Persimpangan Para Penghayat Tuhan

Persimpangan Para Penghayat Tuhan

Sejarah peradaban kita mencatat bahwa pemikiran tentang Tuhan berkembang dari satu bentuk ke bentuk lain sesuai keadaan zamannya masing-masing. Cara menghayati Yang Ilahi ditempuh oleh umat manusia lewat cara yang berbeda-beda. Dari persimpangan para penghayat Tuhan ini, kita ditawarkan berbagai jalan dan diberi kesempatan untuk memilih jalan kita sendiri: jalan mana yang dapat menuntun kita untuk sampai kepada-Nya(?)

Sebelum sampai di persimpangan Socratic, aku bisa melihat seorang gadis menenteng buku-buku tebal beserta tas selempang di pundaknya dari kejauhan. Aku sudah menebak pasti itu Abel. Kami menamakan ‘markas rahasia’ ini sebagai persimpangan Socratic karena terinspirasi dari Athena yang pernah menjadi pusat pergumulan filsafat pada masa Yunani Kuno, terkhusus Socrates yang sering berbincang dengan warga setempat di sana. Kami bersepakat untuk menjadikan tempat ini sebagai lokasi terbaik untuk membicarakan persoalan-persoalan dunia. Di sini cukup sepi meskipun merupakan titik strategis bertemunya FH, FEB, dan Fisipol.

Abel berjanji akan membawa masalah baru untuk kami diskusikan. Namun, sepertinya dalam pertemuan kali ini ia tak ingin membahas soal musik klasik, lingkungan hidup, ataupun kucing-kucing yang menggemaskan. Hari ini, katanya, ia ingin membahas sesuatu yang jauh lebih penting.

Begitu aku tiba, Abel langsung melempar pernyataan, “Agama-agama adalah sungai-sungai, sementara Tuhan adalah samudranya.

Aku langsung menjawab, “Dari mana kamu mendapatkan kalimat itu?”

“Aku pernah mendengarnya dari seorang biksu. Aku pikir kata-kata itu penuh misteri. Menurutmu, mengapa harus ada begitu banyak sungai kalau pada akhirnya mereka semua menuju samudra yang sama?”

“Mungkinkah itu merepresentasikan banyaknya bentuk kepercayaan di dunia? Atau, mungkin itu berhubungan dengan berbagai cara penghayatan manusia soal Tuhan?” ungkapku.

“Ayo kita bahas!”

Nampaknya janji Abel untuk membahas hal yang sangat penting benar-benar ditepati. Hari ini ia membuka salah satu diskursus terpenting dalam sejarah umat manusia: sebuah diskursus tentang Tuhan.

Aku memulai, “Manusia selalu berusaha menjawab permasalahan-permasalahan hidup paling mendasar yang dialaminya. Ketika tidak dapat mendeskripsikan suatu kejadian, nenek moyang kita cenderung menyerahkan jawabannya pada hal-hal supranatural. Mereka percaya bahwa ada sesuatu yang bersifat adidaya di luar manusia.”

“Aku sepakat,” sambung Abel, “Nenek moyang kita lebih percaya pada mitos dalam menjawab segala macam fenomena. Hal ini disebabkan karena pada saat itu belum lahir filsafat maupun sains. Namun, adakah hubungan antara kepercayaan pada mitos-mitos itu dengan agama-agama yang masih hidup sekarang?”

Aku melihat tatapan antusias Abel. Sepertinya ia lebih cocok menjadi mahasiswi filsafat daripada menjadi mahasiswi hukum, sebab ia lebih tertarik mendiskusikan hal-hal seperti ini dibandingkan membahas isu hukum.

Aku melanjutkan, “Dapat dikatakan bahwa penghayatan manusia tentang Tuhan berkembang dari satu bentuk ke bentuk lain sesuai perkembangan zaman. Pertama, kita akan memulainya dari kepercayaan asli.

“Silakan dilanjut.”

“Di masa awal lahirnya pemikiran soal Tuhan, terdapat paham yang percaya bahwa kepala suku yang telah meninggal dunia masih ada untuk menjaga keluarga, kerabat, dan lingkungan masyarakatnya. Masyarakat yakin bahwa roh dari kepala suku beserta para leluhur ini masih melindungi mereka, sehingga mereka mulai memujanya. Di sini lahir paham animisme.”

Abel menjawab, “Aku pernah mendengar bahwa juga ada golongan lain yang memuja benda-benda pusaka yang dianggap sebagai hunian para roh-roh leluhur itu. Paham ini disebut dinamisme.”

“Betul,” kataku, “Seiring dengan penemuan roh manusia, juga ada orang yang mulai meyakini adanya roh non-manusia yang menempati alam. Mungkin dapat dikatakan roh ini adalah ‘hantu’ penghuni tempat-tempat yang dianggap keramat. Selain memuja roh leluhur, ada pula mereka yang mulai memuja makhluk halus lain.

Abel mengangguk setuju. Tangannya dengan sigap mulai mencatat. Sementara ini sepertinya belum ada perdebatan di antara kami, sehingga kami masih bisa meneruskan perbincangan tanpa perlu bersitegang.

“Ayo, lanjutkan!” kata Abel.

“Selanjutnya, nenek moyang kita meyakini bahwa kekuatan supranatural itu diwakili oleh sosok-sosok tersendiri. Di sini lahir politeisme. Lewat sejarah masa lampau, di berbagai belahan dunia kita mengenal bahwa sistem ini dianut oleh masyarakat Hindustan, Nordik, maupun Yunani.”

Ia menanggapi, “Mereka percaya pada banyak dewa-dewi yang memegang peranannya masing-masing. Itu seperti representasi manusia di dunia yang memiliki porsinya sendiri-sendiri. Selain itu, perwujudan dewa-dewi mereka juga nampak seperti etnik dalam masyarakatnya: ada yang menggambarkan dewa-dewinya berkulit terang, sementara yang lain menggambarkannya berkulit gelap.”

“Aku sependapat. Paham ini kemudian dalam perkembangannya melahirkan oligateisme, yakni paham yang mempercayai bahwa ada beberapa dewa yang berkedudukan lebih tinggi daripada dewa lainnya.”

“Trimurti! Aku teringat dengan penganut Hinduisme yang meletakkan Brahma, Wisnu, dan Siwa sebagai dewa utama.” sahut Abel.

“Ya, tepat sekali! Selanjutnya kita juga akan mengenal henoteisme. Pemeluk paham ini meyakini bahwa hanya ada satu dewa utama di antara dewa-dewi lainnya. Dalam Hinduisme, ada aliran yang menjadikan Brahma sebagai dewa utama.”

“Aku penasaran, bukankah Hinduisme meyakini bahwa mereka dan seluruh alam semesta, termasuk dewa-dewi, merupakan satu kesatuan?”

“Betul. Penghayatan yang demikian bisa kita sebut monisme.

Abel terlihat senang bisa mengobrol sejauh ini. Sepertinya ini menjadi topik favoritnya. Sekarang ia mulai menyandarkan diri ke tiang Gedung 5 yang bentuknya menyerupai tiang-tiang bangunan khas Yunani.

“Apakah selanjutnya kita akan membahas buddhisme?” tanya Abel.

“Kamu memang cenayang yang hebat! Sekarang, kupikir adalah giliranmu.”

“Buddhisme lahir sebagai antitesis Hinduisme. Dalam Buddhisme sudah tidak lagi dikenal konsep soal kasta maupun dewa-dewi. Pangeran Sidharta Gautama –yang menjadi Buddha (Sang Tercerahkan)– membawa ajaran ini. Buddha menganggap Yang Ilahi dihayati sebagai rahasia yang cukup dibiarkan saja, sementara di lain pihak ia menghendaki agar manusia melakukan apa yang bisa mereka lakukan demi pembebasannya dari belenggu nafsu-nafsu dunia.”

Aku rasa Abel cukup ahli dalam membahas Buddhisme. Ia lahir dalam lingkungan buddhis yang taat meskipun dirinya bukan pemeluk ajaran Buddha. Ia mengeluarkan salad buah dari tasnya. Rupanya inilah alasan mengapa ia menyuruhku membawa garpu dari rumah. Kami kembali melanjutkan.

“Aku rasa ada yang terlewat,” sahut Abel.

“Apa itu?” tanyaku.

“Kita belum bicara soal panteisme dengan jelas.”

“Sekarang masih giliranmu,” ujarku.

Ia melanjutkan, “Sang Ilahi berada dalam segala sesuatu dan segala sesuatu adalah Sang Ilahi. Alam semesta ini adalah Tuhan dan kita adalah bagian dari-Nya!”

Aku bertanya, “Lalu dari mana datangnya alam semesta?”

“Dari pemancaran zat tunggal. Realitas yang ada adalah satu, sementara pluralitas yang kita temui merupakan turunan dari ketunggalan itu. Ada kesatuan atas segala substansi.

“Luar biasa! Kita dapat menggolongkan cara penghayatan itu sebagai monisme juga.

“Kita juga belum membahas soal dualisme.” lanjut Abel.

“Ayo, teruskan.”

“Terdapat dua realitas keilahian di dunia,” sambungnya, “Pemaknaan dua realitas itu di satu pihak bisa bersifat harmonis, seperti Yin dan Yang dalam kepercayaan Tionghoa, Dewa Seth dan Dewa Horus dalam kepercayaan Mesir Kuno, serta Dewa Apsû dan Dewi Tiamat dalam kepercayaan Babilonia Kuno. Sementara itu, di pihak lain, dua realitas itu dimaknai saling berhadapan dalam sebuah konflik antara satu dengan lainnya. Prinsip dua realitas yang saling berlawanan satu sama lain ini dapat kita temukan dalam ajaran Zoroaster, Parsi, maupun Persia kuno.”

Aku takjub dengan penjelasan Abel. Ia memang sangat pintar dan andal dalam menjabarkan sesuatu. Aku memberikannya minuman karena sepertinya ia cukup haus. Kami bersiap-siap meneruskan.

“Aku yakin pasti selanjutnya adalah yang terakhir. Tentunya yang satu ini adalah bagianmu. Aku akan menyimak.” ujar Abel.

“Selanjutnya kita akan membahas monoteisme. Di sini kita akan mengacu pada agama-agama Abrahamic.” jawabku.

“Lanjutkan.”

“Agama-agama samawi yang kita kenal seperti Yahudi, Kristen, dan Islam mempunyai kesamaan satu sama lain. Kesamaan ini setidaknya termuat dalam satu hal: Dia adalah Tuhan satu-satunya. Dia berada di atas dunia –Dia bersifat transenden.

“Selain itu, di tahapan ini sudah terjadi sekularisasi, yakni pemisahan antara dunia beserta hukum alamnya dengan Tuhan beserta keilahian-Nya”  sahut Abel.

Kami sudah membahas banyak hal, namun nampaknya Abel masih bersemangat untuk melanjutkan. Ia sekarang mulai menatap langit sore yang kini sudah mulai mendung. Tapi, sepertinya ia tidak mau buru-buru untuk segera pulang.

Aku mencoba meneruskan. Aku katakan bahwa pada dasarnya kita dapat menarik kesimpulan bahwa setidaknya ada tiga bentuk penghayatan tentang keilahian. Abel kembali menyimak.

Aku melanjutkan, “Tiga bentuk penghayatan tersebut ialah monisme, dualisme, dan paham ketuhanan transenden.”

“Biar aku teruskan,” sahutnya, “Dalam penghayatan monisme, Sang Ilahi menyatu dengan alam semesta. Sementara itu, dalam penghayatan dualisme, Sang Ilahi digambarkan sebagai dua realitas yang berbeda, baik yang saling memberi harmoni maupun saling berlawanan. Kemudian, paham ketuhanan transenden menyimpulkan bahwa Sang Ilahi itu bertahta di atas dunia.”

Bravo!” jawabku.

Abel kembali bertanya, “Apakah masih ada perbedaan mendetail antara masing-masing penghayatan itu?”

“Agar lebih sederhana, kita dapat melakukan kategorisasi menurut letak geografis. Di sebelah timur Sungai Indus terdapat monisme dan dualisme keselarasan. Sementara itu, di sebelah barat Sungai Indus terdapat paham ketuhanan transenden dan dualisme perlawanan. Namun, untuk mempermudah pembahasan lebih lanjut, sementara kita kesampingkan kedua jenis dualisme ini dan cukup kita lawankan antara monisme dengan paham ketuhanan transenden.”

“Baiklah. Aku setuju. Berarti kita akan membaginya dalam dua pihak.” tegas Abel.

