Kartini: Tulisan Perempuan yang Lahir dalam Pingitan

Kartini: Tulisan Perempuan yang Lahir dalam Pingitan

Judul Film: Kartini

Tanggal Rilis: 19 April 2017

Bahasa: Bahasa Indonesia

Sutradara: Hanung Bramantyo

Produser: Robert Ronny

Penulis: Robert Ronny

Pemain: Dian Sastrowardoyo, Deddy Sutomo, Christine Hakim

Perusahaan Produksi: Legacy Pictures Screenplay Films

Durasi: 122 menit

 

Bulan April di Indonesia memiliki nuansa tersendiri, tepatnya setiap tanggal 21, terdapat suatu perayaan di hari lahir seorang pahlawan nasional dari Jepara. Tokoh itu ialah Raden Ayu Kartini atau lebih dikenal dengan nama Raden Adjeng Kartini. Ia merupakan tokoh yang dikenal mempelopori kesetaraan derajat antara perempuan dan laki-laki di Indonesia, terutama dalam hal pendidikan. “Kartini” (2017) menjadi film ketiga yang menceritakan tentang Kartini, setelah “R.A. Kartini” (1984) dan “Surat Cinta Untuk Kartini” (2016). Dian Sastrowardoyo ditunjuk sebagai tokoh utama, di mana film ini menceritakan lika-liku perjalanan Kartini dalam memperjuangkan keyakinannya bahwa perempuan setara dengan laki-laki terutama dalam kesempatan mengenyam pendidikan.

 

Pada bagian awal cerita, akan diperlihatkan sedikit kisah dari Kartini kecil yang dipaksa berpisah tidur dari ibu kandungnya, Ngasirah (diperankan Christine Hakim), karena status dirinya yang merupakan Raden Adjeng sehingga harus menganggap ibunya sebagai Yu (pembantu) karena tidak memiliki darah ningrat. Status itu Kartini dapatkan dari ayahnya yang merupakan seorang Bupati Jepara bernama R.M.A. Ario Sosroningrat (diperankan Deddy Sutomo).

 

Cerita beralih pada masa Kartini memasuki usia pubertas. Pada tradisi Jawa, seorang perempuan ningrat yang sudah memasuki usia pubertas harus menjalani pingitan. Pingitan merupakan keadaan di mana perempuan dikurung di rumah sembari belajar menjadi “wanita ideal” sampai datangnya lamaran dari laki-laki bangsawan. Kartini yang merasa dirinya seperti burung dalam sangkar benar-benar tak menyukai keadaannya dan merasa putus asa dengan takdirnya sebagai perempuan. Namun keadaan tersebut tak bertahan lama, setelah kakaknya R.M.P. Sosrokartono (diperankan Reza Rahadian) memberikan kunci lemarinya sebelum pergi ke Belanda. Tanpa diberitahu mengenai isi lemari tersebut, Kartini membuka lemari itu dan menemukan buku-buku berbahasa Belanda dari lemari kakaknya. Setelah membaca salah satunya, Kartini akhirnya sadar bahwa dirinya menemukan buku sebagai pelipur lara dari pingitan yang mengurungnya.

 

Waktu pun berlalu hingga kedua adik Kartini harus ikut dipingit bersamanya. Mereka adalah Roekmini (diperankan Acha Septriasa) dan Kardinah (diperankan Ayushita) yang kemudian dibimbing oleh Kartini untuk menikmati masa pingitan dengan bertindak sesuka hati dan membaca buku yang disarankan Kartini. Nasib mujur pun menemui Kartini dan kedua adiknya, saat keluarga mereka diundang bertamu ke rumah Tuan Ovink-Soer, Asisten Residen Jepara. Nyonya Ovink-Soer sangat tertarik dengan Kartini serta esainya setelah bertemu untuk pertama kali dengannya. Pertemuan tersebut membuat Nyonya Ovink-Soer/Marie Ovink-Soer menjadi pendukung dalam perjuangan Kartini sekaligus menjadi Moedertje/Ibu Sayang baginya. Hal tersebut dibuktikan saat Kartini dipersulit dalam mengirimkan tulisan-tulisannya oleh salah satu kakaknya, R.M. Slamet Sosroningrat (diperankan Denny Sumargo), Nyonya Ovink-Soer membantu Kartini untuk terbebas dari kekangan Slamet, bahkan memberikan kesempatan Kartini, Roekmini, dan Kardinah untuk datang ke acara ulang tahun Residen Semarang Sijthoff. Kesempatan itu yang akhirnya memberikan jalan bagi tulisan dan karya dari Het Klaverblad (daun semanggi/tiga saudara)–sebutan bagi Kartini dan kedua adiknya–untuk dipamerkan di Den Haag.

