Strategi Edukasi dan Kampanye Anti Korupsi untuk Kaum Milenial

Strategi Edukasi dan Kampanye Anti Korupsi untuk Kaum Milenial

Ketua Umum Future Leader of Anti Corruption (FLAC) Indonesia, Arif Hermanto mengatakan anak-anak muda bisa menerapkan strategi edukasi dan kampanye anti korupsi melalui lima langkah yang meliputi masalah hingga melakukan evaluasi berkala. Tindakan tersebut bisa diterapkan mulai dari lingkup terkecil, yaitu diri sendiri.

“Temen-temen bisa terapkan (edukasi dan kampanye) di diri sendiri atau mungkin di organisasi temen-temen atau di komunitas temen-temen bergabung,” ucap Arif dalam webinar berjudul Kontribusi Nyata Kaum Milenial dalam Gerakan Anti Korupsi pada Minggu (12/12).

Menurut Arif, strategi edukasi dan kampanye anti korupsi diawali dengan mengenali masalah sekitar, dilanjutkan dengan menentukan target kampanye, menentukan bentuk kampanye, memilih media kampanye, dan melakukan evaluasi.

Sebagai contoh praktiknya, Arif menayangkan video dokumentasi singkat yang berisi kegiatan edukasi dan kampanye FLAC Jakarta yang bernama Laskar Anti Korupsi. Kegiatan yang diselenggarakan pada 2018 itu menyasar anak-anak sekolah dasar sebagai target kampanye. Pesan kampanye disampaikan dalam beragam bentuk games dan diskusi yang mudah dipahami anak-anak.

“Kegiatan kita memang dekat, kreatif, edukatif, dan menyenangkan. Jadi kayak ada dongeng, terus ada main board game, terus juga ada sesi diskusinya dengan temen-temen disana,” jelas Arif.

Arif menilai bahwa penting pula untuk memastikan kegiatan edukasi dan kampanye anti korupsi berjalan secara berkelanjutan. Menurutnya, edukasi dan kampanye anti korupsi bukan sekadar kegiatan seremonial yang dilaksanakan satu atau dua tahun saja, sehingga pelibatan peran masyarakat luas khususnya kaum milenial juga penting untuk mendukung keberhasilan kampanye.

“Peran masyarakat harus kita lanjutkan dari sisi edukasi dan kampanye. (Harus) ada persiapan penting untuk (kampanye) berkelanjutan,” papar Arif.

Persiapan penting agar kampanye berjalan berkelanjutan adalah dengan memastikan kegiatan tersebut memiliki sifat-sifat tertentu. Arif mengatakan optimis adalah sifat yang esensial. Perlu ada dorongan untuk terus maju meskipun terkadang capaian target tidak sesuai dengan rencana. Kampanye sebaiknya dilakukan bersama-sama agar kreativitas konsep gagasan kampanye lebih beragam. Di samping itu, kampanye akan menarik lebih banyak massa jika mengangkat tema yang up to date. Arif juga menegaskan bahwa substansi kampanye tetap harus berintegritas.

“Kaum milenial itu harus anti korupsi. Tanpa terasa sekarang kita sudah menginjak era revolusi industri 4.0 yang banyak menghasilkan industri pabrik-pabrik cerdas. Ada tren otomatis dan komputasi,” ujar Adriano selaku dosen Fakultas Hukum Unair.

Menurut Adriano, revolusi industri 4.0 berimplikasi pada kemudahan mengendalikan teknologi dari jarak jauh dan melakukan pertukaran data terkini. Namun, data yang dipertukarkan di internet tidak seluruhnya bermanfaat. Kaum milenial sebagai pihak yang mendominasi penggunaan teknologi harus waspada agar tidak meninggalkan jejak digital yang buruk.

Agent of change (sebagai) salah satu unsur kaum milenial tidak punya pilihan lain kecuali harus anti korupsi. Korupsi sekecil apapun misalnya suap, jangan dilakukan. Karena begitu jejak saudara terekam secara digital maka itu akan terus ada untuk selamanya,” kata Adriano.

Penulis: Fitria Amesti, Putri Pertiwi

Penyunting: Athena Huberta

Foto: BPPM Mahkamah

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Loading...