Hujan kini mulai mengguyur dan angin kencang mulai bertiup. Aku yang kebetulan memakai jaket pers berbahan tebal segera meminjamkannya pada Abel, sebab ia baru saja sembuh dari demamnya beberapa hari lalu. Tentu aku tidak tega membiarkannya kedinginan. Sekarang ia kembali menuntut kelanjutan.

Pertama, dalam penghayatan monisme terdapat imanensi. Tuhan tidak terpisah dari dunia, melainkan ia menyatu dengannya. Di sini keduanya tidak bisa dipisahkan satu sama lain. Hal ini berbeda dengan transendensi yang sering kita temukan dalam agama-agama Abrahamistik dimana Tuhan terpisah dan berdiri di atas dunia,” sambungku.

“Menarik!” sahut Abel.

Kedua, dalam penghayatan monisme, alam semesta merupakan hasil penguraian diri atau emanasi Sang Ilahi. Hal ini berbeda dengan paham transenden yang meyakini bahwa jagat raya hadir sebagai hasil penciptaan Sang Ilahi.”

“Lalu bagaimana asal muasal dunia bagi penghayat dualisme?”

“Mereka mengandaikan bahwa dunia ini sudah ada dari awal dan kemudian menjadi tempat bertemunya dua realitas keilahian tersebut.”

“Lanjutkan lagi!” sambung Abel.

Terakhir, dalam penghayatan monisme, Sang Pencipta digambarkan impersonal. Dia tidak digambarkan sebagai sosok tertentu. Hal ini jauh berbeda dengan agama-agama Abrahamistik yang berpaham transenden dimana memahami Sang Pencipta secara personal. Dia dianggap sebagai sosok tersendiri: Yahwe atau Allah.”

“Wah! Untuk yang terakhir ini aku sangat menaruh perhatian,” lanjut Abel, “Dalam monisme, ketuhanan digambarkan sebagai kekuatan adiduniawi. Ia tidak digambarkan sebagai sosok tertentu. Dengan demikian, maka tak heran apabila penganutnya percaya bahwa tidak ada lagi eksistensi personal sesudah kematian, sebab semua telah melebur dan menyatu dengan alam semesta, atau dengan kata lain kembali bersama-Nya. Sementara itu, dalam paham ketuhanan transenden, Tuhan hadir berhadapan dengan ciptaannya yang masing-masing memiliki eksistensi personal.”

“Aku rasa kamulah pakarnya!” tuturku.

Abel tertawa. Ia kelihatan senang karena bisa membahas berbagai perkembangan pemikiran ketuhanan, termasuk pola-pola penghayatan yang terdapat di dalamnya. Karena hujan telah reda, kami mulai berjalan kaki sambil menuju arah pulang. Di sela-sela perjalanan sebelum kami berpisah, ia kembali membuka obrolan.

“Jadi, kembali ke pernyataanku di awal, apakah menurutmu seluruh sungai-sungai itu dapat membawa kita semua menuju samudra?” tanya Abel sambil menatapku.

“Meskipun terdapat banyak sungai yang berbeda-beda, bagiku hanya akan tersisa satu sungai yang berhasil menuju samudra, sementara yang lainnya akan tetap terus berputar-putar dalam benua. Sebab, kebenaran hakiki tetaplah satu.”

“Bagaimana jika aku membuat agamaku sendiri? Apakah aku akan tetap menuju Dia?”

“Apabila orang-orang dapat menciptakan sungainya sendiri sesuka hati, kurasa mereka akan semena-mena dalam mencari jalan menuju Tuhan. Mereka akan berselisih satu sama lain atas nama agama ciptaannya masing-masing. Namun, di persimpangan para penghayat Tuhan ini, aku  menyerahkan keputusan itu pada setiap orang selama mereka bisa mempertanggungjawabkan pilihannya. Tiap orang bebas menentukan sungai mana yang sesuai dengan keyakinannya, bahkan ia boleh menganggap dirinya sebagai samudra itu sendiri.”

Sulit bagi kita memahami dunia

Dan lebih sulit lagi memahami Tuhan

Tapi, sudahkah kita mencoba memahami manusia?

Dan sudahkah kita menentukan jalan?

Dalam penulisan karangan ini, Pengarang berhutang besar pada karya-karya Romo Franz Magnis-Suseno, diskusi intim bersama teman-teman karib, serta catatan materi kuliah milik kawan dari Fakultas Filsafat.

Pengarang: Savero Aristia W. 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Loading...