Purbudi dan Jalan Terjal Gajahwong

Purbudi dan Jalan Terjal Gajahwong

Tegas juga teduh. Begitulah sorot mata Purbudi Wahyuni saat kami temui di pendopo rumahnya Umbulharjo, Mrican. Garis wajahnya barangkali selaras dengan matang usia juga pemikirannya. Bu Pur, begitu kami akrab menyapa, duduk tenang sembari bercerita. Dengan beralas tikar Ia bertutur kisah tentang Gajahwong, aliran sungai yang membentang di depan kediamannya.

Purbudi (59) mengenang, berpuluh tahun lalu sebagai gadis kecil ia sangat akrab dengan Gajahwong. Dengan semilir angin, gemericik air, hingga ikan-ikannya yang banyak. Matanya yang coklat menerawang, mengingat kembali suasana itu.

 “Airnya masih jernih. Naik pohon, loncat, itu suasana yang sangat-sangat humanis.” kenangnya sumringah.

Manis kenang Purbudi terus berputar dimana Gajahwong menjadi tempat bermain ia dan kawan-kawannya. Lebih-lebih kala melepas lelah dan letihnya, sepulang sekolah hampir selalu bermain dan bercanda tawa di sungai.

Kala itu, tidak berlebihan bila Gajahwong disebut sumber kehidupan bagi masyarakat sekitar. Gajahwong menjadi tempat yang digunakan warga untuk mencuci pakaian, mandi, mencari ikan, hingga mengairi sawah. Kehadiran sungai ini menjadi suatu hal yang sangat bermanfaat bagi warga sekitar.

Purbudi melanjutkan tuturnya. Kali ini dengan sorot mata yang sedih ia bercerita sisi lain dari perkembangan teknologi. Perkembangan yang justru membuat kemunduran dalam hal kepedulian. Sangat disayangkan memang. Orang-orang nyaman dan dimanjakan, tidak lagi peduli lagi dengan lingkungan. “Kita terasa betul, ketika air sudah bisa naik ke rumah karena adanya mesin. Orang-orang menjadi nyaman termanjakan. Tidak lagi perlu repot menimba air di sungai.”, tutur Purbudi. “Ternyata imbasnya besar sekali, semakin jarang orang ke sungai ternyata tidak ada kontrol terhadap lingkungan sungai.”

Sejak saat itu pula lambat laun kontrol sosial terhadap sungai mulai menyusut. Orang-orang membuang sampah di sungai. Limbah-limbah yang dihasilkan industri juga dibuang ke sungai. Bahkan limbah medis yang notabene limbah B3 (Bahan Berbahaya Beracun) turut dibuang ke Gajahwong. Sungai menjadi sangat kotor dan tercemar saat itu. Warga yang membangun rumahnya di pinggir sungai juga membuat sungai semakin tergerus dan menjadi sempit.

“Orang-orang nakal model main patok yang tidak benar ini, awalnya kandang ayam lama-lama kandang orang,” Tak habis sampai disitu tutur Purbudi, “Dulu kami sempat menanam pohon besar-besar, tau-tau dipotong dan sebagainya.”

Pada 2010 alam barangkali mengirim pesan. Sungai yang seharusnya mampu mengalirkan air hujan tidak berfungsi sebagaimana mestinya. Lewat derasnya hujan terjadilah banjir besar. Tanggul sungai Gajahwong jebol dan air menyapu kanan kiri sungai. Setahun berselang ganjaran pun datang, sungai Gajahwong menyabet predikat sungai terkotor se-Yogyakarta.

Keadaan itulah yang kemudian membuat cucu dari Raden Ngabehi Projosastro Sutirto ini bergerak. “Sejak kecil saya diajak main ke sungai ngurusi irigasi. Secara batin saya punya ikatan dengan sungai ini. Ketika tahu keadaan yang demikian saya malu kalau tidak bergerak.”

Oleh karena dorongan batin tersebut, pada tahun yang sama Purbudi mulai bergerak secara terang. Namun demikian bergerak seorang diri tidaklah mudah. Dosen Manajemen ini mengakui bahwa upaya advokasi seringkali gagal. Bahkan sangat disayangkan pemerintah kurang greget dalam menangani isu ini.

Sebagai seorang yang gemar mengisi kolom di media massa Purbudi aktif dalam melakukan publikasi keadaan sungai Gajahwong. Dengan cara ini ia mendesak pemerintah agar turut pro-aktif membenahi sungai.

Berkat desakannya itu upayanya akhirnya berbuah manis. Dengan dimediasi oleh Bappeda kota, orang-orang yang peduli dengan keadaan Gajahwong dipertemukan. Dari pertemuan tersebut lantas dibuatlah FORSIDAS dengan Purbudi sebagai ketuanya.

