Suara Emas dari Si Penghuni Setia Lapangan Sekolah 

Suara Emas dari Si Penghuni Setia Lapangan Sekolah 

Jika harus membenci satu hal di pagi hari: bukan perkara soal bangun pagi, omelan ibu yang memekakan telinga, air di bak mandi yang dingin, atau ributnya suara ayam milik tetangga. 

Orang-orang. 

Bella benci akan fakta bahwa hari ini ia harus kembali bertemu dengan orang-orang di sekolah. 

“Dek, ayo cepat! Nanti ayah terlambat sampai di kantor,” teriak ayah dari atas motor.

Bella dengan kecepatan secepat kilat menyisir rambutnya, lebih tepat dikatakan menarik-narik rambutnya secara asal dengan jari, menyemprotkan parfum, lalu mengambil ranselnya dari atas meja belajar. Sempurna. Ujarnya dalam hati di depan kaca sesaat sebelum berlari ke halaman dan berangkat bersama ayahnya. 

Perjalanan dari rumah Bella hingga sekolah tidak terlalu jauh. Dua puluh menit dengan berjalan dan sepuluh menit dengan menggunakan kendaraan bermotor. Acapkali jika ia terlalu malas bangun pagi, Bella lebih memilih untuk berjalan ke sekolah. Akan tetapi, hari ini adalah hari pertama di semester baru. Sudah menjadi tradisi di setiap semester baru, Bella harus berangkat bersama ayahnya. “Ayah ingin mengantar dan mendoakanmu secara langsung agar semester barumu berjalan lancar.” 

Tidak ada yang istimewa dari kehidupan sekolah Bella. Selain materi pelajaran yang terus berubah, setiap semester selalu berjalan sama bagi Bella. Tidak ada bunga-bunga bermekaran atau kejadian-kejadian dramatis layaknya di drama-drama sekolah. Dia hanya menghabiskan seluruh waktunya di sekolah dengan berada di dalam kelas. Sulit menemukan seorang Bella bergosip ria di kantin bersama kumpulan anak-anak perempuan, berkeliling di sekitar lapangan, atau sekadar duduk-duduk di depan kelas. Bella lebih banyak menghabiskan waktunya dengan menggambar sketsa di dalam kelas.

Dia malas untuk bersosialisasi. Atau jika diperhalus, dia adalah seorang yang penyendiri. 

Satu-satunya teman yang Bella miliki hanyalah Aya. Sahabatnya sejak sekolah menengah pertama. Kesabaran Aya menghadapi sifat Bella yang malas untuk bersosialisasi hingga mereka menginjak bangku seragam putih abu-abu masih menjadi misteri bagi Bella sampai sekarang. Sebab Aya tidak seperti Bella. Aya adalah orang yang periang dan senang bersosialisasi. 

“Ehem…ehem…ehem.” Seseorang menepuk pundak Bella ketika ia tiba di depan gerbang sekolah. 

“Ehem…ehem…ehem.” Orang itu bersuara semakin keras, menutut perhatian darinya. Bella pun akhirnya mengalah dan menolehkan kepala ke arah sumber suara. Sahabatnya, Aya sudah berdiri di sampingnya dengan senyum cerah tersungging di wajah. 

“Kamu tahu, kelakuanmu setiap tahunnya semakin tidak jelas,” ujar Bella mencoba terdengar kesal. 

Akan tetapi, sahabatnya itu hanya tersenyum. “Kelakuanku memang tidak jelas, tapi kamu menyayangiku, kan?” 

“Hhhmm…yah. Aku juga tidak tahu bagaimana bisa diriku terjebak bersamamu selama bertahun-tahun.” 

Suasana sekolah masih terbilang cukup sepi. Dikarenakan harus berangkat bersama ayahnya, Bella harus berangkat dari rumah pukul 6 lebih 10 menit agar ayahnya tidak terlambat sampai di tempat kerja. Jadi sangat wajar sekolah masih sangat sepi mengingat Bella sampai di sekolah pukul 6 lebih 20 menit. 

