Cerpen articles

Dua Sisi

Dua Sisi Oleh: Tata Wardhani Tubuh Mayang tergeletak di atas kasur kamar tidurnya. Matanya yang indah terbuka, tetapi tidak lagi memancarkan kehangatan. Tubuh telanjangnya kini kaku. Darah membanjir dari lehernya, mewarnai seprai yang telah menjadi saksi bisu kehidupan cintanya bersama suaminya. Kini seprai putih itu pun menjadi saksi bisu pemerkosaan dan pembunuhannya. Seorang lelaki bertubuh

Aku Membunuh

Sepoy angin mulai mengusap pipi penuh jerawat ini. Sinar mentari yang meredup berhasil menamatkan lamunan panjangku. Aku mengangkat pantatku dari kursi biru di sudut kiri beranda rumahku. Kutempelkan tanganku di gagang pintu, tapi aku tidak membukanya. Aku berhenti dan membiarkan otakku berfikir. Butuh waktu cukup lama sampai akhirnya aku membuka pintu berukir bunga itu. Pintu

Burhan, Pengendara Motor Abadi di Kampung Lele

Oleh Ade Wulan Fitriana, FH UGM 2016 Sudah menjadi mitos tersendiri di Kampung Lele untuk tidak berkendara pada malam hari. Bagi yang melanggar akan meninggal secara tragis seperti Burhan. Raden Bagus Burhanuddin Syafe’i, seorang lelaki pendiam yang hidup dalam keramaian. Ia tampan, sopan, dan cerdas. Kecerdasannya telah dibuktikan dengan hasil prestasi dan nilai yang bagus

Kosong

Yang Tersayang, Gayatri, semestaku, satu-satunya milikku yang paling berharga. Hari itu kau datang padaku dengan air mata, masih ingatkah? Kutanya, apa yang menyebabkan kau menangis duhai cinta? Katamu manusia. Manusia yang tega, tanpa belas kasih, membunuh ulat yang lemah tak berdaya. Begitu juga aku. Aku dengan tega dan tanpa belas kasih membunuh koloni semut yang

Senyum Esok Hari

Oleh: Ayu Tika Pravindias Mak Jinah telah selesai menanami setengah sawah dengan benih jagung ketika suaminya menyandang pacul hendak pulang. Segera dipungutnya caping reyot dan dijinjingnya tas rotan berisi bekal makanan tadi siang. Hari sudah beranjak petang, Iman dan Imah pasti sudah menunggu di rumah. “Mak, Mbak Imah belum pulang lagi,” kata Iman yang menunggu

Di Balik Pohon Berduri

Oleh : Umar Mubdi Pada suatu hari saya cukup terkejut mendapati pohon berduri tumbuh subur di halaman belakang rumah saya. Kata “cukup” perlu ditandai sebab belum pernah sbelumnya saya melihat pohon itu secara sadar. Barangkali karena pohon berduri itu adalah sesuatu yang tak penting sehingga secara tidak sadar ia kerap luput dari pandangan dan perhatian

Mabuk Kacang Hijau

“Nggak mau. Adik nggak mau ngerjain tugas. Dikumpulkannya masih lama tahu!” Hentakan si adik mengagetkan seisi rumah sesaat setelah si adik pulang dari main. “Mama sama Kakak nggak tahu ya kalau Adik lagi nggak mood. Huh!” “Heh, nyicil saja kok. Tuh lihat tumpukan tugasmu. Mau sampai kapan kamu diamkan? Sampai bertelur?” Serobot si Kakak sambil

60 Menit Terakhir

Dingin. Cuaca menjadi lebih ekstrim pada setiap detiknya. Menyakitkan. Jatuh itu sakit rasanya, lebih sakit lagi ketika tidak ada kesanggupan baginya untuk bangkit. ‘Masih berapa lama lagi waktuku?’   37 menit terakhir Nafasnya memburu. Udara dingin tak lagi membuatnya lebih baik. Ia menangis dalam diam. Berusaha memasukkan sebanyak-banyaknya udara melalui hidungnya. Tapi tak bisa, udara

Top
Twitter Auto Publish Powered By : XYZScripts.com