web analytics
JANGAN SAMPAI AKADEMIKMU MENGGANGGU KEGIATAN ORMEKMU: DRAMA ORMEK KELAS WAHID DI LINGKUNGAN KAMPUS FH UGM

JANGAN SAMPAI AKADEMIKMU MENGGANGGU KEGIATAN ORMEKMU: DRAMA ORMEK KELAS WAHID DI LINGKUNGAN KAMPUS FH UGM

Disclaimer:

  1. Tulisan ini bukanlah tulisan yang bersifat ilmiah melainkan tulisan opini yang  bersumber dari observasi pribadi penulis. 
  2. Pembaca diharapkan membaca rubrikasi dagelan ini dengan bijak! Baca sampai tuntas agar tidak menimbulkan kesalahpahaman.
  3. Terdapat catatan penulis pada akhir tulisan.

Organisasi Ekstra Kampus atau yang eksis disebut ORMEK dalam perspektif mahasiswa Fakultas Hukum UGM (FH UGM) identik dengan organisasi seperti Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM), Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI), Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) dan Himpunan Mahasiswa Islam (HMI). Namun, agaknya GMNI dan HMI dinilai mendapat perlakuan dan pandangan yang khusus oleh Mahasiswa FH UGM secara umum. Kedua ORMEK tersebut dipandang merupakan kelompok eksklusif yang memiliki karakteristik hanya berkumpul dengan kroni-kroni satu ORMEK-nya. Orang yang suka drama pasti juga menyukai, bahkan akan kegirangan bukan main untuk mengikuti keanggotaan kelompok seperti itu, bukan? Bahkan, persaingan politik di lingkungan kampus pun akan terasa biasa saja tanpa ditaburi bumbu bumbu playing victim dan drama kontroversial. Tidak hanya itu, kedua ORMEK tersebut kiranya hanya berisi orang-orang radikal yang kerapkali mendidih telinganya dan langsung menggonggong galak ketika mengklaim kelompok tercintanya telah dilecehkan walaupun mereka terkadang tidak bisa membuktikan klaim tersebut.

Mahasiswa yang mengikuti ORMEK memiliki karakteristik dari segi pergaulan. Memang karena sifat kegotong royongan yang terlalu melekat, abang-abangan kampus ini sering berkumpul dengan kelompok kesayangannya. Namun, tak jarang dapat kita lihat mereka menjadi kaum nomaden yang berpindah-pindah kelompok dan terlihat sok akrab dan sok dekat dengan kelompok barunya. Barang tentu mereka dititahkan petinggi petinggi ormeknya untuk menjaring kader baru sebanyak satu trah, kalau tidak mereka dapat ditendang dan diusir dari kandangnya sehingga mereka akan mempersiapkan penjaringan kadernya dengan sangat matang. 

Bangun pagi, sarapan dengan buku-buku ideologi, tak lupa dilengkapi dengan wejangan dari para ahli tentang tips n trik menggaet kader untuk di-kaderisasi. Mereka pun kemudian akan berangkat dengan optimisme tinggi, sembari mengantongi kata-kata rayuan manis yang telah disiapkan untuk memikat mangsa atau calon kader barunya. Sesampainya di kampus, mereka menunggu waktu yang tepat untuk beraksi, tepatnya jam istirahat. Waktu istirahat menjadi waktu yang pas karena mahasiswa-mahasiswa polos akan beranjak ke kantin atau ke pujale. Abang-abangan kampus pun akan turut bergumam “wah wes wayahe tampil!” disusul dengan mahasiswa polos yang serentak berteriak dalam hati “awas negara api mulai menyerang!”. Oleh karena dedikasi mereka yang besar terhadap keberlangsungan ormeknya, mereka mendapat bermacam julukan kehormatan seperti, “Bung dan Sar Besar”, “kakandakuh dan yundakuh”,  “Para Petugas Ideologi”, dan julukan yang lain.

Kondisi diatas menggambarkan betapa sulitnya menjadi anggota ORMEK. Selain mereka kekurangan gizi akademik karena misi sucinya, tidak sedikit orang berprasangka bahwa akan ada gesekan antara ORMEK satu dengan yang lain. Dalam konteks FH UGM, kondisi tersebut kemudian mendorong terjadinya persaingan kelas kakap yang kental akan adu gengsi antara GMNI vs HMI. Persaingan dalam menentukan siapa yang paling overpower dan siapa yang paling payah dalam menjaring kader baru. Tak hanya itu persaingan juga terjadi dalam perebutan jabatan yang memaksa kader-kader terlibat untuk mengundang sosok setara sengkuni atau krisna sebagai mentor politiknya. Sehingga agaknya bagi anak hukum UGM pertandingan seperti Piala Dunia, UCL, UFC, dan pertandingan olahraga tingkat dunia lain akan kalah seru dibanding pertandingan GMNI vs HMI. Mungkin saja doktrin “jangan sampai akademikmu mengganggu kegiatan ormekmu” tertanam kuat dan dijadikan dasar bertindak bagi kader-kadernya.

Akan tetapi, diluar segala ke-gayengan itu,  mahasiswa non-ORMEK justru menjadi waspada dan menganggap bahan bakar segala kegiatan ormek didapatkan setelah merongrong nilai IPK kadernya. Selain itu, mereka juga khawatir kualitas kemesraan hubungan mereka dengan teman-teman kentalnya akan redup jika mereka terlibat suatu ormek. Pikiran itu, tentu menentukan arah mahasiswa non-ORMEK untuk bersikap defensif terhadap rayuan maut para salesman-salesman ORMEK. Ada yang menolak karena strict parentsgak boleh ama papaku”, ada yang menolak karena kesibukan lain “aku udah sibuk bolak balik klaten”, ada yang menolak karena alergi sungu banteng, ada yang beralasan tidak terlalu agamis “jujur aku jarang sholat lo”, bahkan ada yang mengelak dengan alasan yang terbilang cukup lucu, “lha wong aku NU kok” padahal dia juga tahu bahwa NU organisasi keagamaan bukan organisasi kemahasiswaan. 

