Mengenal Inferiority Complex dalam Mentalitas Berbangsa

Suatu kondisi mental yang sudah menjangkiti bangsa Indonesia selama puluhan, bahkan ratusan tahun-

Latar Belakang

Inferiority complex, atau kompleks inferioritas merupakan suatu keadaan dimana seseorang menganggap bahwa dirinya lebih rendah dari manusia di sekitarnya.1 Keadaan ini mirip dengan seseorang sedang mempunyai kepercayaan diri yang rendah atau lebih sering disebut disaat orang merasa down, yaitu ia merasa bahwa orang-orang disekitarnya lebih baik dari dirinya. Hanya saja, yang berbeda dari seseorang yang merasa down, pada keadaan inferiority complex, seseorang menerima bahwa memang dirinya lebih inferior, atau lebih rendah dari orang lain. Perasaan tersebut tertanam dalam benak pikirannya dan sulit untuk dihilangkan.2 Penerimaan dari rasa inferior tersebut menimbulkan dampak yang cukup besar dalam hidup seseorang. Rasa tersebut dapat mempengaruhi cara seseorang bergaul, cara ia hidup dan juga cara ia mengambil keputusan-keputusan penting.

Keadaan inferior tersebut, jika hanya menjangkiti seseorang, hanya merupakan permasalahan orang tersebut dan orang-orang disekitarnya. Namun, adalah sebuah permasalahan tersendiri apabila banyak orang, atau bahkan suatu bangsa dijangkiti kondisi mental tersebut. Jika hal tersebut terjadi, bukan hanya keputusan-keputusan individu yang terdampak dari kondisi ini, tetapi juga keputusan-keputusan dan kebijakan-kebijakan negara juga menjadi terdampak. Hal ini dapat merugikan banyak orang, karena negara sudah tidak lagi mampu untuk secara obyektif menentukan apa yang baik dan tidak bagi bangsanya.

Kondisi dimana sebuah bangsa terjangkiti oleh inferiority complex nyatanya sudah terjadi di negara kita, Indonesia. Banyak dari masyarakat yang menganggap bahwa budaya asing beserta bangsanya lebih superior daripada kita. Salah satu contohnya adalah maraknya orang Indonesia yang “hobi” meminta foto dengan turis asing yang sedang berkunjung.3 Contoh lainnya adalah ketika seseorang lebih memilih produk asing daripada produk lokal. Permasalahan ini, jika tidak ditangani dengan cepat, tentunya dapat menimbulkan masalah yang lebih besar.

Penyebab Inferiority Complex

Konsep pokok atau konstruksi utama psikologi individual adalah bahwa perilaku manusia dipandang sebagai suatu kompensasi terhadap perasaan inferioritas (harga diri kurang). Perasaan lemah dan tidak berdaya timbul dan berkembang karena pengalaman hidup seseorang akibat adanya kekurangan psikologis atau sosial yang dirasakan secara subjektif maupun akibat kelemahan atau cacat yang nyata.4 Manusia dikuasai oleh perasaan banyak kekurangan dan tidak sempurna. Oleh karena itu reaksi mereka terhadap perasaan tidak senang tersebut dengan mencari kesempurnaan, kebebasan, dan keunggulan.

Inferioritas menjadi tidak wajar apabila perasaan inferioritas yang ada dibiarkan begitu saja. Perasaan inferioritas tersebut akan menenggelamkan seseorang pada kondisi yang semakin terpuruk, merasa kurang, tidak mampu, dan tidak berdaya. Manifestasi perilaku inferioritas juga terlihat pada seseorang yang cukup bisa menyesuaikan diri tetapi timbul perasaan kurang percaya diri pada diri sendiri. Rasa kurang percaya diri yang ekstrem tampak seolah-olah mereka selalu dikritik, tidak suka bertemu atau berkenalan dengan orang lain, dan memproyeksikan kesalahannya sendiri kepada orang lain.5

Terdapat dua macam inferioritas yakni inferioritas fisik dan psikologis.6 Inferioritas fisik merupakan perasaan inferioritas karena adanya kelemahan fisik tertentu. Sebagai contoh ada seorang ibu yang masih mengandung memiliki masalah dengan ayah si anak. Akibatnya sang ibu mengalami stres yang dapat mengaktifkan kelenjar endokrin dari tubuh janin sehingga memengaruhi perkembangan otaknya.7 Anak yang lahir dari sang ibu yang mengalami stres berlebihan memungkinkan terjadinya kelainan perilaku dalam hidupnya. Sedangkan inferioritas psikologis biasa terjadi pada anak korban perceraian. Meskipun anak tersebut sudah dewasa dan bisa hidup bahagia tetapi pengalaman perceraian kedua orangtuanya akan melekat sepanjang hidupnya.

