Rumah dan Segala Sesuatu yang Membuatnya Bukan

339 0

Di sebuah malam yang tak lazim itu—tak pernah terdapat satu kali pun perasaan itu terkatung-katung di kerongkongannya bagai makanan yang tak mau tertelan—ia memikirkan adanya kemungkinan perasaan rindu rumah.

Rumah. Rumah…

Sebuah kata yang terdengar asing dan jauh, seperti dari dunia lain, peradaban lain. Mendadak ia merasa tak lagi fasih berbahasa. Apa itu rumah? Otaknya berusaha menelusuri Kamus Besar Bahasa Indonesia, dicarinya makna kata rumah. Apa itu rumah? Bangunan tempat untuk tinggal. Apa itu rumah?

Lalu ia teringat senyum adiknya ketika perempuan yang paling dikasihinya itu masih bayi berwarna merah—ia pun masih teramat kecil pada saat itu—ketika tetangga dan sanak keluarganya mengumumkan, “Akhirnya bertambah satu lagi orang di rumah ini!”

Apa itu rumah?

Barangkali rumah adalah tempat di mana ia dan adiknya menghabiskan hari-hari masa kecil mereka dengan bertengkar berebut ini-itu. Sementara Ibu senantiasa absen, wanita itu merasa mengemban tanggung jawab untuk menghidupi anak-anaknya yang banyak mau, jadi ia pergi bekerja. Bapak selalu ada. Pria itu lebih senang mengambil alih pekerjaan rumahtangga Ibu.

Atau mungkin rumah adalah tempat empat manusia itu berlarian pada suatu pagi yang teduh dengan gelak tawa lepas, atau ketika mereka memutuskan pergi pagi-pagi sekali untuk mencari sarapan sederhana dengan masih mengenakan piyama, tapi rasanya hal-hal tersebut sudah lama sekali tidak eksis. Mungkinkah sebuah rumah dicabut definisinya sebagai rumah dan tidak lagi menjadi rumah?

Perempuan itu kini sudah dewasa. Semakin pintar dan semakin sadar. Semakin ia tahu pula bahwa kadang-kadang usia tidak selaras dengan kemampuan. Ia masih saja kesulitan memaknai rumah. Rumah ada pada semua tempat yang membuatnya nyaman; hanya tidak pada tempatnya tumbuh dan dibesarkan.

Malam itu, ketika ia sedang bersama laki-laki yang jelas-jelas bukan suaminya, ketika laki-laki itu sedang sibuk dan penuh kasih menelusuri lekuk tubuh bagian belakangnya dengan bibirnya, mendadak ia seperti mendapat ilham. “Aku ingin pulang,” katanya.

Laki-laki itu menghentikan kegiatannya yang memabukkan. Dengan lembut dan sayang ia menautkan sejumput rambut hitam yang jatuh menutupi wajah si perempuan ke belakang telinganya, kemudian merangsak maju untuk menciumnya tepat di bibir.

“Kamu mau aku antar pulang sekarang?” tanyanya. Dalam suaranya tidak terdengar bahwa laki-laki itu berkeberatan, namun si perempuan bisa menebak bahwa si laki-laki berharap ia bersedia tinggal lebih lama.

“Aku ingin pulang,” ulangnya sekali lagi.

Kali ini si laki-laki bangkit. “Oke, aku antar pulang sekarang,” katanya sembari mengumpulkan pakaiannya yang berserakan di atas lantai. “Tapi kamu baik-baik saja, ‘kan?”

Kalau perempuan itu tidak sedang merasa resah atas pikiran-pikirannya tentang rumah, tentu ia sudah tertawa gemas. Laki-laki itu terlalu kaku perihal kebutuhan si perempuan—ia selalu khawatir dan ia memandang si perempuan tak ubahnya piring porselen yang mesti dijaga agar tidak pecah. Barangkali laki-laki itu adalah orang yang paling mengerti dirinya di seantero jagad dan karenanyalah ia begitu mencintainya.

Si perempuan duduk tegak tanpa peduli bahwa di tubuhnya tidak ada sehelai benang pun. “Aku ingin pulang,” katanya sekali lagi dengan tegas dan khidmat. Laki-laki itu mengangguk mengerti. Aku antar kamu pulang, begitu sorot matanya berkata. Aku antar kamu pulang ke rumah.

