JEJAK-JEJAK MENUJU KEILAHIAN

JEJAK-JEJAK MENUJU KEILAHIAN

Jejak-jejak Menuju Keilahian

Oleh: Savero Aristia Wienanto

 

Selepas mengikuti perkuliahan terakhir sore ini, Abel langsung menuju ke persimpangan Socratic–tempat di mana ia dan Rafael selalu bertukar cerita satu sama lain. Hari ini Abel dan Rafael telah berjanji untuk membahas hal yang tak kalah penting daripada pembahasan mereka di hari-hari sebelumnya.

Rafael yang telah terlebih dahulu sampai, langsung menyapa Abel dan menyuruhnya duduk. Mereka mulai saling menatap dan membuka obrolan dengan menanyakan kabar masing-masing.

Setelah beberapa saat mereka membicarakan beberapa materi perkuliahan dan tingkah laku satu dua dosen yang menyebalkan, Abel mulai membuka perbincangan..

“Apakah kamu tahu bahwa aku mulai meragukan eksistensi Tuhan?”

Rafael tertegun. Ia teringat bahwa seminggu yang lalu ia dan Abel telah membahas soal perkembangan kepercayaan dan berbagai penghayatan tentang Tuhan. Obrolan bersama Abel mengenai Tuhan menjadi salah satu diskusi menarik bagi Rafael. Dan hari ini mereka akan membahas tema itu kembali.

Rafael melanjutkan, “Mengapa kamu meragukan-Nya?”

“Aku meragukan apakah Dia–Yang Maha Kuasa–benar-benar ada atau tidak. Aku telah berusaha mencari-Nya di gereja maupun masjid, namun aku belum sama sekali menemukan jawaban tentang tanda-tanda kehadiran-Nya.”

“Aku rasa kamu harus mulai membuka hati untuk menerima dan meyakini-Nya.”

“Aku tak bisa begitu saja meyakini keberadaan-Nya. Aku butuh bukti yang menunjukkan bahwa Dia benar-benar ada. Namun, aku rasa hal itu mustahil.”

“Mengapa mustahil?” tanya Rafael.

“Tuhan bukanlah objek pengetahuan manusia sehingga penyelidikan tentang-Nya sendiri berada di luar kemampuan manusia. Aku pikir mengetahui tentang keberadaan-Nya juga menjadi semakin rumit jika kita mengingat fakta bahwa Dia sendiri memang tak bisa diselidiki secara empiris. Aku menaruh keheranan: apakah jangan-jangan Tuhan hanya ada dalam pikiran kita semata?”

“Tuhan memang tak bisa kita raba secara empiris. Dia juga tak bisa terlihat di dunia nyata ini dengan kedua mata kita. Namun, meskipun kita tak bisa menginderai Dia, hal itu tak berarti bahwa Dia hanya berada dalam pikiran kita. Masih ada kemungkinan lain bahwa Dia benar-benar ada di dunia nyata ini.  Apa yang ada di dunia nyata tak hanya terdiri dari segala sesuatu yang bersifat fisik, melainkan juga mencakupi segala sesuatu yang bersifat metafisik –yang di antaranya ialah Tuhan.”

Abel mulai menurunkan kacamata yang sebelumnya ia letakkan di atas dahi. Ia mulai bertanya-tanya apakah masih ada peluang lain untuk membuktikan keberadaan Tuhan. Sementara itu, Rafael mulai bersiap-siap memberi pendapat yang pernah ia pelajari dari pastur dan dosen filsafatnya.

Rafael melanjutkan, “Kurasa kita masih berpeluang untuk menemukan jejak-jejak terkait keberadaan-Nya.”

Abel tersenyum dan menjawab, “Aku tak salah menceritakan semua ini padamu!”

“Ada beberapa jalan yang dapat kita tempuh untuk membuktikan keberadaan Tuhan. Sepanjang sejarah umat manusia, kita mengenal beberapa argumen yang telah disampaikan para pemikir besar untuk menemukan jalan menuju-Nya.”

“Jelaskan satu per satu kepadaku. Aku siap menyimak semuanya.”

Rafael sejenak menghela nafas. Ia tersenyum untuk membalas raut ceria dari wajah Abel. Mereka mulai duduk saling berhadapan, sementara langit sore semakin cerah. Rafael kembali melanjutkan.

“Kita mulai dengan pandangan Immanuel Kant yang membagi beberapa cara membuktikan adanya Tuhan ini lewat tiga jalan utama. Kemudian, kita akan membahas juga beberapa jalan lain yang masih relevan.”

“Lanjutkan.”

Pertama, argumen ontologis. Di sini kita akan membuktikan Tuhan dengan hakikat ketuhanan itu sendiri.”

“Coba jelaskan.” sahut Abel.