Menurut Alfred Adler dalam bukunya Study of Organ Inferiority and Its Physical Compensation, penyebab inferiority complex berawal dari anak dengan dua perlakuan berbeda, yaitu anak yang dimanjakan (spoiling child) dan anak yang ditolak (neglected child). Kedua perlakuan ekstrem orangtua terhadap anaknya akan melahirkan perasaan inferiority complex. Anak yang dimanjakan akan merasa bahwa dunia dan lingkungannya selalu berputar dan berpusat padanya. Suatu saat ketika ia berada di tempat yang tidak memperlakukannya sedemikian rupa, maka hal tersebut dapat membuat anak mengembangkan perasaan inferiornya.

Inferioritas pada perkembangan anak yang ditolak (neglected child) berawal dari keadaan anak yang dirinya tidak diinginkan, ditolak, dan perlakuan berbeda dari orangtuanya. Kondisi itu melahirkan sebuah perasaan ditolak lingkungan dan tidak diinginkan. Anak menjadi kekurangan cinta dan kasih sayang dan menemukan dirinya merasa tidak aman dan nyaman dengan lingkungan. Hal tersebut menyebabkan anak akan mengembangkan perasaan tidak berharga, marah, dan tidak percaya pada lingkungan. Perasaan tersebut berpotensi sebagai media berkembangnya perasaan inferior yang dapat menjadi inferiority complex.

Karakteristik Inferiority Complex

Ketika individu mengalami inferiority complex ada beberapa gejala yang mereka alami, yaitu kepercayaan diri yang rendah, insecurity, ketidakmampuan untuk mencapai suatu tujuan, mudah untuk menyerah, adanya keinginan untuk menarik diri dari situasi sosial, sering merasa murung, serta mengalami kekhawatiran dan depresi.8 Menurut teori Individual Psychology oleh Alfred Adler dikatakan bahwa manusia dikuasai oleh perasaan kurang dan tidak sempurna yang kemudian mendorong individu untuk mengkompensasi perasaan tersebut dalam banyak hal untuk mencari kesempurnaan, kebebasan, dan keunggulan.9 Dalam inferiority complex semua perasaan tersebut cenderung ditunjukan melalui kompensasi atau reaksi berlebihan10 yang didorong oleh alam bawah sadar individu untuk memberikan kompensasi atau reaksi yang berlebihan pada suatu hal.11

Reaksi berlebihan atau overreaction dalam kehidupan sehari-sehari, dapat terlihat melalui sikap masyarakat yang terlalu menghargai karya asing. Overreaction juga terlihat dalam bentuk eksistensi masyarakat yang ingin diakui. Misalnya ketika memberikan tanggapan terhadap media asing yang mengunggah konten positif mengenai Indonesia, dengan mudah masyarakat memberikan reaksi positif yang membual. Sebaliknya, ketika terdapat kritik masyarakat tidak mau  mendengar dan justru mencari celah untuk menjatuhkan media tersebut. Tanpa disadari eksistensi yang ingin ditunjukan masyarakat ini sebenarnya diciptakan untuk menunjukkan kurangnya rasa harga diri secara terselubung dalam inferiorty complex.12

Ketika seseorang mengalami inferiority complex terus menerus, ada kemungkinan ia malah akan mengalami superiority complex. Hal ini sebenarnya merupakan bentuk mekanisme pertahanan yang digunakan orang untuk menyembunyikan perasaan inferioritas mereka yaitu, melalui kompensasi berlebih. Kompensasi berlebih yang dimanifestasikan dalam bluffing inilah yang sering keliru dipahami sebagai superiority complex. Perbedaannya terletak pada kepalsuan perasaan inferior yang diekspresikan dalam pembualan yang agresif dan dalam keaslian egosentris perasaan superior yang diekspresikan dalam sikap acuh tak acuh intelektual.

Dampak dari Inferiority Complex dalam Kehidupan Berbangsa

Dampak inferiority complex dapat terjadi pada kehidupan berbangsa dan bernegara. Seorang warga negara yang berasal dari negara berkembang bisa saja merasa inferior terhadap warga negara lain yang berasal dari negara maju atau negara yang dianggapnya lebih baik. Contoh pertama yang bisa mulai dikritisi adalah respon istimewa warga negara Indonesia terhadap warga negara asing, terutama yang berasal dari Barat. Sikap ‘ramah’ yang berlebihan terhadap orang asing tidak terlepas dari pengaruh imperialisme dan  kolonialisme Barat yang cukup lama tertanam di benak masyarakat.