 

Kartini terus berusaha agar dapat membagikan pemikirannya ke banyak orang. Langkah selanjutnya yang ia lakukan adalah mengirimkan iklan korespondensi ke Nyonya Ter Horst agar dapat dikirim ke Belanda, sehingga Kartini dapat memperluas jaringan pertemanannya. Usahanya menghasilkan balasan saat perempuan Belanda bernama Stella Zeehandelaar membalas korespondensinya. Kartini pun berkeluh kesah tentang keadaan perempuan di negerinya kepada Stella. Selain membuat korespondensi, Kartini juga mendirikan sekolah bersama adik-adiknya untuk anak-anak perempuan di sekitar rumahnya.

 

Perlawanan Kartini, Roekmini, dan Kardinah yang sepakat untuk tidak menikah harus menemui hambatan. Kardinah yang pertama kali harus berhadapan dengan perjodohan. Ayahnya ternyata sudah membuat janji pada Bupati Tegal Ario Reksonegoro untuk menikahkan Kardinah dengan Haryono, anak Ario Reksonegoro yang merupakan seorang Patih dari Pemalang. Kenyataan itu sangat memukul Kartini, Roekmini, dan terutama oleh Kardinah sendiri. Di hari pernikahannya, Kardinah bahkan tidak memasang senyum sama sekali, keadaan yang berkebalikan dengan pesta pernikahannya yang ramai dan meriah. Tak sampai di situ pukulan bagi Het Klaverblad, atas perintah Moerjam, Roekmini harus pisah kamar dengan Kartini.

 

Beberapa waktu kemudian, datanglah seorang anggota dewan kenalan Ario Sosroningrat bernama Van Koll. Dia menyampaikan adanya kesempatan untuk Kartini dan Roekmini mengajukan beasiswa ke Belanda. Awalnya Ario Sosroningrat tidak menyetujui hal tersebut, namun atas masukan dari Van Koll akhirnya ia melunak dan mengizinkan kedua anak perempuannya untuk mengirimkan proposal beasiswa. Tapi malang bagi Roekmini, Moerjam tidak menyetujuinya meski Roekmini sudah memohon berkali-kali. Nasib Kartini tidak sama beruntungnya dengan sang adik, meski sudah mendapat restu ayahnya dan dapat mengirimkan proposal beasiswa, secara tiba-tiba datang lamaran untuknya dari Bupati Rembang, Raden Adipati Djojodiningrat (diperankan Dwi Sasono). Kartini yang awalnya kukuh untuk menolak lamaran tersebut, lambat laun menerima dengan beberapa syarat setelah mendengar cerita masa lalu pernikahan Ngasirah dan Ario Sosroningrat. Setelah semua syarat Kartini diterima oleh Djojodiningrat, pernikahan mereka pun segera dilaksanakan. Film ini ditutup dengan penjelasan tentang beasiswa Kartini yang diterima namun tidak dapat ia ambil dan akhirnya Kartini membangun sekolah untuk perempuan di Rembang dengan bantuan suaminya.

 

Secara umum, di film ini Kartini diperlihatkan menjadi sosok yang sangat gigih dalam melawan tradisi Jawa kala itu yang mengurung perempuan dari lentera pendidikan. Langkah Kartini dalam mendobrak itu bersama Roekmini dan Kardinah serta bantuan orang-orang di sekitar mereka seperti Sosrokartono yang memberikan inspirasi untuk membaca dan belajar serta menyokong buku-buku bacaan, Ario Sosroningrat yang melonggarkan pingitan agar mereka dapat berkarya dengan sepenuhnya, ataupun Nyonya Ovink-Soer yang menyalurkan tulisan Kartini kepada koleganya memberikan penonton sebuah sudut pandang bahwa dalam suatu perjuangan dibutuhkan lingkungan yang mendukung agar kesulitan-kesulitan yang dihadapi dapat diselesaikan dengan lebih mudah.

 

Kartini sungguh menjadi tokoh utama yang menginspirasi untuk meluaskan pendidikan khususnya untuk orang-orang yang sulit dalam mengaksesnya. Dia bangsawan yang tidak mau pintar sendiri, tetapi seorang ningrat yang mencoba merangkul masyarakat sekitar terutama perempuan-perempuan muda di Jepara hingga Rembang untuk menggapai pendidikan dan tercerahkan seperti dirinya. Walau di bagian paling awal film Kartini berseloroh dengan kalimat pesimistis, “Apa aku boleh punya pilihan lain?”, tetapi ternyata dia dapat melonggarkan pilihannya dengan usaha-usaha yang dipertontonkan sepanjang film. Film “Kartini” menjadi tontonan yang tepat untuk mengetahui jalan terjal perjuangan Kartini sebagai perempuan Jawa pada abad ke-19. Dengan latar historis yang cukup menyakinkan dan para pemeran yang lancar berbahasa Jawa juga Belanda, “Kartini” dapat memuaskan penonton khususnya penikmat drama sejarah dan pemerhati emansipasi perempuan. Tak lupa kredit khusus untuk lagu pengiring yang dinyanyikan Melly Goeslaw dan Gita Gutawa berjudul “Memang Kenapa Bila Aku Perempuan”, rasanya menyempurnakan penyajian film ini.

 

Penulis: Satrio

Penyunting: Athena

Foto: Winda Hapsari

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Loading...