.

Karena si perempuan tak melakukan aktivitas apa-apa selain berbaring dan terpejam, aku mulai mengikuti rutinitas si suami. Ia masih bekerja seperti biasa, dengan intensitas yang sama pula, namun entah mengapa aku merasa aku mulai hadir dalam dirinya. Si suami kehilangan fokusnya. Barangkali karena kopi yang ia minum tiap pagi berbeda dengan yang biasa ia minum. Atau roti sarapannya tidak terpanggang dengan baik?

Pada sore hari si suami akan berjalan bolak-balik ke ruangan dokter, bertanya rentetan ini-itu yang enggan kudengarkan. Ia berkali-kali menyebut tentang Singapura, dan apa pun yang bisa menyembuhkannya. Pikirku si suami frustasi karena kehilangan sarapan dan makan malamnya. Atau ia hanya ingin aku dalam dirinya hidup kembali.

Lalu, setelah beberapa minggu yang panjang, kurasa tibalah aku di tempat bernama Singapura itu. Aku tak tahu, pun tak peduli tentang tempat ini. Aku hanya peduli tentang perempuan itu. Kini ia sudah dipindahkan ke kamar yang jauh lebih baik daripada kamarnya di rumah sakit lama, tetapi masih kurang jika dibandingkan dengan kamar di istananya. Terlalu banyak mesin dan bau obat yang menusuk. Si perempuan pasti sangat membencinya.

Aku menunggui si perempuan berdampingan dengan suaminya. Kuperhatikan si suami memanjatkan doa-doa tiada henti, tangannya menggenggam tangan si perempuan erat-erat seperti tak berniat melepasnya. Barangkali baru kali ini ia sadar betapa bobot si perempuan telah menyusut menjadi tulang-tulang kecil yang longgar di genggaman. Kuakui aku cemburu. Ia sudah punya waktunya dan menyia-nyiakannya. Aku yang semestinya menggenggamnya sekarang.

Butuh waktu lama untuk meyakinkan diriku. Pada akhirnya aku melakukannya. Ketika tangan si perempuan akhirnya tersentuh jemariku, pertemuan itu diiringi dengan bunyi mesin yang panjang dan garis monoton di monitor. Kulihat si suami menekan tombol di samping tempat tidur si perempuan, wajahnya ketakutan. Tak lama kemudian segerombol orang masuk ke kamar itu dengan gaduh.

Tak apa, aku mengelus punggung tangan si perempuan yang kini dingin dan ringkih, kau sudah bersamaku sekarang. Kau sudah menjelma menjadi aku dan itu sudah cukup untuk membebaskanmu dari keterkungkunganmu.

***

Kini giliran aku  mengintai si suami. Ia tinggal di rumahnya yang bak istana itu seorang diri sekarang, sejak istrinya meninggal. Rutinitasnya berjalan seperti biasanya. Aku tidak heran. Mereka dulunya sepasang suami istri yang tidak saling cinta. Kematian tak semestinya terasa begitu menyakitkan.

Namun suatu pagi kutemukan si suami memukul-mukul pemanggang roti dengan penuh emosi. Tak lama kemudian, dari pemanggang roti itu keluarlah dua lembar roti gandum yang kini berwarna hitam pekat. Gosong. “Mesin dungu,” umpatnya. Ia kembali memukul-mukul pemanggang roti sampai telapak tangannya memerah.

Ketika akhirnya ia merasa puas meluapkan amarah dan pemanggang roti pun sudah penyok di sana-sini, ia duduk di meja makan. Seorang diri, dengan dua lembar roti yang tak lagi menggugah selera.

Itu pertama kalinya aku melihatnya menangis.

(Nesya)

pict: istimewa

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Loading...