Rumah… Apa itu rumah?

“Kenakan dulu bajumu, Sayang,” perintah si laki-laki dengan halus.

Perempuan itu seolah mendadak tuli. Ia menatap lurus-lurus ke depan, ke arah televisi yang sedang memutar acara komedi yang memuakkan. Ia tak mengerti kenapa ia ingin sekali pulang. Ia ingin pulang sekarang.

“Aku ingin pulang.”

Laki-laki itu menunduk untuk mengambil pakaian si perempuan yang tadi ia lucuti dengan fasih dan perlahan-lahan, kemudian memberikannya kepada si empunya. Namun si perempuan—setelah tadi seolah mendadak tuli—kini seolah mendadak lumpuh. Ia tidak menerima sodoran pakaian yang diberikan kepadanya itu. Alih-alih ia berkata, untuk yang kesekian kalinya dalam beberapa menit, kali ini dengan lebih nanar: “Aku ingin pulang.”

Air muka si laki-laki tampak gusar dan letih, namun tidak ada nada dalam suaranya yang berubah. Sebab, itulah kekasihnya: sabar, setia, lembut, penuh kasih. “Aku antar kamu pulang.”

“Aku ingin pulang.”

“Aku antar kamu pulang.”

“Aku ingin pulang.”

Kemudian perempuan itu jatuh dan terisak.

***

Barangkali itulah bagaimana perempuan itu bisa berdiri di depan rumah sepasang suami istri tidak bahagia yang seumur hidup ia kenali sebagai orang tuanya. Dan barangkali pula, karena tidak sampai hati, kekasihnya yang sangat baik hati itu mengantarnya sampai depan pagar.

Laki-laki yang sangat tulus dan perhatian, kekasihnya itu. Mereka berdua naik kereta pertama yang bisa mereka temukan dari Yogyakarta menuju Jakarta. Tiba di Stasiun Gambir subuh tadi, mereka berdua naik taksi ke sini, ke rumah orang tua si perempuan.

Ia dapat melihat jejak-jejak keletihan di mata kekasihnya yang sendu, tetapi laki-laki itu seperti tak kenal mengeluh. Laki-laki itu sudah memesan tiket pesawat kembali ke Yogyakarta pukul 12 siang ini, sebab malam nanti ada rapat pengurus harian organisasi mahasiswa yang tidak boleh ia tinggalkan. Sungguh, ia laki-laki yang tahu prioritas. Si perempuan kadang merasa beruntung sekaligus tak pantas.

Waktu masih menunjukkan pukul 6 pagi ketika si perempuan memberanikan diri untuk memencet bel di pagar. Tak butuh lama bagi Ibu untuk keluar dan membukakan pintu. Betapa terkjutnya wanita paruh baya itu ketika mendapati anak gadisnya berdiri di hadapannya, di tempat yang jelas-jelas tidak semestinya.

Ibu lantas memanggil suaminya: Pak, ada Anya dan Jagad, katanya. Ia dapat merasakan wanita itu berada dalam gelombang kebingungan dan kebahagiaan yang melebur jadi satu begitu melihatnya. Tak lama kemudian Bapak muncul, dan mendadak dunia jadi begitu kecil dan sesak buatnya.

Ibu dan Bapak menggiring mereka ke ruang tamu di mana mereka disuguhi kopi dan sarapan yang baru saja matang. Adik perempuannya yang cantik sudah rapi dengan seragam putih abu-abunya, hendak berangkat sekolah. Selagi Bapak pergi mengatar Adik, Ibu bergabung bersama mereka di ruang tamu.

Kenapa tiba-tiba pulang, tanya Ibu. Ada sebersit kecurigaan yang hinggap dalam pertanyaannya. Si perempuan tahu, Ibu barangkali berpikir ia dan kekasihnya membawa kabar buruk. Kecelakaan, misalnya, Ibu mungkin butuh penjelasan, tapi ia memilih bungkam. Ia tidak ingin bicara. Biarlah Ibu berburuk sangka. Ia tidak ingin bicara, ia hanya ingin pulang.

