Anak Cino: Pencarian Jati Diri Keluarga Cina di Pedesaan Jawa, Kisah Klasik Keturunan Cina di Indonesia

Anak Cino: Pencarian Jati Diri Keluarga Cina di Pedesaan Jawa, Kisah Klasik Keturunan Cina di Indonesia

Judul: Anak Cino: Pencarian Jati Diri Keluarga Cina di Pedesaan Jawa

Penulis: Handoko Widagdo

Penerbit: Gramedia Pustaka Utama

Tanggal Terbit: 9 Januari 2017

Jumlah Halaman: 195 halaman

Sejak dulu, persoalan hubungan antar etnis antara masyarakat “asli” Indonesia dengan etnik Cina selalu menjadi hal yang menarik untuk didiskusikan. Stereotip orang Cina sebagai makhluk ekonomi yang serakah dan tidak peduli dengan kemajuan bangsa masih subur menghinggapi pikiran banyak orang dari dulu hingga kini. Handoko Widagdo, mencoba mengupas persoalan ini dari sisi yang lebih ‘humanis’ ketimbang berfokus kepada masalah ekonomi-politik dengan mengangkat kisah kehidupan keluarganya sendiri ke dalam sebuah buku.

Handoko menulis buku ini dari sudut pandang keluarganya sebagai etnis minoritas yang hidup di wilayah pedesaan. Ia menyadari bahwa keluarganya bukan orang yang penting dan menjadi aktor penting dalam sejarah. Namun, ceritanya memberi warna sejarah besar di era pasca kemerdekaan hingga Orde Baru dari sudut pandang etnis Cina. Handoko menceritakan sejarah keluarganya mulai dari latar tempat tinggalnya hingga kebijakan-kebijakan di era Orde Baru yang mewarnai kehidupan keluarganya.

Kisah dari buku ini dimulai dari Desa Kradenan, desa tempat Handoko dilahirkan. Desa yang terletak di Kabupaten Grobogan ini merupakan desa yang miskin dan gersang. Masyarakat desa ini pernah terlibat menjadi anggota PKI, yang menjadikan desa ini menjadi desa yang terpinggirkan di era Orde Baru. Handoko terlahir sebagai etnis Cina satu satunya yang berada di desa itu. Ketika PKI dan ideologinya mulai merebak di Indonesia, Desa Kradenan menjadi salah satu basis PKI yang kuat di Kabupaten Grobogan. Kondisi demikian mungkin disebabkan karena alam gersang dan penduduk yang miskin. Oleh sebab itu, ketika terjadi peristiwa ‘pembersihan’ PKI pada medio 1965, desa ini menjadi sasaran utama operasi. Operasi pertama dilakukan pada akhir 1965 sampai 1966. Operasi kedua, yang dikenal dengan ‘operasi kikis’ dilakukan pada 1968-1969. Penangkapan dilakukan secara membabi buta, siapapun yang dicurigai sebagai anggota PKI akan diciduk.

Tersebutlah seseorang bernama Kwee Ngo Hap, kakak sulung dari ibu penulis, yang merupakan salah seorang anggota PKI dan menjadi agitator desa. Ku Hap, begitu nama ringkasnya, sering berpidato dalam pertemuan-pertemuan desa. Ku Hap ditangkap oleh tentara pada saat dia pulang dari Kuwu. Suatu saat dia dibawa ke lasa ijo yang terletak di desa tetangga. Di sana sudah disiapkan lubang kubur besar. Mengetahui hal itu, Ku Hap melarikan diri dan naik ke tonggak jati seraya berteriak, “Hidup PKI! Hidup PKI!” lalu dibalas dengan berondongan tembakan oleh tentara.

Pada tahun 1959 Pemerintah mengeluarkan PP No.20/1959 yang mengatur tentang keturunan Cina untuk memilih kewarganegaraan. PP ini dikeluarkan karena klaim Republik Rakyat Tiongkok (RRT) yang menyatakan bahwa keturunan Cina di perantauan adalah warga negara Tiongkok. Untuk menghindari kekacauan, warga keturunan Cina diberi waktu untuk memilih kewarganegaraan. Handoko dan keluarganya mengurus Surat Bukti Kewarganegaraan Republik Indonesia (SBKRI) pada akhir 1970-an. Pada 27 Desember 1966, muncul Keputusan Presidium Kabinet Ampera No. 127/U/Kep-12/1966 yang memuat tentang peraturan ganti nama bagi warga negara yang memakai nama Cina. Handoko yang bernama asli Khoe Kiem Hiat merubah namanya menjadi Handoko Widagdo, begitu juga dengan seluruh anggota keluarganya. Meskipun tidak ada paksaan berganti nama, pada pelaksanaannya hampir seluruh keturunan Cina “harus” mengganti nama.