Pada masa kolonialisme Belanda penduduk dibagi menjadi golongan Eropa, golongan Bumiputera, dan golongan Timur Asing sebagaimana yang diatur dalam Indische Staatsregeling.13 Akibat penggolongan tersebut bumiputera terletak di golongan ketiga, sehingga tidak heran sering mendapatkan diskriminasi oleh penjajah Eropa, termasuk tulisan yang dapat ditemukan pada beberapa tempat pertemuan di masa itu, seperti “Pribumi dan anjing dilarang masuk.” Dimulai dari hal itu, kolonialisme Barat perlahan menanamkan hegemoninya atas pemahaman rakyat Indonesia. Masyarakat lokal yang merasa bahwa dirinya lebih inferior dibandingkan dengan masyarakat asing perlahan mulai meyakini bahwa standar mengenai hal-hal baik ialah yang berkiblat pada Barat, karena mereka sendiri ragu dengan standarnya sendiri. Keadaan demikian dapat melahirkan kepatuhan masyarakat lokal terhadap apa yang dianggapnya ideal, dan kemudian dimanifestasikan dalam ‘sopan santun’ berlebihan terhadap mereka yang dianggap superior.

Pada masalah yang lebih luas, inferiority complex juga dapat membuat seseorang ragu dalam bersaing dengan orang yang dianggapnya superior. Dalam perihal yang konkrit, seorang warga negara yang merasa inferior akan merasa ragu, rendah diri, ataupun pesimis dalam berkompetisi dengan warga negara asing yang dianggap lebih hebat karena berasal dari negara maju. Hal demikian tentu menghambat kemajuan sumber daya manusia di suatu negara. Inferiority complex membuat potensi yang dimiliki seseorang untuk melakukan sesuatu menjadi terdegradasi. Bukannya memikirkan tentang apa yang seharusnya dilakukan, seseorang yang merasa dirinya inferior justru terlalu sibuk memikirkan apakah dirinya mampu bersaing atau tidak dengan sosok yang dianggapnya superior.

Memperbaiki Mentalitas Berbangsa

Sebagai bangsa yang pernah dijajah oleh bangsa lain selama ratusan tahun, bangsa Indonesia telah mengalami inferiority complex selama ratusan tahun pula. Hal itu ditunjukkan dan merupakan akibat dari adanya golongan masyarakat yang diperkenalkan pada masa penjajahan Belanda. Bangsa Indonesia asli yang kala itu disebut sebagai golongan bumi putera dilarang menikmati fasilitas-fasilitas pendidikan yang hanya disediakan bagi golongan Eropa dan Timur Asing. Perasaan yang timbul karena tidak mendapatkan apa yang didapatkan golongan lain itu menimbulkan perasaan kagum terhadap dua golongan tersebut.

Norman Vincent Peale, seorang pendeta Amerika dan seorang penulis yang terkenal dalam mempopulerkan cara berpikir positif, memberikan beberapa saran untuk menghadapi inferiority complex yang diderita oleh banyak orang. Dalam buku The Power of Positive Thinking14, Peale mengajak seluruh pembacanya untuk menghindari berpikiran negatif agar terhindar dari inferiority complex.

Untuk menghadapi perasaan inferiority complex, yang harus dilakukan adalah memformulasikan dalam pikiran tentang gambaran mental diri sendiri yang sukses. Dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, Indonesia merupakan salah satu negara yang sedang berjuang untuk menggaet lebih banyak investor agar masuk ke dalam negeri. Hal ini tentu menimbulkan perasaan minder pada diri investor-investor dalam negeri. Padahal, jika dilihat lebih dekat, seharusnya mereka tidak perlu takut apalagi minder karena merekalah yang lebih tahu keadaan di dalam negeri itu.15 Tak kalah penting juga untuk tidak merasa kecil dibandingkan para investor asing.16 Apalagi, dalam bukunya, Peale juga menganjurkan untuk jangan pernah berpikir perihal kegagalan. Dengan tidak berpikir akan suatu kegagalan bukan berarti terlampau percaya diri akan suatu keberhasilan. Tidak memikirkan kegagalan berarti berani untuk mengambil langkah yang dianggap benar untuk terus maju.

