Indonesia Darurat Integritas: Seruan untuk Melembagakan Respon

85 0

Dalam rangka memperingati Hari Anti Korupsi Internasional sekaligus Dies Natalis Universitas Gadjah Mada (UGM) yang ke-68, Pusat Kajian Anti Korupsi (Pukat) UGM mengadakan seminar nasional bertajuk Indonesia Darurat Integritas: Respon dan Tantangan. Acara yang diselenggarakan di University Club Hotel UGM pada Jumat, 8 Desember 2017 ini dipandu oleh Najwa Shihab sebagai moderator dengan tiga tokoh ternama sebagai pembicara, yakni Komisioner KPK Laode M. Syarief,  Pakar Hukum Tata Negara Mahfud M.D, serta Zainal Arifin Mochtar selaku ketua Pukat  UGM.

Di awal acara, Najwa Shihab menyatakan bahwa sulit untuk optimis jika bicara tentang integritas. Pasalnya, para pejabat tinggi negara seringkali lalai dalam mempertontonkan integritas mereka. Duta Baca Indonesia itu memberi contoh kasus ‘Papa Minta Saham’ dan pelobian yang disinyalir dilakukan oleh ketua Mahkamah Konstitusi. Dia menyayangkan, perilaku yang menunjukkan antitesis dari integritas justru datang dari lembaga legislatif dan yudikatif, dua lembaga yang seharusnya diisi oleh orang-orang yang berintegritas dan berdedikasi tinggi. Nana memulai diskusi dengan mengajak para narasumber untuk memberikan angka dari skala 1 sampai 10, perihal level kedaruratan integritas Indonesia saat ini.

Kemudian menurut Mahfud M.D, dari skala 1 s.d 10, level kedaruratan integritas Indonesia berada di angka 7 karena masifnya tindak pidana korupsi dewasa ini. Menurut mantan Ketua Mahkamah Konstitusi tersebut, lembaga legislatif (dalam hal ini DPR) serta lembaga penegak hukum harus dapat memberikan contoh integritas itu sendiri. Caranya dapat dimulai dengan perekrutan jaksa dan hakim yang sehat dan sesuai prosedur, bukan dengan cara pelobian. Dengan meminimalisasi tindakan koruptif dalam rekrutmen itu, diharapkan nantinya dapat mencetak pejabat publik yang berintegritas tinggi.

Laode M. Syarief berpendapat, pihak yang harus disalahkan tentang korupsi bukan hanya pejabat terkait, melainkan juga adanya kebiasaan dan persepsi dalam masyarakat bahwa ketidakjujuran adalah hal yang biasa.

“Kita hidup di dalam suatu society yang kejujuran itu dianggap sebagai momok,” tuturnya.

Laode pun mengatakan bahwa dengan semakin tingginya tingkat pendidikan seseorang, maka kemungkinan untuk melakukan tindak pidana korupsi juga semakin tinggi. Untuk mendukung hal ini, beliau memaparkan hasil riset yang menunjukkan bahwa korupsi lebih dominan dilakukan oleh sarjana, master dan doktor dibandingkan tamatan SMA, SMP maupun SD.

Berbeda dengan Laode, Zainal Arifin Mochtar mengatakan bahwa nyaris tidak ada relasi langsung antara pendidikan dengan korupsi. Menurut pria yang akrab disapa Mas Uceng ini, permasalahan yang terjadi sekarang berasal dari minimnya etika. Beliau beranggapan bahwa “ethics is the foundation of the law” atau etika adalah basis dari hukum.

“…Dan (etika) itulah yang hilang di (dalam diri) kita,” tekannya.

Di Indonesia, sebenarnya etika tersebut sudah tertuang dalam TAP MPR No.VI/MPR/2001 tentang Etika Kehidupan Berbangsa serta UU No. 28 Tahun 1999 tentang Penyelenggaraan Negara yang Bebas dari Korupsi, Kolusi dan Nepotisme. Kedua peraturan ini membicarakan mengenai etika pemerintahan yang seharusnya. Namun, kenyataannya tidak banyak orang yang menyadari akan hal ini sehingga etika dalam pemerintahan dan masyarakat tetap tidak membaik yang lalu menyebabkan berkembangnya korupsi di Indonesia.

Mahfud M.D mengatakan bahwa perubahan bisa dimulai dari pemimpin.

“Kuncinya hanya dua: merah putih. Kita harus mempunyai pemimpin yang merah putih. Merah itu artinya berani. Tapi juga harus putih, bersih. Karena orang yang berani tetapi tidak bersih itu berbahaya. Tapi orang bersih yang tidak berani juga tidak ada gunanya”, tutur Mahfud.

Najwa Shihab kemudian menutup seminar dengan membacakan ‘Catatan Najwa’ yang berjudul ‘Catatan Najwa untuk Papa’. Acara kemudian dilanjutkan sekaligus ditutup dengan launching JARING (Jurnal Anti Korupsi dan Good Governance) oleh Pukat UGM.

Teks: Audra Sutista, Nesya Ashari, Septiani Pratiwi
Foto: Aisyah Danti
Editor: Tata Wardhani

Total 0 Votes
0

Tell us how can we improve this post?

+ = Verify Human or Spambot ?

About The Author

Kami adalah bagian dari mereka yang menyebut dirinya mahasiswa. Kami masih mencari makna kata “maha”, dan mungkin ini salah satu jalan untuk menemukannya.

Satu untuk meniti dan berbagi informasi. Satu untuk belajar mengawasi, sisanya menyemangati diri untuk berkreasi, selebihnya mencoba bersosialisasi dengan kawan-kawan satu visi.

No Comments on "Indonesia Darurat Integritas: Seruan untuk Melembagakan Respon"

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *