(2/2) Filsafat dalam Kilauan Safir Biru

(2/2) Filsafat dalam Kilauan Safir Biru

←halaman sebelumnya


“Terus, apa masih ada lagi? Aku masih penasaran nih,” sambung Santi.

Aku melanjutkan, “Ketiga, semua batu-batuan memiliki proses pembentukan yang sangatlah panjang. Bebatuan tidak akan ada tanpa melewati proses chemical-physics yang kompleks. Sebagian batu terbentuk dari sedimentasi beberapa logam dan fosil makhluk hidup, sementara sebagian lain terbentuk karena perubahan struktural ekstrim yang kemudian digolongkan ke dalam batuan metamorf. Dan pastinya, seluruh jenis batuan terbentuk dalam kurun waktu ratusan hingga jutaan tahun!”

“Lalu apa hubungannya dengan manusia? Apa kamu mau bilang bahwa itu mirip seperti manusia yang terbentuk karena bercampurnya sperma dan sel telur?” tanya Santi.

“Lebih dari itu. Kita tidak hanya berhenti pada kelahiran manusia dari rahim ibu, namun kita dapat merenungkannya hingga pada titik kemunculan manusia!”

“Wah! Lanjutkan.”

“Sama seperti batu-batuan, manusia tidak tiba-tiba muncul di muka bumi. Manusia punya keluarga. Manusia modern yang kita kenal saat ini sebagai Homo sapiens adalah spesies terakhir dari genus Homo yang masih tersisa. Seluruh kerabat satu genus kita sudah punah, namun spesies kita tetap bertahan. Kerabat terdekat manusia yang masih bisa kita jumpai sekarang antara lain simpanse, gorila, dan orangutan. Manusia tercipta dari perjalanan panjang evolusi makhluk hidup di alam semesta. Bermula dari organisme bersel satu, kini manusia bertahta sebagai mamalia paling cerdas. Manusia tidak hanya mengambil apa yang ada di alam untuk kebutuhannya saja, namun ia juga ikut serta merubah alam! Kini, kita lihat saja menyempitnya hutan hujan tropis akibat ulah manusia, itulah indikator ‘keberhasilan’ manusia dalam menguasai muka bumi!”

Santi agak tercengang. Sepertinya ia agak kaget karena sebelumnya ia sering mendengar ceramah dari para pemuka agama bahwa manusia itu muncul seketika secara utuh lewat firman Tuhan. Namun, ia juga tak membantah karena ia pernah sesekali membaca teori kalau manusia berkerabat dekat dengan kera.

Aku sejenak minum jus jeruk buatan Santi sambil mencamil kue kering. Ia ke kamarnya sebentar untuk mengambil gitar. Tidak disangka rencana kami dari jauh-jauh hari untuk rekaman sedikit tertunda karena membahas filsafat. Toh, memang sudah sering kok kalau kita sering mengobrol berbagai hal secara random.

Santi yang tiba-tiba muncul kembali di ruang tamunya langsung bertanya dengan semangat: “Apa ada lagi? Aku masih betah untuk menyimak.”

“Ada satu hal lagi.”

“Ayo dilanjut!”

“Kali ini, aku ingin bertanya dulu padamu.”

“Tanya apa?” sahut Santi.

“Akankah batu-batuan itu akan hancur –termasuk juga berlian si batu permata terkuat itu?” tanyaku.

“Bisa. Kalau sudah hari kiamat. Di hari itu semuanya akan musnah, kan? Termasuk juga batu-batuan dan manusia?”

“Tepat.”

“Coba jelaskan,” sambung Santi.

“Hal terakhir yang bisa kita pelajari adalah keterbatasan. Baik batu-batuan maupun manusia sama-sama punya keterbatasan. Tiap bongkah bebatuan dapat bertahan hingga jutaan tahun, sementara tiap manusia biasanya bertahan kurang dari seratus tahun. Keduanya memiliki ‘jangka waktu’. Masing-masing pernah tidak ada, kemudian ada, dan kini sedang menuju ketiadaan.”

  • Foto: Ilustrasi langit dan bumi dalam irisan aurora/ancient-origins.net

“Sepertinya aku paham. Ayo, lanjutkan.”

“Setiap makhluk berawal dari ketiadaan, baik itu benda mati maupun makhluk hidup. Tiap-tiap makhluk itu juga punya ketergantungannya masing-masing. Semua hal memiliki keterkaitan satu sama lain, termasuk dalam hubungan sebab akibat. Dalam hal makanan misalnya, manusia butuh hewan dan hewan butuh tumbuhan. Berlian atau safir tidak akan mendapatkan keistimewaan tanpa penilaian manusia, sebaliknya manusia belum tentu bisa menciptakan peralatan pertama tanpa adanya material batuan. Setiap makhluk membutuhkan makhluk lain!”

Setiap makhluk membutuhkan makhluk lain,” ucap Santi memperhatikan kalimat tersebut karena teringat pelajaran di sekolah dulu.

“Jadi semua hal yang ada di dunia ini saling membutuhkan?” sambung Santi.

“Ya. Namun susunan ketergantungan sebab akibat itu tidak akan pernah ada tanpa adanya gantungan pertama.

“Coba jelaskan!”

A bergantung pada B, B bergantung pada C, dan seterusnya. Di beberapa hal bisa jadi terdapat siklus: hujan berasal awan yang berbahan dasar air laut yang sebelumnya sempat menjadi bagian dari hujan. Semua berjalan menurut hukum kausalitas. Lantas, apa jadinya kalau semua yang saling bergantung itu kehilangan tiang gantungan pertama yang menghadirkan semua hukum alam itu?”

“Semua akan runtuh! Meskipun ketergantungan ini dapat terjadi sampai tak terhingga, tanpa adanya tiang gantungan pertama, semua hal yang berketergantungan itu akan sirna. Dengan adanya tiang gantungan pertama itu, maka segala macam hubungan kausalitas di dunia ini bisa terjadi.”

“Tepat sekali! Dalam istilah Aristoteles, kita menyebut tiang itu sebagai sebab utama atau first cause. Ada sesuatu di balik hukum alam,” tegasku.

“Lalu kalau begitu, apa sebenarnya tiang gantungan pertama itu?

Dia adalah sesuatu yang mengadakan segala sesuatu. Karena tiap benda di alam semesta bersifat relatif dan fana, tentu Dia bersifat absolut dan abadi. Segala sesuatu di alam semesta dapat hancur karena memang tidak sempurna. Dan, adanya ketidaksempurnaan itu mensyaratkan sesuatu yang sempurna. Dia yang sempurna itu hadir sebagai ketunggalan yang menciptakan pluralisme di jagat raya! Dia hadir di atas alam semesta!”

“Jadi maksudmu Dia adalah Tuhan kita? Dia hadir di atas segala sesuatu di alam semesta, termasuk batu-batuan, tumbuhan, hewan, dan manusia?

Aku mengangguk menyetujui. Santi bilang kalau ia sedikit agak pusing namun sangat senang karena mendapat insight baru. Sekarang keadaan berbalik, aku yang bertanya kepada Santi tentang kesimpulan apa yang ia dapat.

Dengan segera ia menjawab, “Kita bisa belajar dari berbagai hal yang ada di muka bumi, dari hal yang paling sederhana hingga yang paling rumit. Begitu pula ketika kita mencoba memaknai kehadiran batu-batuan, tumbuhan, maupun hewan di sekitar kita. Dari batu-batuan, misalnya, kita bisa kembali merenungi keberadaan kita sebagai manusia: berkontemplasi soal kesadaran, keberagaman, asal usul, hingga keterbatasan manusia.”

“Kita hampir sama seperti batu-batuan: sama-sama mengambil sebagian ruang di alam semesta -yang mungkin kini sedang menjadi bahan tontonan Tuhan. Namun, sepertinya manusia menjadi aktor utama favorit-Nya. Sebab, manusia punya kemampuan paling istimewa bila dibandingkan dengan seluruh benda di jagat raya. Manusia punya jiwa yang sadar.

 

Bintang-bintang bertaburan di alam semesta

Jutaan organisme menghias satu planet kecilnya

Cuma manusia yang bisa menafsirkan dunia

Dan hanya Tuhan yang tahu kebenarannya.

 

Pengarang: Savero Aristia W.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Loading...