“Pembuktian ini pertama kali diajukan oleh Anselmus dari Canterbury. Ia mengajukan tesis termasyurnya: Tuhan adalah zat yang manusia tidak dapat menggambarkan zat yang lebih besar daripada-Nya.

Abel melanjutkan, “Dia adalah zat maha besar sehingga manusia tak dapat lagi menggambarkan hal yang lebih besar daripada kebesaran-Nya?”

“Tepat sekali.” sahut Rafael. “Hal ini membawa dua konsekuensi. Pertama, Dia tidak hanya ada dalam pikiran kita, melainkan Dia ada di kenyataan ini dengan segala kemahabesaran-Nya. Apabila Dia hanya berada dalam pikiran, maka Dia bukan zat maha besar lagi. Kedua, wujud Tuhan yang berada di dunia nyata ini membawa kesimpulan bahwa Dia benar-benar exist.”

“Luar biasa.” ucap Abel.

“Namun kita belum selesai. Masih ada lagi.”

 “Aku masih mendengarkan.”

“Kita memiliki Rene Descartes yang juga menyusul untuk membuktikan. Ia melihat kenyataan bahwa manusia dapat memikirkan segala sesuatu yang tak terbatas, sementara manusia sendiri terbatas. Ia mulai mempertanyakan: siapakah yang memberikan manusia kemampuan itu?”

Abel segera menjawab, “Zat Yang Tak Terbatas.”

“Betul sekali.” sambung Rafael, “Kemampuan untuk memikirkan sesuatu yang tak terbatas itu diberikan oleh zat yang maha tak terbatas. Bagi Descartes manusia memiliki kemampuan bawaan untuk mengenal Tuhan lewat pikirannya.”

Abel yang cukup terkesima sudah tidak bisa lagi berkata-kata. Keheranan muncul saat ia harus membayangkan apa bentuk zat terbesar yang bisa ia pikirkan? Ia heran bagaimana mungkin ia bisa memikirkan berbagai impian-impian indah yang beraneka macam, sekaligus bertanya-tanya mengapa ia memiliki kemampuan untuk membayangkan dan memikirkan segala sesuatu, bahkan yang sifatnya tak terbatas – misalnya seperti konsep tentang Tuhan?

Abel kembali menatap Rafael: “Ayo, lanjutkan.” katanya.

“Kita akan masuk ke bagian kedua., yakni soal argumen kosmologis.

“Baiklah.”

“Apakah kamu menyadari bahwa segala macam peristiwa yang terjadi di dunia ini bersandarkan pada sebuah hukum kausalitas yang mengikat?”

“Setiap kejadian yang terjadi merupakan akibat dari kejadian yang terjadi sebelumnya. Sementara itu, setiap kejadian yang ada merupakan penyebab atas terjadinya kejadian yang akan datang.”

“Kamu jenius!” sambung Rafael, “Hukum kausalitas di alam semesta ini mensyaratkan ketergantungan antara satu kejadian dengan kejadian lain. Dengan kata lain, akan ada keterkaitan antar fenomena yang terjadi.”

“Lalu apa hubungannya dengan Tuhan?”

“Segala sesuatu berasal dari sesuatu yang lain. A berasal dari B, B berasal dari C, dan seterusnya. Jika rangkaian itu kita ibaratkan mata rantai yang saling bertalian, lantas di manakah rangkaian rantai itu harus diletakkan agar mata rantai yang telah tersusun itu tak berjatuhan dan tak berceceran?”

“Aku pikir kita harus menyediakan tiang gantungan.”

“Tepat sekali.” sahut Rafael, “Hukum kausalitas itu juga membutuhkan tiang gantungan yang menjaga agar hukum sebab-akibat tetap bertahan. Dalam istilah Aristoteles kita menyebutnya sebagai first cause atau sebab pertama.”

Abel melanjutkan, “Jadi maksudmu, sebab pertama yang menggerakkan hukum kausalitas di alam semesta ini adalah Tuhan?”

“Bravo!”

“Aku baru sadar soal ini.”

“Tak hanya sampai di sini, kita akan melihat pula penjabaran lain yang relevan dengan argumen ini.”

“Baik. Ayo, teruskan.”

Abel minum sebentar. Ia terkesima dengan penemuan Aristoteles soal sebab pertama yang melandasi segala macam hukum kausalitas yang ada di dunia. Sekarang ia semakin penasaran dengan perkembangan teori tersebut.

“Dalam tradisi filsafat Islam, argumen kosmologis ini dilanjutkan oleh Al-Kindi sehingga lahirlah dalil al-huduts –yakni argumen kebaruan. Al-Kindi berpendapat bahwa alam semesta kita yang luas ini tetaplah terbatas. Alam semesta ini pernah tak ada, kemudian ada, dan akan kembali dalam ketiadaan.” lanjut Rafael.

“Jadi, alam semesta memiliki awal dan akhir?”

“Betul sekali.” sambung Rafael, “Alam semesta ini bersifat relatif. Ia terikat dengan ruang dan waktu. Segala sesuatu yang ada di dunia ini menempati suatu ruang tertentu sekaligus terbatas dalam jangka waktu tertentu. Sebagai contoh, bumi terletak di tata surya yang mana juga berada dalam Galaksi Bima Sakti, hal itu membuktikan bahwa bumi menempati ruang tertentu. Selanjutnya kita juga menemukan kenyataan bahwa ada masa di mana bumi ini terbentuk dan selalu ada kemungkinan bahwa suatu saat bumi ini akan hancur. Bumi sendiri memiliki umur yang terbatas dalam kehadirannya di dunia.”

Abel kembali bertanya, “Lantas apakah semua yang ada di dunia ini suatu saat akan sirna begitu saja?”

“Tepat sekali. Alam semesta tak bersifat azali –atau dalam kata lain tak mempunyai awal dan akhir. Jagat raya beserta isinya ini bersifat fana. Mereka akan binasa pada waktunya.

“Jadi, apakah yang membuat semua benda di alam semesta yang relatif itu menjadi ada dan tiada?”

“Ada sosok Yang Mutlak di mana Dia melandasi segala hal yang bersifat relatif. Dia adalah penyebab segala bentuk relatif yang baru. Itulah mengapa Al-Kindi menamakan pendapat ini sebagai argumen kebaruan. Kita sampai pada kesimpulan: segala yang relatif selalu mensyaratkan adanya Yang Mutlak.

“Bagaimana ciri dari Yang Mutlak itu?” tanya Abel.

“Pertama, Dia tak terikat ruang dan waktu, sebab Dia-lah yang menghadirkan keduanya. Kedua, Dia bersifat azali, sebab Dia tak memiliki awal maupun akhir –Dia selalu ada. Ketiga,  Dia bersifat tunggal, sebab jika Yang Mutlak itu berjumlah dua atau lebih, maka kemutlakannya dapat dibatalkan dengan sendirinya karena terdapat dua atau lebih kekuatan yang saling membatasi satu sama lain.”  

Abel kembali membayangkan betapa fananya dunia ini. Ia menyadari bahwa kehidupan yang ada di dunia ini datang dan pergi. Di samping adanya penciptaan yang membahagiakan dan melahirkan harapan, ia juga sadar bahwa ada batas akhir yang harus memisahkan. Ia kembali merenungkan tentang kefanaan semua yang ada di dunia ini, termasuk kemutlakan yang melandasi kehadirannya.

Rafael meneruskan, “Kita sampai pada yang ketiga.”

“Aku masih betah mendengarkan.”

“Kita akan membahas tentang argumen teleologis.”

“Ayo, jelaskan.”

“Segala peristiwa di alam semesta tak terjadi secara kebetulan, namun seakan-akan mengarah pada suatu tujuan tertentu.”

“Aku masih bingung.” sahut Abel, “Coba berikan aku contoh.”

“Mengapa setelah terjadinya Big Bang muncul alam semesta? Mengapa di antara alam semesta itu terdapat tata surya? Dan, mengapa di dalam tata surya itu terdapat bumi? Atau mungkin kita akan bertanya lagi, mengapa ada kehidupan di bumi ini?”

“Pertanyaan yang cukup sulit.”

“Kita harus mengingat bahwa kemungkinan terjadinya bumi ini sangatlah kecil. Peluang keberhasilan terciptanya bumi yang ada seperti sekarang ini cukuplah kecil apabila kita membandingkannya dengan peluang lain yang bisa saja membawa bentuk lain pada bumi ini.”

“Wah, aku mulai paham.” lanjut Abel, “Namun, bagaimana dengan kehidupan? Apakah penjabarannya akan sama?”

“Kurang lebih demikian. Peluang terciptanya organisme pertama yang hidup di bumi cukuplah kecil bila dibandingkan dengan peluang kegagalannya. Peluang terbentuknya Homo sapiens dalam evolusi makhluk hidup juga cukup kecil apabila dibandingkan dengan segala peluang kegagalannya.”

“Semua yang ada telah diarahkan?” tanya Abel sambil menatap Rafael.

“Betul sekali.” sambung Rafael, “Kita bisa juga bicara soal anatomi tubuh. Mengapa mata harus berada di kepala? Bisakah kamu membayangkan apabila peluang lain –seperti misalnya mata yang terletak di lutut– menjadi kenyataan?”

“Menyeramkan! Aku bersyukur dengan kedua mataku yang terletak di kepala ini.” lanjut Abel, “Namun, ada hal yang membuatku heran. Kemana tujuan segala keterarahan ini? Siapa yang mengarahkan segalanya?”

