Menggugat Istilah Kritik yang Membangun

Menggugat Istilah Kritik yang Membangun

Beberapa waktu silam, saya dibuat melongo oleh pernyataan salah seorang kawan  yang dengan kalemnya menyatakan bahwa kubu oposisi hanyalah sekumpulan orang yang cuma pintar mencari kejelekan dari pemerintahan Jokowi sekarang ini. Yang lebih menakjubkan lagi adalah ketika kawan tersebut berkata seperti ini : “kampret-kampret itu cuma pinter komentar tapi gak bisa kasih saran. Mbok ya kalau ngasih kritik itu yang membangun.” Persis setelah kalimat tersebut keluar dari mulutnya, sebenarnya saya ingin menatap wajahnya lalu menertawakan dia.

Di era di mana jempol sering kali bicara lebih cepat dari apa yang sesungguhnya ingin disampaikan otak seperti sekarang ini, memang terkadang terasa masygul ketika membaca tulisan yang bernada nyinyir. apalagi jika tulisan tersebut ditujukan kepada orang yang dinyinyirin (re : diberi kritikan) sehingga terkadang orang tersebut membalas dengan kalimat yang tidak kalah gagahnya : “jangan cuma bisa komentar, sini kasih solusinya. Kalau gak ada solusinya berarti kritikanmu gak membangun”.

Kritik yang membangun. Dilihat dari sejarahnya, istilah kritik yang membangun dipopulerkan oleh pemerintahan Orde Baru, di mana pemberi kritik sering kali justru dibebani untuk sekalian mencari solusinya oleh pihak yang dikritik. Akibatnya adalah pemberi kritik sering kali terjebak dalam situasi ‘ingin mengkritik tapi tidak punya solusi’ sehingga memilih diam saja, atau kalau memberi kritikan (yang tentunya tanpa solusi tersebut), si pengkritik itu memberi nada yang bersifat memuji sebelum memberikan kritikannya. Hal ini diperparah dengan kondisi kebebasan berpendapat pada era Orde Baru, yang sepertinya tidak perlu saya jelaskan lebih jauh, pembaca sudah tahu sendiri seperti apa keadaannya. Salah ngomong sedikit bisa jadi cangkingan intel Koramil. Kalau cuma disuruh wajib lapor sih mending. Tapi kalau… Sudahlah, saya ngeri bayanginnya.

Lagi pula, sebenarnya sejak awal istilah kritik yang membangun sudah salah kaprah. Kritik merupakan kerja kritis untuk melihat sebuah persoalan secara jeli, dimana yang dilihat bukan hanya kebaikannya tapi juga kejelekannya sehingga apabila kritikan lebih banyak sisi negatifnya, maka hal itu dapat disebut dengan kecaman, sedangkan apabila banyak sisi positifnya, maka hal itu disebut pujian.

Adapun istilah membangun lebih bermakna positif karena hasilnya akan menyenangkan. Untuk memudahkan penjelasan saya, ilustrasinya begini : jelas tidak mungkin Anda akan mengkritik pemerintah yang sedang gencar melakukan pembangunan dengan dana yang berasal dari hutang luar negeri tapi tidak punya solusi, lalu memberi kritik dengan berkata : “Saya bangga sekarang pembangunan di wilayah Indonesia Timur sedang gencar-gencarnya, tapi mbok ya jangan pakai hutang buat membangun.” See? Bukannya merasa dikritik, yang ada pemerintah justru cuma cengengesan dengarnya. Bukan tidak mungkin juga justru dibalas dengan kalimat, “Lalu apa solusimu?”

Nah, belum lama ini, jagat persilatan di sebuah fakultas yang terletak di jalan Sosio Yustisia heboh dengan postingan salah seorang mahasiswa yang memberikan kritikan terhadap jajaran dekanat dan salah seorang dosen. Kritikan tersebut, secara substansial, sebenarnya cukup bagus dan menurut hemat saya sudah berhasil lepas dari doktrin ‘kritik yang membangun’ yang sangat Orbais itu. Sayangnya, kritikan tersebut justru kehilangan maknanya karena sang pengkritik melontarkan kata-kata yang lebih sering disebutkan ketika lagi gojek gentho tersebut. Pun begitu, orang itu pernah berkata kepada saya kalau dia tidak anti kritik, hanya saja lebih suka kalau kritikan tersebut disampaikan secara personal. Etika dalam mengkritik, katanya. Sungguh, saya kehabisan kata-kata dengan orang yang apabila dikritik selalu mengedepankan etika tetapi ketika mengkritik justru membuang jauh-jauh etika yang selalu dijunjungnya.

“Lalu, apa hubungannya kritikan mahasiswa tersebut dengan istilah kritik yang membangun? Terus kenapa kritikanmu sendiri awalnya memuji mahasiswa tersebut lalu baru memberi kritikan? Bukannya itu sama saja dengan kritik yang membangun?”

Ah, dasar Orbais. (Mahendra Wirasakti)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Loading...