Melihat kekasihnya memutuskan jadi patung, si laki-laki mengambil alih percakapan. Anya mendadak ingin pulang, terangnya. Saya sudah antar pulang ke kos, tapi Anya bilang ingin pulang. Saya tanya, ‘mau pulang ke Jakarta?’ Anya mengangguk. Jadi saya bawa Anya ke sini. Mungkin Anya lagi kangen. Saya nggak lama, Bu. Jam 12 saya harus kembali ke Jogja. Saya cuma mengantar Anya yang ingin pulang. Saya nggak lama-lama.

Dari tatapannya kepada si laki-laki, Ibu seolah mengucap terima kasih tanpa kata-kata. Pandangannya kemudian dilempar kepadanya, anak gadisnya, dan walaupun ia terdorong untuk menerka-nerka apa yang ada di benak Ibu ketika menatapnya, ia urung. Ia membiarkan ketidaktahuan menyelimuti dirinya sekali lagi. Ia tetap diam, tidak berusaha bicara. Sebab ia memang tidak ingin bicara. Ia hanya ingin pulang. Dan kenapa pula ia tak kunjung merasa ada di rumah? Ia ingin pulang.

Nak Jagad mau mandi? tanya Ibu, suaranya memecah keheningan panjang yang mulai canggung itu. Kamu kelihatan capek sekali, lho, imbuhnya. Si laki-laki tersenyum tipis, tetapi tidak berusaha menampik. Ibu masuk ke dalam dan kembali dengan selembar handuk buat kekasihnya. Saya mandi dulu, kata sang kekasih, entah kepada siapa. Barangkali kepadanya, atau kepada Ibu, atau mungkin kepada dirinya sendiri.

Setelah laki-laki itu pergi, Ibu beringsut mendekat. Ia dapat mencium bau Ibu: perpaduan antara bumbu-bumbu dapur dan pewangi pakaian yang melekat pada bajunya sebagai sebuah kesatuan yang menenangkan dan sangat Ibu. Ia menatap teduh matanya, nyaman senyumnya. Ibu yang cantik, Ibu yang tutur katanya baik dan halus, Ibu yang mengajarinya ini-itu. Ibu yang sama dengan yang ia lihat pertama kali sewaktu ia dilahirkan, tetapi sekaligus Ibu yang tidak sama. Ibu yang lekat dengan rumah. Rumah yang dulu rumah, tapi sekarang, barangkali bukan.

“Ibu beli sofa baru?”

Itu adalah kata-katanya yang pertama sejak ia menginjakkan kakinya di rumah. Dari sekian ratus kata yang ada di benaknya, ia sengaja memilih satu yang paling penting. Sebab dalam kata-kata itu terkandung pertanyaan mengenai perubahan pada rumahnya, dan ia ingin tahu.

Ia ingin tahu kenapa rumah sekarang tak lagi terasa rumah.

Ibu mengangguk penuh rasa bangga. “Sedang ada potongan harga. Dari tujuh juta jadi dua juta! Bayangkan. Lumayan, ‘kan?”

Ah, Ibu, si perempuan mendesah dalam hati. Tidak pernah berubah.

***

Ada kehampaan yang tidak bisa diisi oleh kata-kata ketika si perempuan kembali memikirkan tentang rumah pada malam pertama ia tidur di rumahnya. Kekasihnya yang setia itu jelas terasa seperti rumah. Tapi bahkan laki-laki itu pun sadar bahwa rumah yang disediakannya tidak akan cukup bagi si perempuan.

Si perempuan sadar betul kalau kekasihnya sangat tulus, dan kebetulan ia sendiri adalah orang yang selalu menghargai ketulusan. Sebab ketulusan yang demikian tidak ia temukan di rumah yang sedang ia jejaki ini. Sebab rumah ini penuh dusta. Dalam telponnya dengan orang tuanya di mana ia mengaku rindu rumah, misalnya, niscaya itulah ia yang sedang mewujudkan dusta tersebut. Satu dari dusta-dusta yang menghuni rumah ini seperti hantu.

Kelak ia sadar bahwa ia memang tidak pernah merindukan rumah. Sebab rumah dan segala kenyamanannya hanya sebuah ilusi yang diciptakan otaknya yang kecil dan naif. Yang ia rindukan justru itu: kenaifan yang perlahan-lahan meranggas seiring berjalannya waktu. Gadis kecil di depan cermin yang kurus kerontang itu bukan lagi gadis kecil. Ia telah berubah menjadi seorang perempuan yang melihat dunia sebagaimana adanya, bukan sebagaimana mestinya.