Dugaan-dugaan diatas adalah bentuk logical fallacy, cacat logika, tidak dapat dibenarkan, dan terlalu subjektif. Hal ini karena bentuk pola pikir diatas adalah pola pikir Hasty Generalization atau argumen yang menggeneralisasi sesuatu. Seolah-olah semua kader suatu ORMEK pasti radikal, kuliahnya berantakan, dan diskriminatif. Padahal, Ormek seperti GMNI, HMI, dan ORMEK lain sebenarnya tidak jauh berbeda dengan Organisasi Intra Kampus salah satu contohnya Dewan Mahasiswa. Artinya, tindak tanduk kader-kader Ormek pun sebenarnya normal-normal saja selayaknya mahasiswa pada umumnya. Memang benar terkadang terdapat oknum-oknum tertentu yang tindak tanduknya sesuai dengan dugaan-dugaan diatas. Namun, bukan berarti oknum-oknum tersebut adalah cerminan kader-kader ormek yang lain.

Disamping itu, ORMEK sebenarnya memberikan manfaat yang besar bagi kader-kadernya. Diantaranya pemahaman terhadap suatu ideologi, networking, dan program kerja lain yang berupaya meningkatkan kualitas akademik kadernya. Oleh karenanya, Logical Fallacy mahasiswa umum terhadap suatu ORMEK tentunya harus diluruskan. Tak lupa, oknum-oknum yang menimbulkan citra negatif terhadap ORMEK kiranya harus ditata ulang dengan penuh keseriusan agar dugaan-dugaan yang saya gambarkan diatas tidak lagi menjangkit pikiran para mahasiswa.

 

Penulis: Radea Basukarna Prawira Yudha

Penyunting: Fitria Amesti

 

Catatan Redaksi:

 

Tentang tulisan BPPM Mahkamah berjudul “Jangan Sampai Akademikmu Mengganggu Kegiatan ORMEK-mu: Drama ORMEK Kelas Wahid di Lingkungan Kampus FH UGM”

Tulisan tersebut adalah tulisan opini yang diterbitkan dengan rubrikasi atau segmen Dagelan. Tanggung jawab tulisan tersebut berada penuh di tangan saya sebagai pemegang hak cipta. Untuk mengantisipasi adanya kesalahpahaman oleh pembaca, maka berikut ini adalah penjelasan penulis:

Tulisan ini berangkat dari keresahan penulis terhadap Logical Fallacy yang dialami oleh mahasiswa awam dalam memandang ORMEK berdasarkan Observasi Langsung yang dilakukan oleh penulis terhadap mahasiswa Fakultas Hukum UGM. dari observasi tersebut penulis menemukan tidak sedikit mahasiswa awam yang salah memahami mengenai ORMEK. Tidak sedikit dari mereka beranggapan bahwa kegiatan ORMEK hanya berfokus pada peta persaingan politik kampus, seperti jabatan strategis di organisasi maupun kepanitiaan, pengkaderan anggota-anggota organisasi atau lembaga di kampus, dll. Tidak berhenti sampai disitu, bahkan mahasiswa awam tak jarang menilai bahwa persaingan politik yang terjadi antar ORMEK dilakukan dengan cara yang kotor dan kental akan nepotisme. Segala pandangan tersebut memang ada benarnya sebab terdapat beberapa oknum anggota ORMEK  yang bertindak demikian. Namun, bukan berarti semua kader ORMEK selalu bertingkah demikian. Sehingga pandangan bahwa semua kader ORMEK memiliki birahi yang terlampau tinggi terhadap jabatan politik kampus adalah pandangan yang salah kaprah.  Secara teori pandangan atau pikiran tersebut termasuk Logical Fallacy varian Hasty Generalization. Pandangan yang selalu menggeneralisasi sesuatu, contohnya seperti: 

 

“Semua laki-laki jahat!”, kata seorang perempuan yang mendapat pengalaman buruk dari seorang laki-laki.

 

Pada kenyataannya kegiatan-kegiatan yang dirancang ORMEK adalah kegiatan positif bagi mahasiswa yang tergabung didalamnya bahkan untuk masyarakat umum. Hal tersebut terbukti dari kegiatan seperti diskusi ketatanegaraan, diskusi ideologi, bakti sosial, dan berbagai kegiatan lain yang membangun karakter kadernya agar lebih kritis dan peka terhadap gejala sosial. Selain itu, kegiatan-kegiatan yang diselenggarakan juga meningkatkan relasi maupun keakraban antar kadernya.

Pertanyaan selanjutnya, Mengapa GMNI dan HMI lebih ditonjolkan dalam tulisan ini? Sekali lagi Tulisan ini adalah tulisan opini bukan tulisan ilmiah maupun tulisan berita. Artinya, tulisan ini berangkat dari Point of View penulis terhadap ORMEK di lingkungan kampus FH UGM. Penulis mengetahui bahwa terdapat ORMEK lain selain GMNI dan HMI di FH UGM. Namun,  menurut observasi penulis GMNI dan HMI-lah yang mendapat pandangan khusus oleh mahasiswa FH secara umum, seperti dianggap rival, musuh bebuyutan, dan pandangan-pandangan kurang tepat lainnya. Sehingga ORMEK yang lain seperti IMM dan GMKI tidak terlalu ditonjolkan dalam tulisan ini.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published.