Lapangan sekolah yang biasanya penuh diisi dengan anak laki-laki bermain sepak bola, saat ini hanya diisi oleh satu pengunjung. Seorang anak laki-laki berambut cepak dengan seragam yang sudah agak kekecilan berjalan mengitari lapangan sekolah. Sejak pertama menginjakkan kaki di sekolahnya, Bella sudah melihat pemandangan ganjil tersebut. Anak laki-laki itu terus berjalan memutar mengelilingi lapangan setiap pagi sampai lapangan penuh dimonopoli anak-anak laki-laki lain yang ingin bermain sepak bola. Anehnya lagi, sepagi apapun Bella sampai di sekolah, anak laki-laki itu sudah berada di lapangan dan sedang mengitarinya.

Awalnya, Bella sangat penasaran dengan kebiasaan yang dilakukan anak laki-laki itu. Sempat terbersit di pikirannya untuk mengajak berkenalan dan mencari tahu lebih dalam tentangnya. Namun, kemalasan Bella akan bersosialisasi dan prinsip hidupnya yang ingin keberadaannya terlihat sesamar mungkin, membuatnya urung bertanya. Sampai suatu hari, Aya bercerita bahwa anak laki-laki itu adalah kakak kelasnya satu tingkat lebih tinggi. Ia menderita suatu penyakit kulit yang membuatnya dijauhi oleh anak-anak lain. Teman-teman seangkatan anak laki-laki itu takut jika berdekatan dengannya, mereka akan tertular. Oleh karena itu, anak laki-laki itu terus menghabiskan waktunya sendirian. 

Jauh di dalam lubuk hati Bella, ia merasa kasihan dengan anak laki-laki itu. Akan tetapi, jiwa kemalasan bersosialisasinya yang lebih besar membuatnya memilih mengabaikan anak laki-laki itu juga. Di samping itu, Bella juga tidak tahu harus memulai dari mana jika harus mengajaknya bicara. Seumur hidupnya, orang lain selalu mengajaknya berkenalan terlebih dahulu bukan dia yang mengajak orang lain berkenalan. 

Aya yang menyadari sedari tadi sahabatnya memandangi penghuni setia lapangan sekolah itu, menarik lengan Bella ke arah kelas mereka yang terletak di lantai dua. “Aku heran dengan orang tuanya. Anaknya terkena penyakit kulit kenapa tidak diobati, ya. Padahal aku dengar keluarganya adalah keluarga yang mampu. Lihat itu sepatunya saja sepatu bermerk.” 

Bella hanya mengangguk merespon perkataan Aya. 

***

“Kenapa mereka tidak bisa diam?” 

Bella sama sekali tidak bisa berkonsentrasi dengan sketsa miliknya. Sejak guru Bahasa Jawa memberikan tugas nembang, suasana kelas yang semula damai menjadi ramai dengan suara anak-anak yang berlatih nembang. Tidak ada ketenangan yang tersisa bagi Bella. Seluruh teman-teman sekelasnya mengisi setiap sudut kelas dan mulai berlatih bernyanyi dengan suara lantang. Suara dua puluh sembilan anak bergabung menjadi satu membentuk paduan suara, tetapi tidak membentuk keseragaman nada. Di sampingnya, Aya turut berlatih nembang dengan nada yang Bella ragu itu adalah nada yang benar. Tidak ada kemiripan sekali antara rekaman suara penyanyi yang Aya unduh dari internet dengan apa yang Aya coba nyanyikan sekarang. 

“Bisakah kamu diam sebentar saja? Aku sedang mencoba menyelesaikan sketsaku. Aku tidak bisa berkonsentrasi kalau kamu terus bernyanyi dengan suara sumbangmu di samping telingaku.”

“Pertama, Bel. Bukan sketsa yang harus kamu khawatirkan sekarang karena suaramu juga tidak jauh lebih baik dariku. Kedua jika kamu sengotot itu ingin menyelesaikan sketsamu sekarang, lebih baik kamu yang mencari tempat sepi. Tidak ada satu pun anak di sini yang rela waktu latihannya terbuang hanya karena kami mengganggu konsentrasimu menggambar.” Bella mendengus. 

“Baiklah. Aku yang keluar,” ujar Bella sebal seraya meninggalkan tempat duduknya. 

Dibandingkan dengan suasana kelas yang riuh, suasana di luar kelas cukup kondusif. Hanya ada beberapa anak yang duduk di luar kelas sedang bercengkrama dengan temannya. Selebihnya sepi. Di lapangan hanya ada anak laki-laki misterius yang terus berjalan mengelilingi lapangan sekolah. 

Bella pun memutuskan pergi menuju lapangan sekolah kemudian duduk di tepinya. Sketsa yang ia kerjakan selama kurang lebih seminggu belum menunjukan tanda-tanda selesai. Kali ini Bella menggambar pemandangan di samping rumah neneknya yang ia foto melalui telepon genggam tahun lalu. Pemandangannya sangat cantik. Ada pegunungan dan sawah-sawah yang tidak bisa ditemui sama sekali di kota. 

Bella segera mengeluarkan telepon genggamnya dari saku lalu kembali melanjutkan sketsanya yang tertunda. Sampai ketika ada suara merdu yang tertangkap kedua telinganya. Awalnya, Bella berpikir ia berhalusinasi. Ia juga ragu jika suara yang ia dengar adalah suara dari salah satu anak kelasnya yang sedang berlatih nembang di dalam kelasnya karena nada yang terdengar sama sekali bukan nada tembang Jawa. 

Bella menolehkan kepalanya ke sana ke mari mencari asal sumber suara. Namun, ia tidak melihat sesuatu yang berpotensi menghasilkan suara lembut selembut sutera yang didengarnya sekarang. Sepertinya pikiranku jadi kacau karena terlalu banyak mendengar suara orang nembang. 

I believe in angels…Something good in everything I see…”

Bella langsung menolehkan kepalanya ke asal sumber suara dan menemukan sesuatu yang mengejutkan. Suara itu berasal dari anak laki-laki misterius yang berjalan mengitari lapangan. Anak laki-laki itu bergumam dengan suara rendah, tapi cukup untuk didengar oleh Bella dengan jelas. 

Suara anak laki-laki itu terus tertangkap oleh radar pendengaran telinga Bella dan akan semakin jelas saat ia lewat di hadapannya. Suaranya sebening suara aliran air, selembut kain sutera, dan terdengar manis semanis madu di telinga Bella. Untuk beberapa saat, Bella melupakan alasan kenapa ia yang sangat benci keluar kelas, duduk di tepi lapangan. Bella sejenak mengabaikan buku sketsanya. Ia terlalu terbuai oleh  alunan suara dari anak laki-laki misterius itu. 

Ia sampai-sampai tidak sadar jika waktu hampir menunjukan pukul tujuh. Bella dengan berat hati meninggalkan lapangan dan anak laki-laki misterius bersuara emas itu.

***

Kemudian seperti sudah menjadi rutinitas, Bella akan berangkat pagi dan langsung memposisikan dirinya duduk di tepi lapangan untuk mendengar nyanyian anak laki-laki bersuara misterius itu. Bella akan membawa buku sketsa bersama dirinya lalu melanjutkan sketsanya di sana. Secara tidak langsung ditemani oleh anak laki-laki misterius itu. 

Tidak ada interaksi di antara mereka. Bella hanya akan diam dengan buku sketsanya di tepi lapangan dan anak laki-laki itu juga tetap bergumam mengitari lapangan. Pernah suatu pagi, Bella mencoba mengajaknya berkenalan. Keberanian itu didapatkannya dari keinginan Bella untuk meminta anak laki-laki itu menyanyikan sebuah lagu. Bella dengan buku sketsa tergenggam di tangannya, mendatangi anak laki-laki itu kemudian mengulurkan tangan. “Hai Kak, Aku Bella dari kelas 11 IPA-1.” Sayangnya, anak laki-laki misterius itu justru ketakutan dan berlari meninggalkan Bella terbengong di lapangan. 

Sejak saat itu, Bella menyerah untuk mencoba mengajaknya berbicara. Namun, Bella tidak kehabisan akal. Dia meneriakan judul lagu yang ingin ia dengar lalu secara ajaib anak laki-laki itu menyanyikannya untuk Bella. 

Hari ini Bella meminta anak laki-laki misterius itu untuk menyanyikan lagu berjudul Beautiful in White yang dinyanyikan oleh Shane Filan. Suara manis dan bening milik anak laki-laki misterius tersebut langsung mengisi rongga-rongga telinga Bella. Ketenangan dan kesejukan memenuhi pikiran Bella secara misterius, semisterius kehadiran anak laki-laki itu. 

Bella merasa bahagia mendengarkan anak laki-laki itu bernyanyi. Ia ingin berada dalam bilik relung suara anak laki-laki itu selama mungkin.

Sebelum kembali ke kelas, meskipun Bella tahu usahanya tidak akan berhasil. Bella meneriakan sesuatu kepada anak laki-laki misterius itu. “Kak! Suara kakak bagus! Sangat bagus! Aku merasa bahagia dan tenang setiap mendengar kakak bernyanyi! Terima kasih sudah banyak bernyanyi untukku!” 

Sesuai dugaan, tidak ada balasan apapun dari anak laki-laki misterius itu. Bella pun melangkahkan kakinya pergi meninggalkan lapangan. Dia tidak tahu bahwa anak laki-laki itu tersenyum mendengar pujiannya. 

***

Ketika terus disibukkan dengan berbagai kegiatan, waktu akan berlalu terasa sangat cepat. Baru saja rasanya mengawali semester baru, Bella sudah sampai di penghujung semester. 

Hari ini tidak ada kegiatan pembelajaran bagi anak-anak kelas sepuluh dan sebelas. Semua guru-guru menghadiri wisuda bagi anak-anak kelas dua belas yang praktis membuat adik-adik kelas mendapatkan jam kosong. 

Berbeda dengan teman-temannya yang ikut menyaksikan wisuda kakak-kakak kelasnya, Bella seperti biasa memilih duduk di dalam kelas. Bella tidak suka berada di keramaian. Ia memilih menghabiskan jam kosongnya dengan mendengarkan lagu melalui telepon genggamnya. Setelah ujian nasional berakhir, Bella tidak lagi menemukan anak laki-laki misterius itu berjalan mengitari lapangan. Bella rindu akan suaranya, tetapi tidak bisa berbuat banyak. Ia tidak mengenal anak laki-laki itu dan terlalu malu untuk bertanya kepada siapa pun, termasuk sahabatnya Aya. Bella akhirnya hanya mendengarkan kembali lagu-lagu yang pernah ia minta untuk dinyanyikan melalui telepon genggamnya seperti sekarang. 

“Bel…Bella..” Seseorang menggoyang tubuhnya dengan keras. Bella yang semula memejamkan mata, tersentak kaget. 

“Ada yang cari kamu, tuh. Bapak-bapak,” ujar salah satu teman sekelas Bella. 

Bella mengernyitkan dahinya. Ia tidak ada ide siapa gerangan bapak-bapak yang mencarinya di sekolah. 

Dengan perasaan kebingungan, Bella pergi keluar kelas untuk menemui bapak-bapak yang mencarinya. Bapak-bapak itu adalah laki-laki paruh baya sekitar umur empat puluh tahunan. Penampilannya rapi dengan kemeja berwarna putih, celana keki, dan rambut yang disisir ke belakang. Saat melihat Bella, bapak itu tersenyum ramah seraya mengulurkan tangannya. 

“Ini Bella, ya?” 

“Iya saya Bella, Pak. Kalau boleh tahu Bapak siapa, ya?”

“Saya bapaknya Danis.” Bella tidak pernah mendengar nama itu sebelumnya. Seingatnya tidak ada temannya yang bernama Danis.

Melihat wajah Bella yang kebingungan, laki-laki paruh baya itu pun melanjutkan, “Ah, kamu pasti tidak kenal Danis, ya. Anak itu sangat pemalu. Danis anaknya penyendiri. Dia menghabiskan waktunya di sekolah dengan berjalan mengitari lapangan. Entah apa tujuannya.”

“Ah…oh…” 

Bella tidak tahu harus menanggapi apa. Menemukan fakta bahwa anak laki-laki misterius itu bernama Danis membuatnya terkejut. Ditambah dengan kehadiran ayah Danis yang tiba-tiba menemuinya, semakin membuat Bella tidak bisa memikirkan satu kalimat pun yang bagus untuk diutarakan. 

“Saya cuma mau mengucapkan terima kasih. Terima kasih sudah mau berteman dengan Danis. Sejak menderita penyakit kulit, dia jadi suka menyendiri dan mengurung diri. Padahal dulu anaknya ceria. Kami sudah membawanya ke mana-mana, tapi tidak kunjung sembuh juga. Danis sudah putus asa. Tapi sejak ada Bella, Danis jadi ceria lagi. Dia jadi semangat berangkat sekolah.”

“Saya tidak melakukan apa-apa, Pak. Saya Cuma duduk diam di tepi lapangan, mendengarkan Danis bernya…” sebelum sempat menyelesaikan kalimatnya, ayah Danis meraih tangan Bella dan menggenggamnya erat. 

“Itu berarti banyak, Nak. Danis suka sekali bernyanyi sejak kecil. Dia suka bernyanyi di depan orang tuanya. Sayang setelah besar dia jadi pemalu dan tidak pernah lagi mau bernyanyi di depan kami. Setelah Bella rutin mendengarkan Danis bernyanyi, Danis jadi percaya diri lagi dan berani menyuarakan cita-citanya sebagai penyanyi,” kata ayah Danis dengan mata berbinar-binar.

“Saya…”

“Terima kasih sekali, ya Nak. Kami sungguh berhutang banyak kepada Bella. Setelah kelulusan ini, kami berencana membawa Danis ke Amerika Serikat untuk menyembuhkan penyakit kulitnya. Danis berpesan dia ingin menemui Bella kembali setelah pulang dari Amerika Serikat.” 

Bella tidak tahu harus berkata apa. Seorang Bella yang selalu menjauhi keramaian dan benci berinteraksi dengan orang lain bisa menjadi alasan seseorang untuk bangkit. Ia merasa tidak melakukan apapun. 

Bella selama ini hanya diam dan mendengarkan anak laki-laki itu bernyanyi. Tidak lebih. 

“Bella tidak perlu melakukan sesuatu untuk membuat orang lain merasa lebih baik. Cukup dengan selalu menemaninya sudah banyak membantu orang tersebut agar tidak merasa kesepian. Itu yang Bella lakukan kepada Danis kami. Terima kasih, ya Nak.” 

Mendengar perkataan ayah Danis itu, membuat Bella tersentak sekaligus memahami apa yang sedari tadi coba disampaikan oleh laki-laki paruh baya itu. Dia memang tidak melakukan sesuatu yang istimewa, tetapi kehadirannya selama ini menemani Danis bernyanyi setiap pagi ternyata berhasil menumbuhkan kepercayaan anak laki-laki itu kembali. 

Pertama kalinya sejak berbicara dengan ayah Danis, Bella tersenyum. “Iya sama-sama, Pak. Senang bisa membantu Danis.” 

Penulis: Rosa Pijar

Foto: Arpit Jain, behance.net

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Loading...