Di Balik Lelaki Tua dan Laut

Di Balik Lelaki Tua dan Laut

Judul               : The Old Man and The Sea

Penulis            : Ernest Hemingway

Penerbit           : Liris Penerbit

Tebal Buku      : 128 halaman

Waktu Terbit   : 2013

Peresensi        : Umar Mubdi

 

Manolin datang dengan raut sedih, ketika Santiago pulang dan menggulung layar kapal. Ia kerap bersedih lantaran menyaksikanlelaki tua itu pulang melaut dengan perahunya yang kosong. Telah delapan puluh empat hari, Santiago sial seperti ini. Tak membawa tangkapan seekor pun. Pada empat puluh hari pertama, Manolin menemani Santiago melaut. Karena tidak mendatangkan hasil, atas perintah orang tuanya, Manolin pindah ke perahu lain yang menangkap tiga ikan besar dalam minggu pertama. Namun begitu, Manolin selalu membantu Santiago untuk sekedar membawakan gulungan tali, tombak atau besi taji ke gubuk reot-tetotnya.

Hari itu, hari ke delapan puluh limanya melaut, Santiago nekat mengayuh perahu sendirian jauh ke tengah teluk Meksiko. Ia mendongak ke langit kebiruan, melihat banyak burung camar berputar-putar di sana, dirasanya inilah posisi tepat. Ia mengatur kailnya. Dilemparkannya jauh-jauh. Di siang harinya, seekor ikan besar menggigit umpannya. Seekor Marlin raksasa. Namun, Santiago tak mampu menariknya ke atas perahu. Malahan dua hari dua malam ia tertarik oleh Marlin itu dan hanya bisa bertahan. Perjuangan dan semangat keras inilah yang menarik dari Santiago. Pada hari ketiga, Marlin itu pun menyerah hingga Santiago sukses menamatkannya dan mengikatnya di pinggir perahu. Ia siap pulang dengan berbagai bayangan kebanggaan.

Sayangnya, di tengah perjalanan pulang datang lima ekor hiu yang nafsu akibat darah ikan Marlin tersebut. Santiago berhasil membunuh beberapa ekor dan sisanya kabur. Malam harinya, hiu-hiu itu datang lagi dan nyantap ikan tangkapan Santiago itu. Yang tersisa hanyalah tulang punggung, ekor, dan kepalanya. Sesampainya di tepi pantai, ia langsung pulang dan tertidur sangat lelap. Ia begitu lelah setelah perjuangannya itu. Pagi harinya, orang-orang ramai berkumpul di sekitar perahu yang disisinya terikat seekor bangkai Marlin raksasa.

The Old Man and The Sea karya Ernest Hemingway merupakan novel pendek yang ditulisnya di Kuba pada tahun 1951. Kisah dalam novel ini terinspirasi oleh seorang nelayan tua di Kuba yang miskin dan hidup sendirian. Pada suatu saat, nelayan tua itu pun beruntung menangkap ikan Marlin, tetapi belum sampai pantai telah habis dimakan hiu-hiu. Bangkainya digantungkan pada sebuah pohon di pinggir pantai dan menjadi tononan para turis. Ketika itu pula Hemingway menyaksikan peristiwa tersebut.

Berangkat dari itu, Ernest kemudian meramunya menjadi sebuah kisah sederhana yang tak biasa. Terutama, kisahnya yang syarat akan semangat heroik. Bagi Hemingway, heroisme adalah manusia yang berhasil mengatasi penderitaan dalam kesendiriannya. Kisah heroik tersebut, tercermin pada Santiago, lelaki tua yang pantang menyerah untuk melaut meski nasib buruk selalu menguntitnya.

Selain itu, novel ini pun menyajikan pelajaran kehidupan yang dramatik melalui persahabatan seorang bocah dengan lelaki tua. Lelaki tua dengan ikan tangkapannya. Barangkali juga persahabatan dengan nasibnya.

Tokoh-tokoh dalam novel ini dibangunkan karakternya menjadi sedemikian kuat. Sebagaimana yang dikatakannya, “Saya mencoba untuk meciptakan lelaki tua yang sesungguhnya, anak laki-laki sesungguhnya, laut yang sesungguhnya, ikan yang sesungguhnya dan hiu yang sesungguhnya. Tetapi jika saya telah membuatnya dengan cukup bagus dan sesungguh-sungguhnya, mereka dapat berarti apa saja.

Novel ini merupakan karya penting dalam sejarah kepenulisan Ernest Hemingway. Karya yang mengantarkannya menggaet penghargaan Nobel Sastra (1954). Memang, karya-karya Hemingway selalu menarik, punya narasi deskripsi yang kuat, serta mampu mengusung penggambaran situasi yang sempurna.

Membaca The Old Man and The Sea ini, kita akan dibuai dengan gaya penulisannya yang tenang dan mengalir. Jalan ceritanya serasa teratur dan sifat-sifat tokoh utama tergambar jelas dengan penuturan yang tidak terburu-buru. Sebab, kalau boleh jujur, novel ini minim cerita. Ia hanya berkutat pada peristiwa penangkapan Marlin tersebut. Hampir setengah dari novel ini hanya menyajikan monolog dan deskripsi semata. Tetapi itulah kelihaian Hemingway dalam seni narasi. Didemonstrasikannya dengan sangat apik dan kini, gayanya tersebut menjadi rujukan kajian sastra kontemporer.

***

Manolin yang terus khawatir selama perjalanan si lelaki tua, menangis terharu saat dia mendapati Santiago sedang tertidur lelap. Saat Santiago terbangun, Manolin berjanji untuk pergi menangkap ikan bersama-sama lagi dengan gurunya tersebut, dan saat kembali tidur, Santiago kemudian bermimpi tentang singa di pantai Afrika !

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Loading...