“Kemudian orang-orang yang peduli sungai dipertemukan, Alhamdulillah kemudian 24 Juni 2012 kami deklarasi untuk membentuk Forum Komunikasi Daerah Aliran Sungai Gajahwong”, kenang Purbudi.

Dari pengalamannya, Purbudi paham betul bahwa mengurus sungai bukanlah hal yang mudah. Diperlukan disiplin dan keseriusan dari mulai perencanaan hingga perawatan. “Kita sepakat kalau memang mau buat tidak boleh ecek-ecek, harus dibuat badan hukum, harus disisihkan waktu untuk betul mengurus sungai.”

Berangkat dari forum tersebut akhirnya visi misi pun dibuat. Dalam satu padu ruh dan semangat, Gajahwong dibangun kembali. Dengan menyatukan hulu-hilir dalam satu integrasi, forum membuat Gajahwong menjadi integrated ecotourism berbasis mitigasi bencana.

Dalam pelaksanaanya pembangunan ini tidak sebatas berkorban pikiran dan tenaga. Komitmen pengurus forum juga ada pada pengorbanan mereka merelakan tanah. Sebagai informasi saja, Purbudi bersama forum dengan sukarela memberikan sebagian tanahnya kepada pemerintah. Sebuah contoh sekaligus bukti bagi masyarakat bahwa forum sungguh-sungguh peduli terhadap sungai.

“Nilai tanah kami serahkan ke pemerintah. Tapi kami jelas betul meminta pemanfaatan tanah itu untuk sebesar-besarnya kepentingan rakyat, untuk penguat tebing dan sebagainya,” ucapnya.

Cerita terus berlanjut pada tahun 2013. Tahun tersebut menjadi salah satu titik bangkit bagi Gajahwong. Melalui festival sungai, Gubernur DIY, Sri Sultan Hamengkubuwono X hadir. Dengan diikuti hearing hingga turun langsung ke Gajahwong, Sultan setuju untuk membantu forum dalam pembangunan Gajahwong.

Hal tersebut tentu menjadi angin segar bagi pembangunan bagian dari heritage Mataram ini. Bantuan dana dari pemerintah lantas dimanfaatkan betul bagi forum untuk pembangunan. Namun demikian, Purbudi mengakui tantangan lebih besar muncul dari urusan sosial masyarakat

Dalam perjalanan pembangunan, Purbudi tidak jarang mendapat tindakan kurang menyenangkan justru dari masyarakat pinggir sungai. Forum berada di garis depan langsung berhadapan dengan masyarakat termasuk konflik di dalamnya.

Salah satu perkara waktu itu adalah para peternak babi yang ada di bantaran sungai. Purbudi menerangkan bahwa para peternak selalu menunda untuk pindah. Alasannya adalah mereka sedang menunggu panen yang tidak lama lagi. Sekalipun begitu, alasan yang sama terus digunakan berulang hingga pembangunan menjadi terlambat.

Upaya kekeluargaan dan persuasi terus diutamakan. Hal ini karena Purbudi percaya bahwa untuk menangani suatu perkara sosial harus dengan kepala yang dingin. Tidak boleh membuat keruh suasana untuk memenangkan perkara.

Langkah terus ditempuh untuk menangani tiap masalah sosial seputar pembangunan. Dengan pendekatan personal forum berusaha memahami masalah apa yang terjadi, “Masing-masing titik saya kenali orangnya, sehingga paham betul apa masalahnya.” Langkah ini kemudian menjadi efektif dan terbukti berhasil.

Sekalipun begitu, Purbudi mengatakan siap menempuh jalur hukum bila mendapat perbuatan yang melanggar haknya. “Kalau memang sampai ada perilaku yang sekiranya tidak mau diatur dan harus ditempuh jalur hukum ya kami siap,” ucap Doktor Ilmu Manajemen ini.

Pada akhirnya, dengan slogan Peduli Adalah Solusi (PAS), kawasan sungai mulai kembali ditata, bahkan menjadi lebih baik. Seiring dengan pembangunan, masyarakat mulai sadar untuk membantu dan turut kooperatif. Area wisata, taman bermain, rehabilitasi pinggir sungai, dan tebing penahan longsor secara bertahap dibangun. Kini daerah yang mulanya kumuh sudah mulai bersih dan tertata asri. Ayunan, Mural, Dekorasi bahkan ikan membuat suasana lembah Gajahwong lebih bersahabat. Besar harapan Purbudi agar generasi muda menyambut semangat generasi tua agar rantai kepedulian terus terjaga.

Penulis : Salwa dan Wilman

Editor : Faiz Al-Haq

Foto: Fahmi Akbar, Faiz Al-Haq

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Loading...