web analytics
DOA PULUHAN TAHUN LALU

DOA PULUHAN TAHUN LALU

“Tok…tok…tok”

“Ya masuk”

“Permisi Pak, saya mau kasih tau update jadwal Bapak hari ini”

“Iya silahkan Pasha”

“Hari ini jadinya meeting di daerah Buaran Pak, sama Pak Karso. Beliau mau langsung ajakin ke tempat proyeknya setelah meeting, makanya meeting-nya di situ.”

“Baik, terus ada lagi?”

“Ada pemotretan buat produk baru Aza Perfume Pak, setelah itu gak ada lagi.”

“Oke, langsung atur semua keperluannya, ya Pasha, pastikan semuanya aman.”

“Siap Pak, jam 10 kita berangkat ya.”

Setelah Pasha melenggang pergi, aku membereskan dokumen yang tadi baru aku cek dan menyiapkan beberapa berkas yang harus dibawa ke meeting bersama Pak Karso nanti, tidak banyak karena hampir semuanya sudah di-handle oleh Pasha. Ya, Pasha adalah asisten serta partner perjalananku. Terhitung 5 tahun sudah dia membersamaiku dalam jatuh bangun di perusahaan ini. Singkatnya, dia adalah keluarga di perusahaan ini. Perusahaan yang aku dirikan dengan sangat tertatih hingga dapat seperti sekarang ini.

Waktu sudah menunjukan pukul 10.00 WIB. Dengan cepat aku turun ke bawah karena Pasha pasti sudah menungguku di lobby. Benar saja, dia sudah siap sedia seperti biasanya. Baju rapi dan beberapa map di tangannya. Aku memasuki mobil dan duduk di kursi belakang. Perjalanan ke Buaran memakan waktu kurang lebih 45 menit. Aku sempatkan membaca beberapa berkas dan menutupnya kembali menyerahkan lagi pada Pasha. Tidak ada kegiatan lagi setelah itu sampai akhirnya aku memiringkan kepalaku menghadap jendela mobil. Dari dalam kaca hitam mobilku aku melihat banyak nyawa yang sedang berjuang. Dari tukang becak, tukang ojek, penjual gerobakan, semuanya ada. Sampai mataku menangkap sosok lelaki tua memakai topi rotan dan memikul pengki berjalan di pinggir jalan. Aku termangu, ingatanku melesat jauh. Memutar kembali memori lamaku yang rupanya masih tersimpan rapi selama ini.

“Nak, Bapak berangkat dulu ya, kamu jangan nakal, jangan bikin Amih susah, oke?”

Setelah mengatakan itu, Bapak melenggang pergi dengan memikul pengki di bahunya. Aku bersama Amih di rumah bedeng yang berdindingkan triplek tipis, Amih memasak dan aku bermain. Seperti itu setiap harinya. Aku tak tahu Bapak kerja apa, yang terekam jelas dalam ingatanku adalah Bapak selalu memikul pengki di bahunya setiap kali pamit untuk berangkat kerja. Sesekali beliau pulang dengan kaki kotor bekas semen dan pasir, sepertinya Bapak sedang ikut borongan kerja bangunan. Apapun itu yang pasti kalau uang Bapak sudah terkumpul, kita semua akan pulang ke kampung karena kakakku ditinggal di rumah bersama kakekku. Setiap hari aku menyaksikan Bapak mengelap keringatnya setelah seharian bekerja di bawah terik matahari dan polusi ibu kota. Bapak juga selalu menunjukan arah jalan-jalan dan tempat di kota. Kurasa beliau sudah hafal diluar kepala. Keadaan seperti ini tidak berlangsung lama kami semua akhirnya memilih pulang kampung dan usaha disana.

Saking aku hanyut dalam memori lamaku tak terasa mobil sudah berhenti di depan restoran tempat kami meeting. Aku bergegas keluar dan menghampiri Pak Karso yang sudah lebih dulu sampai disana. Seperti biasa kami berjabat tangan dan menanyakan kabar satu sama lain. Sesekali kita juga melempar jokes satu sama lain sebelum memulai meeting. Hal itu membuatku melupakan sejenak peperangan di kepalaku tadi. Dua jam sudah berlalu. Meeting hari ini akhirnya menemui tepi selesai dengan sebuah peresmian kerjasama dari dua perusahaan besar yang akan melancarkan aksinya dalam mega proyek mendatang. Seperti yang sudah dijadwalkan Pasha setelah selesai meeting, kami langsung survei ke tempat proyek yang masih ada di daerah Buaran itu. Lagi dan lagi suasana disana membawaku pada memori lama. Banyak rumah bedeng yang berjejer di sepanjang jalan menuju lokasi proyek. Banyak anak kecil bermain-main dan para ibu yang sedang menjemur pakaian diluar rumah. Persis keadaan aku dan Amih puluhan tahun lalu. Aku benar-benar dibuat termangu hari ini. Jujur saja, sebenarnya aku sudah tidak fokus tapi Pak Karso seperti mengerti raut wajahku, beliau selalu saja melawak di depan kami, membuatku tertawa dan suasana hatiku menghangat. Tak lama setelah semuanya selesai, aku kembali ke kantor. 

Turun dari mobil, aku tidak langsung masuk ke dalam kantor. Kubiarkan Pasha mendahuluiku dengan membawa berkas-berkas meeting tadi. Aku berjalan perlahan. Kutatap gedung besar nan tinggi di hadapanku saat ini. Banyak kehidupan disana. Aku pandangi juga sekitar, kulihat jalanan dengan riuhnya. lalu lalang para pekerja. Beberapa adalah karyawanku dengan pakaian rapi dan sepatu pantofelnya. Aku menghela nafas panjang dan menghembuskannya perlahan bersamaan dengan luruhnya air mataku. Sembari bertanya pada Tuhan dalam hati. Ya Allah, apa ini adalah doa Bapak yang terkabul puluhan tahun lalu? Mungkin dalam setiap harinya beliau mengelilingi ibu kota dan menatap gedung-gedung tinggi terbesit dalam hatinya ingin bisa bekerja disitu, namun dirasa Bapak tidak mampu, akhirnya ia mendoakan anak-anaknya. Mungkin ketika Bapak melihat orang-orang kantoran berdasi panjang keluar gedung, beliau menatapnya dalam dan berdoa lagi. Air mataku beranak sungai, tambah deras mengalir. Saat ini aku ada disini Pak, aku pemilik gedung-gedung tinggi itu, anakmu yang sekarang memakai dasi keluar kantoran, sesak rasanya membuka kembali memori lama itu. Tapi ini bukti nyata bahwa doamu menembus langit. Pantas saja saat ini ada peringatan hari buruh. Karena bukan hanya jasanya yang hebat tapi doanya juga kian dahsyat. 

Aku menyayangimu Pak, kau muara dari segala arah keberhasilanku. Insya Allah akan ku muliakan mereka-mereka yang bekerja bersamaku seperti pesanmu,

“jangan gampang luruh meski kau anak seorang buruh.”

 

Oleh: Firly Nurhayati

Editor: Regina Ayu Amara Devi, Radea Basoekarno

Leave a Reply

Your email address will not be published.