Langkah selanjutnya yang harus ditempuh adalah menghindari rasa kagum yang terlalu besar terhadap sesuatu. Ditilik dalam kehidupan di Indonesia, inilah yang sangat sering terjadi. Salah satu contohnya adalah kebiasaan untuk mengajak orang asing atau lebih dikenal dengan bule untuk berfoto bersama.17 Hal seperti itu lumrah ditemukan di berbagai daerah wisata di Indonesia. Orang Indonesia yang cenderung memiliki inferiority complex akan menaruh kekaguman yang besar terhadap orang-orang bangsa lain yang berimbas pada menjatuhkan bangsa sendiri. Apabila cara ini dilakukan, maka orang Indonesia akan lebih mampu untuk menghargai bangsanya sendiri. Kagum terhadap bangsa lain boleh, tetapi jangan berlebihan.

Tidak kalah penting juga untuk menanamkan rasa nasionalisme dalam diri masyarakat agar kita lebih mencintai dan bangga menjadi bangsa Indonesia. Perlu kita ketahui bahwa rasa cinta, bangga, dan kagum secara berlebihan dapat menjadi bumerang bagi bangsa sendiri. Rasa cinta, kagum, dan bangga yang berlebihan itulah yang sering disebut sebagai chauvinisme. Maka dari itu, cintai dan berbanggalah terhadap negara sendiri secukupnya. Kita memang boleh kagum terhadap bangsa lain, tetapi jangan sampai kita lupa bahwa bangsa ini masih perlu kita untuk berkembang. Jangan sampai kita menjadi terlena akan kekaguman kita terhadap bangsa lain yang membuat kita lupa akan jati diri bangsa dan memiliki perasaan inferior.

Penulis: Afnan Karenina Gandhi, Agrita Permata Sari, Ajhi Fibrianto Purwonegoro, Alfina Puspita Prayogo, Audra Shri Ranatika Sutista, Billa Ratuwibawa, Megy Febrianisyah, Nita Kusuma, Pandu Wisesa Wisnubroto, Savero Aristia Wienanto.
Ilustrasi oleh: Winda Hapsari

Total 0 Votes
0

Tell us how can we improve this post?

+ = Verify Human or Spambot ?

  1. Wendy Wisner, 2019, What is an Inferiority Complex?, The Talkspace Voice, https://www.talkspace.com/blog/inferiority-complex-what-ism. Diakses pada 1 April 2020
  2. Ibid
  3. Akhmad Muawal Hasan, “Mental Bekas Jajahan di Balik Hobi Minta Foto Bareng Bule Asing”, https://tirto.id/mental-bekas-jajahan-di-balik-hobi-minta-foto-bareng-bule-asing-cSEL, diakses 18 Maret 2020
  4. Yulianto, Doni. Adlerian Family Therapy dalam Mengatasi Inferiority di Yayasan Panti Asuhan Yatim Piatu Auliyaa’Rewwin Waru sidoarjo. Diss, UIN Sunan Ampel Surabaya, 2016
  5. Henny Pujianti, “Cognitive Behaviour Play Therapy (CBPT) Untuk Mengatasi Inferioritas Pada Anak”, hal. 5, http://eprints.umm.ac.id/30517/1/jiptummpp-gdl-hennypujia-33879-2-babi.pdf, diakses pada 3 April 2020
  6. Ibid.
  7. Mochamad Fahmy Arief, “Penerapan Konseling Adlerian Untuk Mengurangi Perasaan Inferior dan Meningkatkan Social Interest Pada Pasien Skizofrenia”, hal. 137, http://fppsi.um.ac.id/wp-content/uploads/2019/07/Mochamad-Fahmy.pdf, diakses pada 3 April 2020
  8. Wendy Wisner, Op. Cit.
  9. Ansbacher H.L. & Ansbacher R.R (1964): The Individual Psychology Of Alfred Adler. New York: Harper Torchbook.
  10. Heidbreder E.F. (1927). The Normal Inferiority Complex. The Journal Of Abnormal And Social Psychology.
  11. Syed Muhammad Sajjad Kabir, “Psychological Well-Being, Inferiority Complex And Interpersonal Values Of The Universities’ Students Of Bangladesh”, Jagannath University Research  Cell, hlm. 9.
  12. Ibid.
  13. Hartono Hadisoeprapto, 2011, Pengantar Tata Hukum Indonesia, Liberty, Yogyakarta, hlm. 82.
  14. Peale, Norman Vincent, 2016, (Peale 1952), Om Books International, Uttar Pradesh.
  15. Fajar Pebrianto, “Expert Advises Businessmen to Avoid Inferiority Complex”, https://en.tempo.co/read/921090/expert-advises-businessmen-to-avoid-inferiority-complex , diakses tanggal 7 Maret 2020.
  16. Adler, Alfred, 1992, What Life Should Mean To You, Oneworld Publication, Oxford.
  17. Akhmad Muawal Hasan, Op. Cit.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Loading...