Handoko turut menceritakan perihal program pemerintah bernama Lotere Totalisator (LOTTO) yang dikeluarkan pada 1968. LOTTO merupakan program perjudian resmi yang dikelola pemerintah yang dananya digunakan untuk pelaksanaan PON VII di Surabaya. Penduduk desa menjadi ramai akan hal ini, setiap pagi para pemenang taruhan akan datang ke rumah Handoko untuk mengambil uangnya. Penduduk desa juga sering berkumpul untuk berdiskusi dan memilih angka untuk dipasang, mereka juga sibuk membuka buku 1000 tafsir mimpi untuk mencocokkan mimpi yang didapatnya dengan nomor yang tertera pada jenis mimpi tersebut. Kehidupan perjudian resmi sangat hidup di jaman itu,  LOTTO, TOTO, KONI, SDSB, PORKAS, KSOB, Gawe Rejo, Greyhound adalah program perjudian resmi yang merebak di zaman itu.

Kehidupan masyarakat di era 60-an yang digambarkan oleh Handoko dilihat dari kacamata masyarakat desa secara jujur dan terbuka. Ia bercerita tentang kesenian dan hiburan yang digemari masyarakat saat itu, yaitu ketoprak, wayang kulit, serta tayuban. Tayuban adalah tarian yang dilakukan dua orang lawan jenis dan diperbolehkan bersentuhan dan berciuman di muka umum. Tayub yang berkembang di desanya merupakan tayub bebas dimana kegiatan tayuban masih diiringi dengan kegiatan minum arak sampai mabuk. Transformasi tayub menjadi lebih sopan pada kisaran tahun 1987. Ketika bercerita tentang tayuban, Handoko membawakannya secara jujur memandang kehidupan masyarakat di desanya yang barangkali terdengar tabu bagi masyarakat modern saat ini.

Handoko, meskipun berbeda etnis dengan kebanyakan orang di daerahnya, tetap menjalin hubungan baik dengan masyarakat sekitar. Melalui narasi-narasi kecil ia bercerita mengenai kisahnya masuk TK Islam, belajar dan bermain bersama anak pribumi lainnya, kisah ayahnya yang menjadi pemilik toko, hingga kisah saat dirinya mengalami perundungan sewaktu sekolah dasar karena berbeda etnis dengan lainnya. Termasuk berbagai kebijakan pemerintah di era orde baru yang ia singgung dari kacamata masyarakat desa di jaman itu.

Handoko kemudian menceritakan kisah hidupnya sebagai peranakan etnis Cina yang secara tidak biasa hidup di permukiman desa terpencil di Kabupaten Grobogan. Kisah hidupnya tak selalu mulus. Ayahnya yang seorang pemilik toko pernah mengalami masa kejayaan hingga fase terpuruk ketika ayahnya masuk penjara karena menjadi agen judi tidak resmi. Handoko juga turut menceritakan kisah ketika ketika ayahnya harus menjual rumah untuk kebutuhan sekolahnya. Handoko berulang kali menembus stereotip etnis Cina pada saat itu, menjadi mahasiswa pertanian hingga menjadi peneliti.

Buku ini memang bukan ditulis oleh orang penting, tokoh di dalamnya pun bukan merupakan aktor penting dalam sejarah bangsa ini. Namun melalui narasi-narasi kecil dalam buku ini kita bisa lebih mengerti dampak peristiwa besar di tingkat nasional dari sudut pandang masyarakat biasa. Stereotip klasik berbau negatif tentang etnis cina berusaha dikupas dalam buku ini. Buku ini menarik bagi pembaca yang ingin memperoleh sudut pandang baru mengenai etnis Cina, termasuk sudut pandang mengenai era 1960-an dari kacamata masyarakat desa termasuk kebijakan pemerintahnya secara ringan dan jujur.

Penulis: Riski Hafiz
Editor: Afnan Karenina Gandhi
Sumber foto: Istimewa

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Loading...