Rehat articles

Isyarat Senyum

11:17 Belum tuntas rapat, aku harus pergi. Seorang adek angkatan sudah menunggu di luar. Hari ini kami ada janji mencari berita. Aku tersenyum yang kalau diterjemahkan kira-kira “Terimakasih sudah menunggu”. Siang itu terik menyengat. Kulit pasti menghitam-batinku. Tapi motor tetap melaju dengan kecepatan sedang ke tujuan awal.   11:42 Sampai di tempat. Sebuah sekolah. Tampak

NATUR(AL)

Anggun sekali kau, cantik! Sosokmu dalam, menarik! Butamu memantik nurani Sunyimu cumbu berkah bumi Murnimu manja sekali Diinjak kau menyanyi Dicium kau menari Budimu anggun sekali Baik tentu bersekat sendiri Baik tentu bukan analogi Tapi doktrin maha tinggi Hai, agamamu apa sayang? Oh, maaf! Sungguh alpa menyingkap bilikmu. Lanjutkan saja bercinta dengan-Nya Lumat sampai puas!

Senyum Esok Hari

Oleh: Ayu Tika Pravindias Mak Jinah telah selesai menanami setengah sawah dengan benih jagung ketika suaminya menyandang pacul hendak pulang. Segera dipungutnya caping reyot dan dijinjingnya tas rotan berisi bekal makanan tadi siang. Hari sudah beranjak petang, Iman dan Imah pasti sudah menunggu di rumah. “Mak, Mbak Imah belum pulang lagi,” kata Iman yang menunggu

Di Balik Pohon Berduri

Oleh : Umar Mubdi Pada suatu hari saya cukup terkejut mendapati pohon berduri tumbuh subur di halaman belakang rumah saya. Kata “cukup” perlu ditandai sebab belum pernah sbelumnya saya melihat pohon itu secara sadar. Barangkali karena pohon berduri itu adalah sesuatu yang tak penting sehingga secara tidak sadar ia kerap luput dari pandangan dan perhatian

Surat Kaleng dan Secangkir Kopi Pahit

Prosa Fransisca Fitriana Riani Candra Ini awal pagiku, bocah. Berdiri di antara jajaran manusia berkemeja rapi dan berdasi serasi.Yang pikirannya melulu tentang gaji tinggi dan naik jabatan.Sampai tua rela jadi anjing yang berlomba menjilat tuannya. Sebelum bekerja dengan tumpukan masalah hendakku buat secangkir penuh kopi hitam. Bubuknya kiriman bapak dari kampung. Menderita aku karena baunya.

Mabuk Kacang Hijau

“Nggak mau. Adik nggak mau ngerjain tugas. Dikumpulkannya masih lama tahu!” Hentakan si adik mengagetkan seisi rumah sesaat setelah si adik pulang dari main. “Mama sama Kakak nggak tahu ya kalau Adik lagi nggak mood. Huh!” “Heh, nyicil saja kok. Tuh lihat tumpukan tugasmu. Mau sampai kapan kamu diamkan? Sampai bertelur?” Serobot si Kakak sambil

Menjadi Tanah dan Angin

Kemudian butiran senja menghambur Menyudutkan setiap sudut kota menjadi butiran kabut Yang memanjang di setiap sisinya Mengelabuhi para petualang yang kehilangan jejak   Lalu cakrawala pun menafikkan takdirnya Menjembatani siang menjadi kelabu Melukiskan pelangi di malam Entah kelam atau iman, tak begitu berbeda   Dewa di atas sana mungkin sedang bingung Meringkuk di balik kelambu

Waktu yang Perlahan Merubahnya

Aku amati dia Dari lama, lama sekali   Dia duduk, tak selang waktu dia bangkit, lalu berdiri Menarik napas dalam Benar-benar dalam –seperti seluruh udara ingin dihirupnya– Sepuluh detik setelahnya Dia membuka mulut hendak berteriak   Berteriaklah dia, Ingin dunia mendengar remuk redam isi otaknya, Tapi dunia memilih diam Dia menurunkan getaran frekuensi hingga tinggal

Top
Twitter Auto Publish Powered By : XYZScripts.com