Ayah, Perairan, dan Kata-Kata dalam Perjalanan

Ayah, Perairan, dan Kata-Kata dalam Perjalanan

Judul : Siddhartha

Penulis : Hermann Hesse

Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama

Jumlah Halaman : 168

Tahun Terbit : 2014

Peresensi : Olivia Philip

Ayah adalah belenggu, entah karena cinta, karena gairah, atau amarah. Seperti kata Sylvia Plath , Ayah adalah patung besar mengerikan, dengan satu kaki abu-abu, yang kepalanya menyembul di tengah samudera, menghantui seperti mercusuar. Sayangnya, Ayah kadang mati sebelum kita sempat membunuhnya.

Siddhartha, Buddha Gautama, pernah terbelenggu oleh Ayah. Dengan jujur ia meninggalkan kemewahan Ayah, pergi dari Ayah, ingin membunuh kuasa Ayah dalam dirinya. Ia pergi sebagai Ayah pula, tetap membelenggu meski tak ingin. Rahula terbelenggu oleh cinta Ayah, juga cintanya kepada Ayah. Di hadapan Ayah, Rahula tak pernah lebih istimewa daripada manusia-manusia lain di bumi.

Seperti halnya yang dialami oleh Siddhartha, putra Brahmana, dalam kisah oleh Hermann Hesse. Ia pun Ayah, terbelenggu dan kelak membelenggu. Sama seperti Buddha Gautama, ia terbelenggu karena gairah untuk pergi dari gemerlap Ayah, kemewahan duniawi; membelenggu pun karena cinta. Bedanya, Siddhartha ini, Ayah ini, kelak membelenggu dirinya sendiri. Cinta buta kepada anak lelakinya membuat ia lupa, ia memang buta, ia buta terhadap jalan orang selain dirinya.

Ia berusaha membelenggu anak lelakinya dengan cinta, berharap dibalas, namun yang ia terima hanyalah dendam dan amarah. Ia membelenggu dirinya sendiri; ia terbelenggu oleh usahanya membelenggu. Sungai, perairan suci itu, mentertawakannya, tapi ia tidak peduli. Ia tetap Ayah.

***

Ayah selalu membuat saya teringat laut, sebagaimana laut selalu membuat saya teringat Ayah. Bulan Juli lalu, saya pulang bersama Ayah ke Pantai Pasir Panjang . Dari dermaga, meski samar tertutup kabut, terlihat kepala Otto Plath menyembul, mengawasi dengan ribuan mata. Banyaknya sama dengan mata sungai tempat Siddhartha pernah berpikir untuk bunuh diri. Mungkin memang benar, mata-mata perairan membuat kita ingin tenggelam, dalam makna harafiah atau tidak. Namun Siddhartha berkata, pekerjaan kata-kata adalah membuyarkan makna.

Siddhartha percaya bahwa ajaran tidak akan membawamu pada kesempurnaan. Ajaran, kata-kata, pemikiran yang dibagikan, semuanya adalah ketimpangan. Kesempurnaan hanya dapat diraih dengan kesabaran. Kata-kata hampir selalu tergesa-gesa, seperti kebanyakan orang yang menyeberangi sungai di dekat tempat tinggal Siddhartha dan seorang kawan.

Siddhartha banyak belajar dari sungai itu, salah satunya adalah tentang kesabaran. Siddhartha belajar menjadi amat sabar, menjadi pendengar yang amat baik. Ia banyak mendengar dan ia mendengar banyak. Dari sana ia temukan kedamaian, ia capai kesempurnaan. Senyumnya pun adalah senyum orang sempurna. Ia telah berjalan jauh dan menjadi sungguh sempurna.

***

Siddhartha karya Hermann Hesse ini, meski terdiri dari kata-kata, bukanlah hanya sekadar kata-kata. Siddhartha adalah sebuah perjalanan; awal sebuah perjalanan panjang yang menyenangkan. Membacanya sangat menggembirakan, menimbulkan cinta karena sebuah pikiran seperti ini: ia seperti aku.

Kesimpulannya, bacalah. Novel ini bukan untuk diceritakan, tapi untuk dijalani, dibaca dengan hati. Percayalah, kamu mau eksplorasi sendiri, cari kepingnya sendiri, sesap racunnya sendiri.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Loading...