“Bagi Aristoteles, seluruh kejadian di dunia mengarah pada sang final cause –yakni Tuhan. Dia akan menjadi tujuan segala kejadian yang ada di dunia.” sambung Rafael, “Argumen ini dikembangkan lebih lanjut oleh Ibnu Rusyd. Baginya, segala sesuatu yang terjadi di dunia ini terjadi karena adanya prinsip keteraturan. Keserasian di alam semesta ini menunjukkan bahwa ada sosok yang mengarahkan. Segala peristiwa di jagat raya ini merupakan hasil dari arahan-Nya.”

“Luar biasa!”

Abel mulai memikirkan tentang bagaimana keteraturan yang ada di dunia ini, seperti rotasi dan revolusi bumi. Penjabaran Rafael sejauh ini telah memberikan banyak insight baru untuk Abel.

Abel melanjutkan, ”Apakah masih ada lagi?”

“Tentu. Untuk yang keempat, kita akan membahas soal argumen moral.”

“Aku akan menyimak.”

“Argumen ini pertama kali dirumuskan oleh Immanuel Kant. Namun, untuk lebih sederhananya, aku akan menjabarkan lebih ringkas.”

“Baiklah.”

“Di dalam hati nurani manusia terdapat kesadaran mutlak untuk memilih hal yang benar. Nah, dari situ, kesadaran untuk memilih hal yang benar itu tidak tiba-tiba muncul dari dalam diri kita sendiri maupun berasal dari pemberian orang lain. Kesadaran itu berasal dari realitas mutlak yang kemudian kita sebut sebagai Tuhan.”

“Jadi, maksudmu Tuhan memberikan kita kesadaran tentang sesuatu yang benar, baik, adil, dll?”

“Tepat sekali.” sambung Rafael, “Dia –Sang Maha Benar– memberikan kita kesadaran moral.”

Abel mulai tertarik dengan argumen ini. Ia berjanji pada Rafael untuk mempelajarinya lebih lanjut selepas pulang. Sekarang Rafael mulai kembali menatap Abel.

“Kita akan membahas yang bagian terakhir.” ucap Rafael.

“Baikah”

“Kita akan bertemu dengan argumen pengalaman religius yang dipopulerkan oleh Muhammad Iqbal.” sambung Rafael, “Baginya, pencarian tentang Tuhan lebih berdasarkan pada intuisi daripada rasio. “

“Coba jelaskan.”

“Menurutnya, pengalaman religius yang diolah secara tepat dapat mengantarkan manusia untuk mengenal Tuhan. Pengalaman ini merupakan bagian dari hasrat keagamaan yang derajatnya lebih tinggi daripada hasrat filsafat rasional. Hal yang menjadi penekanan di sini adalah keyakinan batin bahwa keberadaan Tuhan didasarkan pada perasaan mereka yang telah mengalami pengalaman langsung –secara batin– terkait eksistensi-Nya.”

“Jadi, pengetahuan soal Tuhan yang lebih murni dapat diperoleh dengan intuisi kita dalam menemukan diri-Nya daripada pemikiran rasional terkait sosok-Nya?”

“Tepat sekali.”

Abel tersenyum dan merasa sedikit lega sebab telah mendapat sedikit titik terang. Rafael juga terlihat senang bisa membantu Abel dalam memecahkan teka-teki ini. Sebelum mereka bersiap-siap untuk pulang ke rumah masing-masing, sebuah obrolan penutup diajukan.

“Apakah berbagai argumen tentang keberadaan Tuhan itu dapat membawa kita pada pemahaman yang sempurna mengenai diri-Nya?”

“Dengan keterbatasan yang dimilikinya, manusia hanya dapat mencari jejak-jejak menuju keilahian. Sementara itu, pemahaman seseorang soal Tuhan akan semakin sempurna apabila ia memasukkan unsur terpenting yang melandasi seluruh kerangka pemahamannya –yakni iman kepada-Nya.”

 

Karangan ini merupakan hasil pengembangan materi yang pernah saya sampaikan dalam (a) Diskusi “Menalar Tuhan: Merefleksikan Kembali Makna Ketuhanan dalam Kehidupan” yang diselenggarakan oleh BPPM Mahkamah FH UGM pada 26 Februari 2020 dan (b) Kultum Ramadhan “Eksistensi Tuhan di Tengah Kejahatan dan Penderitaan” yang diselenggarakan oleh KMFH UGM pada 2 Mei 2020. Dalam penulisan karangan ini, saya menaruh hutang besar pada karya-karya Franz Magnis-Suseno, Zaprulkhan, K. Bertens, dan David Trueblood, sekaligus untuk kuliah-kuliah umum yang disampaikan oleh Fahruddin Faiz.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Loading...