Si perempuan memejamkan matanya dan memanjatkan doa-doa supaya Tuhan berkenan menariknya ke alam mimpi, tapi ketidaksadaran tak kunjung menghampirinya. Mendadak ia rindu kekasihnya, karena pada malam-malam di mana ia tidak bisa tidur, kekasihnya akan mengelus rambutnya, mencium tubuhnya, membisikkan kata-kata yang menjelma menjadi ninabobo yang menenangkan sampai akhirnya ia jatuh terlelap dengan damai. Tetapi laki-laki itu tidak di sini, sebab ini bukan rumahnya. Ini rumahnya. Penuh dusta, tapi rumahnya.

Dadanya tiba-tiba terasa sesak. Ia tahu ia telah habis kesabaran dan itu membuatnya ingin menjadi destruktif—ingin menghancurkan. Sebab dusta itu tidak seperti hantu-hantu di bangunan tua di ujung jalan yang bisa diusir oleh orang pintar; dusta itu melekat pada dinding-dinding rumah, pada lantai-lantai kayunya, pada perabot-perabotnya yang mahal. Dusta telah menjelma menjadi rumah itu sendiri dan oleh sebab itu ia mesti dihancurkan. Sampai luluh lantak.

Barangkali setelah itu ia akan jadi tunawisma. Ah, biarlah. Ia yakin ia tidak akan tak bahagia dengan menjadi tunawisma. Apa saja akan ia lakoni, yang penting semua serbatulus dan tidak ada dusta. Yang penting ia tidak mesti pulang ke rumah yang bukan rumah. Toh, ia menghargai ketulusan dalam segala bentuk. Tak apa jadi tunawisma, yang penting bukan dusta.

Setelah meneguhkan hati dan menghapus percik-percik keraguan dari relung jiwanya, ia bangkit dan berjalan dengan derap langkah yang kukuh. Ia tak pernah merasa seyakin ini seumur hidupnya: ia akan menghancurkan rumah dan jadi tunawisma. Sebab tunawisma berarti bebas dari belenggu dusta rumah yang bukan rumah. Dan sesungguhnya sebaik-baiknya sesuatu adalah yang nyata, yang bukan dusta. Sekalipun yang nyata hanyalah keluluhlantakkan.

Ditemukannya Bapak di teras, sedang merokok entah batang yang keberapa. Pria itu tampak ringkih, letih, dan tua. Matanya yang telah berusia lebih dari setengah abad itu begitu jauh dan rapuh, sejenak sempat membuatnya tak sampai hati menghancurkan rumah yang telah pria itu bangun dengan peluh dan pengorbanan. Tapi ia tahu, kebenaran harus ditegakkan sekalipun langit akan runtuh.

Maka dengan satu tarikan napas ia berkata: “Pak, istrimu tidur dengan pria lain.”

Selanjutnya semuanya menjadi samar-samar. Ia seperti melihat Bapak menangis tanpa suara dan itu membuat hatinya yang mati itu jadi sedikit iba. Barangkali Bapak berduka atas kematian rumah ini, tempat ia menambatkan jiwa raganya. Sementara Ibu lebih diam dari sebuah kota mati, barangkali—dan ia cukup yakin—dalam sanubarinya hidup sebuah perasaan bersalah yang betah. Mendadak semua meletakkan pengharapan pada seandainya, walaupun seandainya adalah kata yang paling keji.

Yang tidak samar-samar adalah ketika rumah yang semula dibalut dengan cat tembok warna krem itu kini dilalap api yang semerah darah. Masih ada bentuk, namun lama kelamaan semakin tidak ada. Lalu tidak ada lagi. Yang ada hanya sebuah petak kosong dan dingin, yang kelak jadi hunian baru hantu-hantu yang bermigrasi dari bangunan tua di ujung jalan.

Perempuan itu kini seorang tunawisma. Tetapi ia, seperti dugaannya semula, merasa tidak tak bahagia.

Total 1 Votes
0

Tell us how can we improve this post?

+ = Verify Human or Spambot ?

About The Author

No Comments on "Rumah dan Segala Sesuatu yang Membuatnya Bukan"

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *