Meningkatkan Budaya Literasi dengan Teori Modeling

11 0

Cahaya matahari pagi mulai memasuki ruangan itu melalui jendela lebar yang terbuka di sisi timur rumah berlantai dua tersebut. Bangunan dua lantai yang terletak di antara persawahan tersebut menjadi rumah bagi satu keluarga yang mempunyai 6 orang anak. Ia terbangun pagi itu bersamaan dengan ibunya, dengan kakinya yang kecil ia berjalan menuju ruang tengah rumah tersebut dan mengambil smartphone yang terletak diatas meja, anak berumur 3 tahun 6 bulan tersebut bernama Dahlan dan ia secara tidak sadar ia telah meniru perilaku dan kebiasaan orangtuanya.

“Ya memang setiap harinya begini, ngerti dewe to (tahu sendiri kan) anak zaman sekarang tiap hari ya megang handphone.” Kata Herdiyanti yang berbicara dengan campuran bahasa Indonesaia dan bahasa Jawa.

Pengamatan saya mengenai pola perilaku meniru anak dimulai dengan observasi sederhana tentang apa yang mereka lakukan ketika pertama kali bangun dari tidur. Hal ini sangat penting karena berdasarkan perilaku meniru yang dikemukakan oleh Albert Bandura menjelaskan bahwa perilaku manusia dipelajari dari proses modeling atau meniru perilaku orang lain.

Saya mencoba menjelaskan kepada ibu Herdiyanti mengenai perilaku anaknya yang sebenarnya sangat dipengaruhi oleh orangtua. Orang seringkali menganggap perilaku anak yang tidak sesuai sebagai hasil dari pola pergaulan dirinya dengan teman sebayanya sehingga akhirnya muncul stigma terhadap generasi tertentu. Hal ini tidak sepenuhnya salah namun dalam konteks yang lain perilaku orangtua dan orang-orang yang tinggal dalam satu atap tentu lebih mempengaruhi.

Keluarga ini tinggal dalam rumah dua lantai yang terletak di pinggiran kecamatan Gamping, Sleman serta berbatasan langsung dengan Kecamatan Kasihan, Kabupaten Bantul. Rumah ini dihuni oleh 10 orang, dua diantaranya lansia, sepasang suami istri dan 6 orang anak, 5 dari 10 orang di keluarga itu memiliki dan menggunakan gawai secara aktif. Raihan, anak ketiga pasangan tersebut duduk di bangku kelas 3 SMP, sudah 2 tahun ini ia menggunakan gawai dalam kesehariannya.

“Hapeku dimana?” teriak Raihan dengan nada tinggi. Setiap pagi adalah pagi yang sibuk baginya, persiapan berangkat sekolah selalu diisi dengan kesibukan menyiapkan buku-buku, alat tulis dan satu hal yang tidak boleh tertinggal adalah smartphone Xiaomi miliknya. Ketika ditanya mengenai apa kebutuhannya dengan gawai ia menjawab untuk membantu pembelajaran. Di siang yang panas itu Raihan terlihat baru pulang dari sekolah, ia melapas sepatu, menuruhnya di rak lalu mangambil gawai miliknya seraya memasang earphone  dan memutar lagu dari youtube. Aktivitas itu biasanya ia lakukan selama 4 jam, terpotong waktu sholat maghrib dan biasanya dilanjutkan lagi setelah itu selama 5 jam dengan bermain mobile game.

Kedua orangtua dari 6 anak tersebut pun memiliki pola perilaku yang hampir sama kecuali terdapat selingan beberapa jam untuk menonton televisi. Dari pola kebiasaan yang terlihat dari beberapa orang di keluarga tersebuit maka tidak mengejutkan jika perilaku anak-anak yang tinggal di rumah tersebut sangat dekat dengan gawai. Jika digunakan dengan baik tentu tidak menjadi soal tapi perilaku ini dalam ekses negatifnya benar-benar mengurangi atau bahkan benar-benar menghilangkan kebiasaan membaca buku atau budaya literasi.

Dengan mempelajari teori modeling dari Albert Bandura kita dapat mengatahui bahwa perilaku meniru anak-anak dapat diarahkan ke arah yang lebih berguna dan positif. Ketika ibu herdiyanti menginginkan anak-anaknya untuk lebih gemar membaca maka hal itu dapat dimulai dengan satu hal yang paling sederhana namun kadang susah untuk dilakukan yaitu memberi contoh.

Bandura secara lebih lanjut menjelaskan bahwa proses meniru ini lebih mudah dilakukan ketika orang melihat media yang ia tiru sebagai orang yang lebih tinggi kedudukannya atau dihormati, disinilah peran penting orang tua dalam menumbuhkan budaya literasi pada anak. Secara singkat proses dari teori modeling ini dapat dirangkum dalam 4 tahap. Pertama adalah si orang yang melihat ini akan memperhatikan atau melihat perilaku tertentu dari media atau orang lain. Kedua orang ini akan mengidentifikasi siapakah aktor yang melakukan perilaku tersebut. Ketiga orang ini akan mulai menirukan apa yang dilakukan oleh aktor atau orang lain yang sering ia lihat. Keempat orang ini akan menjati termotivasi ketika apa yang ia lakukan mendapat imbalan.

Ketika dihadapkan dalam konteks keluarga dimana setiap orang hidup sangat dekat satu dengan lainnya maka familiaritas akan lebih mudah terbentuk. Psikolog Gustav Fechner adalah orang yang pertama yang megemukakan efek familiaritas ini pertama kali pada 1876. Setelah itu teori ini dikembangkan dan disempurnakan oleh psikolog Polandia bernama Robert Boleslaw Zajonc dengan pemikirannya mengenai mere-exposure effect. Cara untuk dapat membuat anak suka membaca salah satunya bisa dimulai dari membiasakan anak dengan benda-benda yang berhubungan dengan itu, buku misalnya.

Setelah saya menjelaskan konsep ini pada ibu Herdiyanti ia langsung merubah tata letak benda-benda di rumahnya. Buku-buku anak yang mulanya disatukan di satu rak buku yang terdapat di ruang tengah kini mulai dipindahkan ke bagian bawah yang lebih terjangkau dan dilihat oleh anak-anak. Ia juga menaruh beberapa buku di kamar anak-anak terutama di kedua sisi tempat tidur, hal ini dilakukan agar anak lebih terbiasa dan dekat dengan kehadiran buku-buku.

Langkah selanjutnya setelah membuat anak familiar dengan buku adalah mulai memberiu contoh. Hal ini bisa dimulai dengan misalnya membaca koran cetak di pagi hari, atau membaca buku-buku tertentu di waktu senggang atau di waktu-waku lain misalnya sehabis sholat. Kebiasaan ini bisa diikuti juga dengan membatasi penggunaan gawai atau setidaknya dibuat agar anak tidak melihat ketika ingin menggunakannya. Pemberian contoh ini sangat penting karena dalam teori odelling proses meniru tidak akan terjadi kalau tidak ada contoh perilaku yang dapat ditiru.

Setelah melakukan hal tersebut kita juga bisa memberi stimulus lain berupa pemberian imbalan ketika anak membaca buku, imbalan tersebut dapat berupa uang jajan atau hal-hal lain yang tentunya tidak berlebihan. Pada akhirnya dengan memahami teori modeling ini kita dapat mengerti bahwa untuk merubah perilaku orang lain dapat dimulai dengan melakukan hal sederhana yang dapat kita lakukan sendiri yaitu memebri contoh.

Sudah dua minggu sejak saya menjelaskan teori modeling ke ibu Herdiyanti, ketka sedang berjalan menuju gedung perkuliahan akhirnya saya mendapat kabar darinya lewat pesan WhatsApp. Pesan tersebut sangat singkat, hanya berisi kalimat “Jebul iso tenan to (ternyata bisa beneran)” disertai dengan foto anak bungsunya sedang sedang duduk dan memegang buku cerita nabi Musa.

Penulis: Hizbullah Hanif

Total 0 Votes
0

Tell us how can we improve this post?

+ = Verify Human or Spambot ?

About The Author

No Comments on "Meningkatkan Budaya Literasi dengan Teori Modeling"

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *