ART|JOG 2014: Reproduksi Lakon Kekuasaan yang (Tidak) Kasat Mata

agaaf
DSC_0679

Politik dalam dekapan Seni Rupa, atau Seni Rupa dalam dekapan Politik?

Liputan oleh: Moses Ompusunggu

The worst illiterate is the political illiterate, he doesn’t hear, doesn’t speak, nor participates in the political events. Itu kalau kata Bertolt Brecht, dramawan Jerman yang Marxist itu. Ketidakpahaman -katakanlah ketidakpedulian- akan politik, jika merujuk pada kalimat Brecht, tidak akan membawa sedikitpun angin segar bagi kehidupan seseorang, bahkan lebih mendatangkan mudarat ketimbang faedahnya. Siapa yang bisa disebut sebagai political illiterate itu tentu ukurannya tidak kaku; subjeknya bisa siapa saja (tergantung pada rasionalitas yang dipakai?). Namun di balik itu semua, sebegitu pentingkah “politik” itu sendiri dalam kehidupan manusia?

ART|JOG 2014 mencoba menjawab permasalahan itu melalui helatannya yang mengambil tema “Legacies of Power”. Seperti dikutip melalui laman webnya, pameran karya seni rupa yang sudah memasuki tahun ketujuhnya ini “berfokus pada tahun 2014, tahun politik bagi Indonesia dimana kita akan menjelang peristiwa besar dan penting yaitu Pemilihan Umum, dengan pemilihan presiden baru sebagai puncaknya.” Ada semacam sikap yang dibangun oleh penyelenggara, bahwa partisipasi dalam politik (lagi-lagi bercermin pada Brecht) dapat diwujudkan melalui media “yang lain daripada yang lain”, dimana saat ini kebanyakan insan lebih memilih bersilat lidah melalui media sosial. Tentunya dalam wilayah yang lebih estetis ketimbang Facebook-nya Mark Zuckerberg.

Begitu tiba di Taman Budaya Yogyakarta (TBY), tempat diadakannya ART|JOG 2014, Selasa (10/6) malam, Mahkamah langsung disambut dengan kehadiran Kabinet Goni, instalasi berupa boneka-boneka raksasa yang dirajut oleh Samsul Arifin dengan bahan karung goni (ya, karung goni!). Disusun seperti sebuah kabinet menteri yang sedang berfoto, Kabinet Goni seakan memberikan arahan langsung bagi pengunjung ART|JOG 2014: ini adalah lakon politik yang digubah dari sudut pandang seni rupa.

 

TBY malam itu begitu sesak dengan gerombolan-gerombolan anak muda yang bersenjatakan smartphone dengan kamera beresolusi tinggi di tangan kanan serta tongsis (tongkat narsis; entah apapun itu) di tangan kiri. Satu, dua, tiga, jepret! Sebuah gambar epik dengan latar belakang lukisan apik lalu siap untuk diunggah ke media sosial.

Apa hubungan antara tongsis dengan kepekaan politik? Tak ada yang bisa benar-benar dengan pas menjawabnya (bahkan seorang menpora ataupun seorang menkominfo sekalipun). Tak ada yang salah dengan itu tentunya, mengingat estetika dari setiap karya seni yang melatarbelakangi foto mereka, tentu memberikan nilai plus bagi setiap gambar yang mereka unggah ke media sosial. Namun terasa aneh saja, lazimnya dalam sebuah pameran karya seni rupa pengunjung berdiri menghadap karya yang terpajang; melihat visualisasi sebuah tema tertentu untuk kemudian mencoba menerka maksud dari perupanya. Mungkin saat ini sudah muncul sebuah fenomena baru: pengunjung pameran seni rupa berdiri menghadap kamera ponsel, untuk kemudian membelakangi lukisan yang dipamerkan. Kesombongan di masa muda yang indah, kawan.

DSC_0663

Kontemplasi insan-insan kontemporer dalam ART|JOG 2014, Selasa (10/6) malam.

 

***

“Legacies of Power mencoba menggali persoalan demokrasi dengan melihat sejarah peralihan kekuasaan, baik melalui konfrontasi fisik, adu diplomasi maupun proses yang lebih demokratis seperti pemilihan umum”, begitu bunyi liner notes dari Bambang Witjaksono, kurator ART|JOG 2014, yang diterakan di depan pintu masuk TBY. Jika Kabinet Goni memberikan arahan secara implisit, liner notes tersebut mengarahkan secara gamblang kepada pengunjung tentang semangat yang ingin disiarkan melalui pasar seni rupa tersebut. Memang demikian adanya apabila dengan seksama mengamati karya-karya yang ditampilkan di dalamnya.

Alkisah seorang buruh purnatugas yang hidup di tengah impitan derita hidup di sebuah kota industri. Anak istrinya melarat di desa. Hutangnya menumpuk kepada seorang penjual makanan, yang juga terjerat hutang kepada orang lain. Represi militer, kekuasaan pemerintahan yang korup, dan kejamnya kuasa pemilik modal begitu menekan hidupnya. Kalender, karya Surya Wirawan, begitu lugas menampilkan potret kehidupan masyarakat kelas bawah di Indonesia dalam 30 buah fragmen komik yang disusun membentuk sebuah cerita. Sebuah kalimat dalam narasinya begitu kuat berkisah: “Ia tak tahu, apakah salah menginginkan kelayakan hidup.” Lain lagi dengan Irwanto Lentho, dalam lukisannya yang bertajuk Jangan Kambinghitamkan Kakekku. Aura kepedihan stigmatisasi pasca peristiwa 1965 begitu terasa dalam karyanya. Mungkin sang seniman ingin menuturkan, perbuatan main hakim sendiri (eigenrichting) terhadap mereka yang “diduga terlibat PKI” itu sangat tidak manusiawi. Ujung-ujungnya, mereka yang dihakimi itu hanya dijadikan kambing hitam oleh aparat penguasa.

DSC_0696

Ada yang masih ingat dengan Putra Sang Fajar.

Ada yang lirih, ada juga yang menggelitik. Dodik Wahyu dalam Choose The Chair-nya begitu cerdas melakukan simbolisasi terhadap kursi, yang dewasa ini bak pinang dibelah dua dengan yang namanya uang (baca: kekuasaan). Di Awang-Awang, buah karya Budi Ubrux, menampilkan sesosok manusia yang seluruh tubuhnya dilapisi kertas surat kabar, sedang duduk santai membaca sebuah surat kabar. Namun duduknya tidak seperti duduk pada umumnya; sosok tersebut “duduk” tenang di angkasa, tanpa kursi atau tempat duduk lain yang menjadi alasnya. Lukisan tersebut menohok begitu dalam, kepada siapapun yang menghambakan diri kepada kekuasaan. Karena terlalu “berkuasa”, sampai-sampai jadi luput menginjak bumi. Patriotisme dan nasionalisme juga terekam dalam ART|JOG 2014. Sosok Sukarno, proklamator/bapak bangsa/putra sang fajar itu, diwujudkan dalam sebuah patung perunggu setinggi 4,4 meter oleh Edhi Sunarso. Karyanya yang berjudul Keberangkatan Pengasingan Presiden Soekarno oleh Belanda ke Pulau Bangka tersebut menampilkan raut wajah yang tegar dan tubuh yang gagah dari Sukarno, yang hendak kembali diasingkan (untuk kali kesekian) bahkan setelah secara resmi memerdekakan Indonesia dari lingkupan penjajah.

 

***

“Buaya itu”, jawab Djoko Pekik ketika ditanyai Mahkamah mengenai makna lukisannya yang berjudul Go To Hell Crocodile, yang merupakan salah satu “pertunjukan” utama dalam ART|JOG 2014,  “melambangkan kapitalis. Orang-orang (yang ada di bawahnya) melambangkan perlawanan kepada kapitalis. Harta bendanya disedot semua oleh kapitalis.” Lukisan tersebut, seperti dilansir melalui situs tempo.co (8 Juni 2014), dibanderol oleh sang seniman dengan harga Rp 6 miliar. ART|JOG 2014 sendiri memang dijadikan ajang promosi karya-karya dari ratusan senirupawan kepada pasar seni rupa lokal maupun internasional, selain sebagai media penyampai pesan akan fenomena politik yang menjadi nafas utama tahun 2014.

DSC_0695

Kritik terhadap “Kapitalis” yang dipasung angka 6 miliar perak.

ART|JOG 2014 dapat dikatakan sebagai penyegar dalam lakon perebutan tahta presidensial, yang tahun ini digeber pasangan Prabowo Subianto-Hatta Rajasa serta Joko Widodo-Jusuf Kalla. Bagi siapa saja yang “muak” akan perdebatan pilpres nirujung, yang terkembang dari kalangan tukang becak di Malioboro sampai sekumpulan mahasiswa di Burjo Palm Kuning, pasar seni rupa ini memberikan perbendaharaan baru akan pandangan terhadap perkembangan politik di Indonesia itu sendiri. Lupakan gadis-gadis berpakaian mentereng yang berlomba-lomba untuk selfie di depan setiap lukisan. Mungkin mereka yang dimaksud Bertold Brecht sebagai political illiterate, nyamuk-nyamuk kontemporer yang gemar berkontemplasi secara hedonistis.

Kesemua potret oleh Irene Vivi Sidabutar.

*

*

Top
Twitter Auto Publish Powered By : XYZScripts.com