Rehat articles

Aku Membunuh

Sepoy angin mulai mengusap pipi penuh jerawat ini. Sinar mentari yang meredup berhasil menamatkan lamunan panjangku. Aku mengangkat pantatku dari kursi biru di sudut kiri beranda rumahku. Kutempelkan tanganku di gagang pintu, tapi aku tidak membukanya. Aku berhenti dan membiarkan otakku berfikir. Butuh waktu cukup lama sampai akhirnya aku membuka pintu berukir bunga itu. Pintu

Burhan, Pengendara Motor Abadi di Kampung Lele

Oleh Ade Wulan Fitriana, FH UGM 2016 Sudah menjadi mitos tersendiri di Kampung Lele untuk tidak berkendara pada malam hari. Bagi yang melanggar akan meninggal secara tragis seperti Burhan. Raden Bagus Burhanuddin Syafe’i, seorang lelaki pendiam yang hidup dalam keramaian. Ia tampan, sopan, dan cerdas. Kecerdasannya telah dibuktikan dengan hasil prestasi dan nilai yang bagus

Wanita Yang Jauh di Sebrang

  Oleh : W.Bahari (2016) Yang ku diam begitu ramai tiadalah air begitu melimpah disini aku tunduk diam dan berandai sejenak ku redam indera ini ku rasakan lepas tanpa ku sadari ya… itu yang ku maksud tapi bukan, bukan kenari melainkan melati tapi kau bilang tak mungkin.. aku bilang itu ya sudahlah bu.. ku pijak

Soto Ayam

Oleh: Umar Mubdi Sebagaimana galibnya, sekitar pukul setengah lima pagi, azan subuh dikumandangkan. Masjid terletak tak jauh dari kontrakan Irfan. Irfan secara rutin sembahyang berjamaah di sana. Begitu pula pagi itu. Dia bersama mahasiswa rantau lainnya mulai memasuki masjid. Seusai sembahyang, Irfan menjabat ramah tangan jamaah di samping kiri-kanannya. Ia tidak lupa merapalkan zikir dan

Kosong

Yang Tersayang, Gayatri, semestaku, satu-satunya milikku yang paling berharga. Hari itu kau datang padaku dengan air mata, masih ingatkah? Kutanya, apa yang menyebabkan kau menangis duhai cinta? Katamu manusia. Manusia yang tega, tanpa belas kasih, membunuh ulat yang lemah tak berdaya. Begitu juga aku. Aku dengan tega dan tanpa belas kasih membunuh koloni semut yang

Bulan Mei 2013

Gerimis di mataku Alangkah dinginnya, berdenyar gigilku. Bibirku biru Membiru jugakah anganmu?   Angin putih di mataku Menggelisahkan daun-daun Yang tertingkah dan luluh Meluluh jugakah kasihmu?   (2015)     – Umar Mubdi -

Puisi Hening Bagi Engkau

Ada hening menanting Mengentalkan kabut di batinku terbaring Sayup desahmu berdegup menyusup hati Bergereseh lewat lubang-lubang dinding.   Terkaca di matamu cerlang angkasa Seakan pantulan dian seakan cuaca Menjagakan siang di waktu malam Di mana lentera menyala menerjemahkan mentari.   Rindu merubung sayang merubung Gairah membenam sebuku demi sebuku Bayangmu yang mungil menyeruak kembali Mencegah

Isyarat Senyum

11:17 Belum tuntas rapat, aku harus pergi. Seorang adek angkatan sudah menunggu di luar. Hari ini kami ada janji mencari berita. Aku tersenyum yang kalau diterjemahkan kira-kira “Terimakasih sudah menunggu”. Siang itu terik menyengat. Kulit pasti menghitam-batinku. Tapi motor tetap melaju dengan kecepatan sedang ke tujuan awal.   11:42 Sampai di tempat. Sebuah sekolah. Tampak

Top
Twitter Auto Publish Powered By : XYZScripts.com