Sajak articles

Wanita Yang Jauh di Sebrang

  Oleh : W.Bahari (2016) Yang ku diam begitu ramai tiadalah air begitu melimpah disini aku tunduk diam dan berandai sejenak ku redam indera ini ku rasakan lepas tanpa ku sadari ya… itu yang ku maksud tapi bukan, bukan kenari melainkan melati tapi kau bilang tak mungkin.. aku bilang itu ya sudahlah bu.. ku pijak

Bulan Mei 2013

Gerimis di mataku Alangkah dinginnya, berdenyar gigilku. Bibirku biru Membiru jugakah anganmu?   Angin putih di mataku Menggelisahkan daun-daun Yang tertingkah dan luluh Meluluh jugakah kasihmu?   (2015)     – Umar Mubdi -

Puisi Hening Bagi Engkau

Ada hening menanting Mengentalkan kabut di batinku terbaring Sayup desahmu berdegup menyusup hati Bergereseh lewat lubang-lubang dinding.   Terkaca di matamu cerlang angkasa Seakan pantulan dian seakan cuaca Menjagakan siang di waktu malam Di mana lentera menyala menerjemahkan mentari.   Rindu merubung sayang merubung Gairah membenam sebuku demi sebuku Bayangmu yang mungil menyeruak kembali Mencegah

Isyarat Senyum

11:17 Belum tuntas rapat, aku harus pergi. Seorang adek angkatan sudah menunggu di luar. Hari ini kami ada janji mencari berita. Aku tersenyum yang kalau diterjemahkan kira-kira “Terimakasih sudah menunggu”. Siang itu terik menyengat. Kulit pasti menghitam-batinku. Tapi motor tetap melaju dengan kecepatan sedang ke tujuan awal.   11:42 Sampai di tempat. Sebuah sekolah. Tampak

NATUR(AL)

Anggun sekali kau, cantik! Sosokmu dalam, menarik! Butamu memantik nurani Sunyimu cumbu berkah bumi Murnimu manja sekali Diinjak kau menyanyi Dicium kau menari Budimu anggun sekali Baik tentu bersekat sendiri Baik tentu bukan analogi Tapi doktrin maha tinggi Hai, agamamu apa sayang? Oh, maaf! Sungguh alpa menyingkap bilikmu. Lanjutkan saja bercinta dengan-Nya Lumat sampai puas!

Surat Kaleng dan Secangkir Kopi Pahit

Prosa Fransisca Fitriana Riani Candra Ini awal pagiku, bocah. Berdiri di antara jajaran manusia berkemeja rapi dan berdasi serasi.Yang pikirannya melulu tentang gaji tinggi dan naik jabatan.Sampai tua rela jadi anjing yang berlomba menjilat tuannya. Sebelum bekerja dengan tumpukan masalah hendakku buat secangkir penuh kopi hitam. Bubuknya kiriman bapak dari kampung. Menderita aku karena baunya.

Menjadi Tanah dan Angin

Kemudian butiran senja menghambur Menyudutkan setiap sudut kota menjadi butiran kabut Yang memanjang di setiap sisinya Mengelabuhi para petualang yang kehilangan jejak   Lalu cakrawala pun menafikkan takdirnya Menjembatani siang menjadi kelabu Melukiskan pelangi di malam Entah kelam atau iman, tak begitu berbeda   Dewa di atas sana mungkin sedang bingung Meringkuk di balik kelambu

Waktu yang Perlahan Merubahnya

Aku amati dia Dari lama, lama sekali   Dia duduk, tak selang waktu dia bangkit, lalu berdiri Menarik napas dalam Benar-benar dalam –seperti seluruh udara ingin dihirupnya– Sepuluh detik setelahnya Dia membuka mulut hendak berteriak   Berteriaklah dia, Ingin dunia mendengar remuk redam isi otaknya, Tapi dunia memilih diam Dia menurunkan getaran frekuensi hingga tinggal

Top
Twitter Auto Publish Powered By : XYZScripts.com